Discovery Updates :
RSS Update

Sigale-gale, Boneka Roh dari Tanah Batak

Bisa menari dan menjadi pelipur lara. Kearifan lokal yang dibalut nuansa mistis terwujud dalam sosoknya.

Wajah Sigale gale.

Rupanya menyerupai manusia. Pada tubuh yang mematung itu dipakaikan busana orang dewasa sementara bahunya diselempangkan kain ulos. seolah-olah kosong. Namun, ketika alunan musik gondang berdentang, tubuhnya bergerak bak penari tortor yang piawai. Siapa saja yang melihatnya akan ikut ikut ikut menari. Ini sosok Sigale-gale, boneka kayu yang berada di Desa Tomok, Pulau Samosir, Sumatra Utara.

Namun, Anda tidak perlu takut terhadap Sigale-gale. Di belakang podium tempat Sigale-gale berdiri, ada seorang dalang yang mengendalikan gerakan Sigale-gale. Tarikan benang dalang yang tersembunyi itulah yang membuat Sigale-gale seolah menari sendiri.

Sigale-gale sendiri dalam bahasa Batak Toba berarti lemah gemulai. Legenda tentang Sigale-gale menurut perkiraan masyarakat Batak, seperti yang harus dilakukan oleh M. Saleh dalam Seni Patung Batak dan Nias, menyatakan bahwa kehadirannya bersamaan dengan seni topeng yang terdapat di daerah itu. Oleh karenanya, legenda Sigale-gale tidak ditemukan dalam hikayat-hikayat lama suku Batak Toba atupun pustaha Batak. Dari cerita rakyat yang turun-temurun, legenda Sigale mengakar bersama masyarakat Batak sebagai kearifan lokal.

Dikisahkan, Sigale-gale bernama asli Manggale, putra tunggal dari seorang raja. Suatu saat, Manggale terjatuh ketika melawan serangan seberang. Kematian Manggale menyebabkan dukacita yang mendalam bagi sang raja. Untuk menghidupkan kembali Manggale, seorang datu menyarankan raja untuk membuat patung yang menyerupai Manggale. Para pemahat terbaik di seantero kerajaan pun dikerahkan. Dengan kekuatan mantra para datu, patung Manggale itu bisa bergerak dan menari. Sang raja pun bungah kembali. Seluruh kerajaan mengadakan pesta tujuh hari menari bersama patung Manggale. Itulah legenda populer yang dituturkan pemandu wisata setempat bila kita berkunjung ke sana.

Patung Sengketa

Versi lain tentang kemunculan Sigale-gale sarat dengan nilai adat dan tradisi Batak yang menjunjung tinggi pentingnya keturunan. Tersebutlah seorang ahli patung tersohor bernama Datu Panggana. Suatu ketika, Datu Panggana berhasil membuat patung berwujud seorang anak gadis dari kayu yang dipahatnya di hutan. Saat Datu Panggana terkagum-kagum menyaksikan hasil ujian itu, datanglah pelaku bernama Bao Partiga-tiga melintasi hutan. Bao Partiga-tiga terkagum-kagum dengan patung buatan Datu Panggana. Atas izin Datu Panggana, Bao Partigatiga mendandani patung itu dengan pakaian dan perhiasan dagangannya.

Hari menjelang petang. Bao Partiga-tiga berusaha menanggalkan perhiasan dan pakaian yang menempel di tubuh patung. Usahanya kandas, pakaian dan perhiasan tidak bisa lepas. Bao Partiga-tiga lalu pulang ke kampungnya dengan hati yang tidak ikhlas. Begitupun dengan Datu Panggana yang terpaksa meninggalkan hutan. Dalam benaknya, patung itu akan digotong keesokan harinya dengan bantuan orang-orang sekampungnya. Namun, sebelum Datu Panggana tiba, pada pagi hari lewatlah seorang dukun tua bernama Datu Partaoar.

Seperti Bao Partigatiga, Datu Partoar juga seperti patung yang dilihatnya. Timbul niatan untuk menghidupkan patung tersebut. Dengan ramuan sakti sambil merapal mantra, Datu Partaoar membuat patung itu bergerak dan berlaku seperti manusia. Bukan main girangnya hati Datu Partaoar kerinduannya memiliki anak boru (putri) telah terpenuhi. Setibanya Datu Partaoar di rumah, kebahagiaan yang sama dirasakan sang istri pula. Pasangan suami-istri itu memberi nama si patung: Nai Manggale. Pada hari pasar dibuka, Nai Manggale memperkenalkan sebagai putri angkat Datu Partaoar. Setiap pasang mata terpana menyaksikan kecantikan Nai Partaoar yang pandai menari.

Berita tentang Nai Manggale tersiar kemana-mana, termasuk Datu Panggana dan Bao Partigatiga. Baik Datu Panggana, Bao Partiga, dan Datu Partaoar bersikukuh merasa memiliki Nai Manggale sebagai anak mereka. Ketiganya pun mengadukan permasalahan ini kepada raja. Namun, raja tidak kuasa memecahkan konflik kepemilikan tersebut. Raja menyarankan agar mereka mendatangi Aji Bahir-Bahir, sesepuh yang disegani karena kecerdasannya.

Setelah mengamati duduk perkara dengan seksama, Aji Bahir-Bahir memutuskan bahwa ketiganya memang layak menjadi keluarga Nai Manggale. Datu Partaoar menjadi ayahnya, Bao Partiga-tiga menjadi iboto (abang), dan Datu Panggana menjadi tulang (paman). Status kekerabatan tersebut akhirnya diteima dengan lapang dada oleh semua pihak yang bertikai. Dengan demikian, ketika Nai Manggale kemudian dipersunting oleh Datu Partiktik, Bao Partigatiga dan Datu Panggana berhak mendapat bagian atas sinamot (uang mahar pernikahan).

Tahun-tahun berlalu. Nai Manggale dan Datu Partitktik hidup berumahtangga tanpa dikaruniai seorang anak. kesepian membuat Nai Manggale jatuh sakit. Sebelum meninggal, Nai Manggale berwasiat agar pamannya Datu Panggana membuatkan patung anak laki-laki yang mirip dengan Nai Manggale. Lagi, Nai Manggale berpesan, Menatap patung itu diberi nama: Sigale-gale.

“Dan sejak itulah, patung Sigale-gale sebuah patung kematian. Patung yang dibuat bila meninggal tanpa meninggalkan keturunan," tulis Rayani Sriwidodo dalam Si Gale-Gale.

Pagelaran upacara Sigale-gale selalu diiringi dengan musik gondang dan tari tor-tor. Upacara seperti itu, menurut Kamus Budaya Batak Toba yang disusun M.A Marbun dan I.M.T. Hutapea, dinamai papurpur sapata. Seperti halnya ritual untuklak bala, upacara ini bertujuan agar keluarga atau kerabat yang ditinggalkan selalu menunggu keturunan, bukan seperti orang yang meninggal tersebut.

Dari Ritus ke Pertunjukan

Boneka Sigale-gale ada kalanya dibuat tanpa kepala. Kemudian, pada bagian kepala itu, ditempatkan ditempatkan orang yang meninggal. Muka patung dengan kuning telur matahari terbuat dari buah-buahan merah atau besi berbentuk mata. Raga patung yang dikenakan pakaian yang bagus dan berharga. Sementara itu, terbuat dari terbuat dari rambut kuda, lengkap dengan ikat kepala. Kepercayaan Batak kuno, terutama di sekitar Danau Toba, yakinkan roh seseorang dapat menitis ke dalam patung ini.

Pada masa akhirnya, ritual perhelatan Sigale-gale digelar bagai pesta rakyat yang megah. Biaya yang dikeluarkan terbilang besar. Penyelenggaranya, kata Dada Meuraxa dalam Sejarah Kebudayaan Suku-Suku di Sumatera Utara, harus dapat menjamin para keluarga dan undangan yang datang dari berbagai kampung.

Menurut kebiasaan di Toba, jika seorang meninggal tanpa keturunan harus dipertahankan kematian yang besar. Pada saat itulah diadakan tarian boneka Sigale-gale yang merupakan perwakilan dari orang yang meninggal. “Tujuannya mengganggu kehidupan yang malang di alam baka,” kata J.C. Vergouwen dalam Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba. Vergouwen merupakan ahli hukum adat kebangsaan Belanda yang pernah tercatat di Tapanuli pada 1927-1930

Namun, semenjak masuknya agama Kristen ke Tanah Batak, upacara Sigale-gale tidak lagi menjadi ritus yang dikultuskan. demikian, boneka Sigale-gale tidak akan hilang begitu saja. Kini, ia hanya menjadi sekedar pertunjukan hiburan yang mencerminkan budaya masyarakat Batak.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama