Discovery Updates :
RSS Update

Perintis Keterbatasan Hanandjoeddin

Aksi para perwira TNI AU dari "Bumi Sebalai". Mengisi kemerdekaan dengan membangun kampung halamannya dari ketertinggalan.

Bupati Belitung periode 1967-1972 Letkol (Pas) H. AS. Hanandjoeddin

Merantau, berjuang, serta kembali buat membangun kampung taman. Letkol( Cocok) H. AS. Hanandjoeddin melewati seluruh fase kehidupan itu beserta seluruh keterbatasan yang menyertainya. Toh itu seluruh dikira tantangan yang lalu menempa ketangguhan wujud yang namanya diabadikan buat pangkalan hawa serta lapangan terbang di Tanjungpandan, Kabupaten Belitung itu.

Semenjak 2018, Hanandjoeddin terus diajukan buat jadi pahlawan nasional dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung( Kep. Babel). Seminar nasional luring serta daring berjudul“ H. AS. Hanandjoeddin: Pejuang Tangguh di Masa Perang serta Damai” yang dihelat Regu Periset serta Pengkaji Gelar Wilayah( TP2GD) Kabupaten Belitung Timur di Auditorium Zahari MZ, Belitung Timur, Kamis( 17/ 2/ 2022) jadi salah satu langkah konkretnya.

“ Jadi memanglah beberapa aktivitas akademik aku kira telah dicoba. Kita sebaiknya dalam persyaratan universal ataupun spesial buat pengajuan pahlawan nasional, betul- betul kita memenuhi, betul- betul hasil seminar, tulisan- tulisan akademiknya yang diakui,” ucap tokoh Belitung cum ahli hukum tata negeri Profesor. Dokter. Yusril Ihza Mahendra.

Untuk warga di luar Kepulauan Bangka- Belitung, nama Hanandjoeddin bisa jadi masih asing. Tetapi walaupun gaung namanya tidak sekencang Suryadi Suryadharma, Agustinus Adisutjipto, Halim Perdanakusuma, ataupun Abdurrahman Saleh, bukan berarti nama Hanandjoeddin tidak dapat diajukan jadi pahlawan nasional.

“ Memanglah terdapat sebagian orang yang tidak kita tahu secara luas siapa ia serta jejaknya tetapi setelah itu dikukuhkan selaku pahlawan nasional. Contoh, Nani Wartabone dari Gorontalo. Itu dikukuhkan jadi pahlawan nasional sebab kedudukannya sesungguhnya di wilayah, walaupun terdapat pula sedikit kedudukannya di nasional. Sempat jadi anggota MPRS, sempat jadi anggota DPA,” lanjutnya.

Bagi sejarawan Universitas Gadjah Mada( UGM) Profesor. Dokter. Bambang Purwanto, wujud Hanandjoeddin ialah“ orang biasa” dengan pengaruh yang“ tidak biasa” di masa Perang Kemerdekaan.

“ Hanandjoeddin merupakan representasi‘ orang biasa’ dalam sejarah Indonesia. Dia tidak cuma representasi ketokohan yang berasal dari Belitung yang memiliki kedudukan kunci dalam membangun kekuatan Angkatan Hawa Republik Indonesia serta mempertahankan kemerdekaan. Dia representasi dari para mekanik yang berpusat di Malang dalam proses perjuangan. Dalam konteks ini Belitung sudah menyumbangkan anak negerinya selaku satu dari sedikit figur yang berjuang secara intens di luar ruang tradisional serta primordialnya,” sebut Bambang.

Dari Belitung Kembali ke Belitung

Hanandjoeddin yang lahir di Tanjungtikar pada 5 Agustus 1910 ialah buah hati pendamping Djoeddin serta Selamah. Berasal dari keluarga“ urang darat” tidak terletak, Hanandjoeddin cuma dapat mengenyam pembelajaran agama serta Sekolah Rakyat sehabis dijadikan anak angkat Haji Hasyim, kenalan ibu dan bapaknya di Kampung Aik Sagak, Tanjungpandan.

Pada 1931, dia melanjutkan pendidikannya sampai ke Ambacht School/ Cursus( AC, saat ini Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) Stannia) di Manggar. Dia mengambil jurusan aplikasi warturigkunde ataupun ilmu mesin.

AC di masa 1930- an ialah satu dari sedikit sekolah metode yang dibentuk Belanda di koloninya. Sekolah sejenis cuma terdapat di Batavia( saat ini Jakarta) serta Surabaya. AC Manggar didirikan pada 1928 buat menghasilkan tenaga kerja yang jadi kebutuhan pembangkit listrik tenaga diesel Electrische Centrale( EC) serta pertambangan timah NV Gemeenschappelijke Minjbouwmaatschappij( GMB).

Di GMB inilah setelah itu Hanandjoeddin berkarier selaku montir mesin pertambangan. Dia setelah itu pindah ke industri tambang bauksit di Pulau Bintan, Naamloze Venootschap Indische Bauxit Exploitatie Maatschappij( NV NIBEM), saat sebelum merantau ke Malang di era pendudukan Jepang.

“ Pak Hanandjoeddin bisa dikategorikan selaku tokoh yang ikut serta dalam perang kemerdekaan sehabis dia memperoleh pembelajaran di Ambacht School di Manggar. Setelah itu merantau ke Pulau Jawa di masa kemerdekaan, ikut serta dalam aktivitas militer serta pertempuran di bermacam daerah. Sempat jadi( kombatan) angkatan darat, sempat pula jadi( mekanik) angkatan hawa sampai akhir kariernya selaku militer,” sambung Yusril.

Bagi Haril Meter. Andersen dalam Si Elang: Serangkai Cerita Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI, keahlian Hanandjoeddin dalam bidang metode mesin buatnya senantiasa dapat berkarier di era pendudukan Jepang. Di sinilah karier kemiliterannya bermula, dia bergabung jadi montir pesawat di satuan Ozawa Butai yang berbasis di Pangkalan Hawa Bugis( saat ini Lanud Abdulrahman Saleh), Malang.

Merambah era kemerdekaan, Hanandjoeddin dipercaya selaku kepala Bagian Metode Tentara Keamanan Rakyat Oedara( TKRO) Lanud Bugis. Dikala itu Lanud Bugis serta kesatuannya masih terletak di dasar TKR Divisi VIII/ Untung Surapati pimpinan Jenderal Mayor Imam Soedja’ i.

Menyandang pangkat letnan satu( lettu), Hanandjoeddin serta anak buahnya tidak cuma bertugas membetulkan sekira 30 unit pesawat sisa Jepang tetapi pula turut pembelajaran tempur supaya siap dikirim ke front Surabaya serta sekitarnya. Baru pada April 1946 bersamaan pergantian status kepemilikan lanud dari Divisi VIII ke TKR Djawatan Hawa, Hanandjoeddin berubah pangkat jadi Opsir Muda Hawa( OMU) III.

Saat sebelum Agresi Militer I( Juli 1947), Hanandjoeddin serta anak buahnya jadi salah satu tulang punggung angkatan hawa. Merekalah penyedia pesawat. Kesatuan angkatan hawa dari Lanud Panasan( saat ini Lanud Adi Soemarmo) sampai Lanud Maguwo( saat ini Lanud Adisutjipto) menemukan banyak dorongan pesawat buat para kadet serta penerbangnya dari Lanud Bugis.

“ Bengkel Lanud Bugis di mana Hanandjoeddin bertugas ialah pusat utama penyedia kebutuhan pesawat baik buat pembedahan militer ataupun buat kemanusiaan, serta pelatihan untuk kepentingan republik. Para mekanik yang terampil walaupun dalam jumlah yang sangat terbatas, sanggup mengkondisikan pesawat- pesawat aset Jepang yang tadinya telah tidak bisa lagi dipergunakan,” sambung Bambang.

Dikala Agresi Militer II, Hanandjoeddin serta pasukannya terpaksa menyingkir. Mereka bergerilya hingga ke Malang Timur serta Trenggalek, di mana Hanandjoeddin mengetuai Pasukan Pangkalan Hawa( PPU) III/ 930. Usai revolusi kemerdekaan, Hanandjoeddin senantiasa mengabdi di Pasukan Pangkalan AURI. Tempat penugasannya berpindah- pindah, mulai dari Lanud Morokrembangan( Surabaya, saat ini Lapangan terbang Djuanda), Lanud Kalijati( Subang, Lanud Suryadarma), Lanud Husein Sastranegara( Bandung), Lanud Mandai( Makassar, Lanud Sultan Hasanudin), Lanud Palembang( Lanud Sri Mulyono Herlambang), sampai kembali ke Lanud Bugis hingga pensiun dengan pangkat mayor pada 1967. Dia kemudian kembali kampung ke“ Bumi Serumpun Sebalai”.

Kepulangan Hanandjoeddin dilatarbelakangi ketidakpuasan beberapa tokoh Belitung pada kepemimpinan Bupati Wahab Adjis. Para tokoh itu kemudian mengadu ke DPRD Gotong Royong Kabupaten Belitung supaya mencari pengganti pemimpin dari golongan putra wilayah. Aspirasi mereka ditampung, Hanandjoeddin setelah itu dipanggil.

“ Pada 1965 keadaan ekonomi rakyat Belitong lagi terpuruk. Tidak banyak kemajuan pembangunan. Keadaan infrastruktur wilayah banyak rusak. Fasilitas pembelajaran masih sedikit. Kebutuhan pangan rakyat paling utama stok beras di wilayah lagi krisis,” tulis Haril Meter. Andersen serta Bambang Sutrisno dalam Penuhi Panggilan Rakyat: Kiprah Kenangan Wujud Bupati H. AS. Hanandjoeddin.

Hanandjoeddin juga menanggapi“ panggilan” itu. Dia berkenan pensiun dari AURI buat mengabdi di tanah kelahirannya. Dia terpilih selaku bupati Belitung periode 1967- 1972 secara aklamasi.

“ Pengalaman serta nilai- nilai perjuangan tanpa kehabisan jati diri selaku anak negara Belitung yang menempel pada Hanandjoeddin, muncul selaku prinsip bawah yang berkepanjangan kala mengabdi selaku bupati. Berperan selaku perintis di tengah seluruh keterbatasan yang dijalani dengan penuh pengorbanan semasa perjuangan di Malang serta sekitarnya, kembali kesekian di Belitung,” tambah Bambang.

Bagi budayawan cum sejarawan Bangka- Belitung Dato’ Akhmad Elvian, Hanandjoeddin sukses menanggulangi beberapa krisis dengan cara- cara yang merakyat. Itu pantas dijadikan teladan yang masih relevan di masa saat ini, tidak cuma buat para kepala wilayah di Babel tetapi pula seantero negara.

“ Satu nilai berarti yang bisa dijadikan contoh dalam konteks nasional merupakan gimana ia jadi pemimpin yang merakyat. Itu masih sangat sedikit. Jika pemimpin yang membangun pencitraan banyak. Pepatah Belanda kuno menyebut:‘ Leiden is Lijden,’ mengetuai merupakan mengidap. Itu disandang oleh Hanandjoeddin,” ucap Elvian.

Perilaku merakyat Hanandjoeddin itu, lanjut Elvian, dapat dilihat dari seringnya dia blusukan menemui para tokoh adat buat meresap aspirasi rakyat di pedalaman ataupun di pesisir. Kegiatan itu lebih kerap dilakoni Hanandjoeddin dengan berjalan kaki ataupun mengayuh sepeda dibanding dengan mobil dinasnya. Perihal itu buatnya dijuluki“ Pak Long” oleh warga.

“ Ia terkenal dengan sebutan‘ Pak Long’. Maksudnya ayah yang sulung ataupun ayah tertua yang senantiasa membantu. Siapa yang ditolong? Ya rakyatnya,” sambung wujud yang pula berprofesi pimpinan Regu Pakar Cagar Budaya Pemerintah Kota Pangkalpinang serta sekretaris DPRD Kota Pangkalpinang tersebut.

Tidak hanya berangkat ke kampung- kampung menemui tokoh adat, Hanandjoeddin pula kerap jadi khatib Salat Jumat di perkampungan. Dia acapkali menginap di rumah rakyat dikala blusukan buat memandang langsung keadaan rakyatnya.

“ Satu lagi kala menanggulangi krisis pangan, dia tidak pinjam uang ke mana- mana. Dia berupaya mengatasinya dengan keahlian sendiri buat menggunakan kemampuan lokal. Dia menyarankan pegawai- pegawainya buat secara aktif berladang buat menanggulangi krisis itu. Siapapun dapat jadi pemimpin jika cuma menghabiskan duit APBD. Tetapi gimana pemimpin itu mestinya menggali kemampuan lokal buat diberdayakan sehingga warga jadi kokoh serta mandiri serta ini dicontohkan oleh dia,” tandas Elvian.

Upaya Pengajuan Gelar Pahlawan

Kiprah- kiprah Hanandjoeddin seperti itu yang mendesak warga Babel mengajukan namanya jadi pahlawan nasional dari Provinsi Babel. Inisiasi itu berangkat dari hasil wawancara langsung dengan Hanandjoeddin serta studi tentang kiprahnya oleh Haril pada 1994, setahun saat sebelum Hanandjoeddin meninggal di Tanjungpandan pada 5 Februari 1995 serta dikebumikan di Halaman Makam Pahlawan Ksatria Tumbang Ubah, Tanjungpandan.

“ Dahulu sesungguhnya aku wawancara dia buat( postingan) di majalah SMB ataupun Suara Warga Belitung di Jakarta. Aku mulanya enggak terdapat hasrat apa- apa, cuma mau bangga memiliki pahlawan dari Belitung ini,” tutur Haril.

Pada dikala bedah bukunya di Pangkalpinang pada 2 November 2015, salah seseorang panelis, Toni Batubara( Pimpinan FKPPI Kabupaten Belitung), melontarkan gagasan perlunya pengusulan gelar pahlawan nasional. Haril juga mengkomunikasikannya dengan beberapa organisasi guru sampai pemuda. Sehabis memperoleh SK Bupati Belitung Timur pada 23 Januari 2017, dibentuklah TP2GD Belitung Timur. Seluruh persyaratan lalu diserahkan kepada TP2GD Provinsi Babel.

Pada 2018, TP2GD kebetulan pula lagi memperjuangkan Depati Amir buat jadi pahlawan nasional. Hingga kedua nama pejuang tadi diajukan bertepatan ke Departemen Sosial. Tetapi, hasilnya cuma Depati Amir yang ditetapkan jadi pahlawan nasional dari Provinsi Babel. Pengusulan Hanandjoeddin ditunda dengan catatan.

“ Terdapat 2 catatan yang wajib dilengkapi. Awal, terpaut dengan masa hidupnya mengisi kemerdekaan selaku bupati Belitung. Sebab pada waktu pengusulan 2018 belum sama sekali. Kedua, terpaut dengan hal- hal yang sifatnya monumental yang diabadikan dengan memakai nama jalur, misalnya. Pada dikala itu baru diabadikan jadi nama Lapangan terbang H. AS. Hanandjoeddin,” jelas Elvian.

Buat mengabadikan nama Hanandjoeddin jadi nama jalur, pemkab Belitung mengaku siap. Cuma saja, lokasinya masih diseleksi. Sebaliknya buat naskah akademik tentang kiprah Hanandjoeddin selaku bupati, pada September 2021 sudah diterbitkan novel Penuhi Panggilan Tugas yang disusun oleh Haril serta Bambang Sutrisno.

Dengan digelarnya seminar nasional, penerbitan biografi kedua, dan pengabadian nama Hanandjoeddin selaku nama jalur, diharapkan dapat penuhi seluruh persyaratan buat mengajukan Hanandjoeddin selaku pahlawan nasional tahun ini. Regu TP2GD Provinsi Babel mesti menyerahkan pengusulannya sangat lelet 31 Maret 2022.

“ Hanandjoeddin dalam ruang historiografi kepahlawanan di Indonesia diisyarati oleh kehadirannya selaku mekanik profesional serta senantiasa terdepan dalam penyediaan pesawat untuk republik. Dia pula sanggup mengimplementasikan pengalaman hidupnya selaku pemimpin perintis tanpa pamrih kala menemukan amanah selaku bupati. Bersumber pada paradigma historiografi yang baru bisa disimpulkan, Hanandjoeddin sangat berhak merepresentasikan Belitung dalam ruang kepahlawanan Indonesia sekalian merepresentasikan dirinya sendiri dalam ruang kepahlawanan nasional Indonesia selaku perwujudan jiwa kebangsaan yang berkepanjangan,” tandas Bambang. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama