Discovery Updates :
RSS Update

Menghabisi Mata-mata

Revolusi memakan saudaranya sendiri. Banyak orang Indonesia yang dieksekusi karena dituduh sebagai mata-mata.

Poster waspada mata-mata Belanda buatan pejuang Indonesia.

Serangan Belanda dalam agresi militer II terhadap kota Yogyakarta membuat para tahanan kabur dari penjara Wirogunan. Salah satunya Mayor AK Joesoef, mantan komandan Batalyon 63 Divisi III Yogyakarta sekaligus kepala Tentara Penjagaan Kota. Dia seharusnya ditahan selama empat tahun karena menculik Perdana Menteri Sutan Syahrir. kemudian memutuskan pulang ke daerah asalnya, Purworejo.

Di Purworejo, Joesoef menghimpun kembali sisa-sisa pasukannya, Lasykar Bogowonto. Dengan kekuatan satu kompi dan kekuatan yang lumayan, perlawanan mereka terhadap gerilya melawan Belanda. Tapi bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI), mereka dianggap sebagai gerombolan pembohong. Awal Juli 1949, markas Lasykar Bogowonto dikepung. Joesoef menyerahkan diri. Atas perintah komandan TNI Wilayah Militer Purworejo dia dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan sebagai mata-mata Belanda.

Pada 9 Juli pukul 9.00, Joesoef membunuh lubang kuburnya sendiri. Dia meminta waktu untuk berdoa. Setelah itu, dengan kedua tangan, dia menghadapi regu tembak dengan tenang.

“Tuduhan sebagai mata-mata Belanda tentu saja tidak benar,” tulis sejarawan Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 3. “Pada 1953, ketika Iwa Kusumasumantri menjadi menteri pertahanan, Joesoef direhabilitasi dan kepada jandanya diberikan hak pensiun.”

Nama Joesoef. Namun, bagaimana dengan mereka yang benasib sama: mati karena dicurigai sebagai telik sandi?

Tanda Mata-mata

Selama perang kemerdekaan (1945-1950), siapa pun yang tidak bersalah sebagai mata-mata Belanda. kebencian itu menimbulkan suasana saling curiga. Penyanyi Kris Biantoro menjadi saksi dari suasana seram itu di pengungsian Grabag, salah satu kecamatan di Magelang.

“Di tempat pengungsian itu, sikap waspada terhadap mata-mata memang dominan. Rasa-rasanya tak ada yang lebih menonjol dari perilaku seperti ini. Orang yang disinyalir sebagai mata-mata musuh langsung dibantai, tak peduli perempuan atau laki-laki. Kematian yang misterius terjadi berkali-kali,” kata Kris dalam otobiografinya Manisnya Ditolak.

Seseorang hanya bisa dicurigai sebagai mata-mata dengan spesifik tertentu. “Entah dari mana logikanya,” kata Kris, “kaos kaki wana biru, atau kancing baju warna merah, serta baju kemeja warna putih dan biru (warna bendera Belanda) bisa menjadi sumber bencana.”

“Bakal lebih ngeri lagi ceritanya apabila dalam koper atau tubuh seseorang ditemukan. Kala itu benda yang sebenarnya sangat biasa ini dikait-kaitkan dengan kegunaannya yang hebat sebagai pengirim morse untuk pesawat terbang Belanda,” kata Kris. Para pejuang menjadikan kaca sebagai prioritas utama dalam pemeriksaan.

Para juga yakin mata-mata biasanya punya tanda berupa topi yang tersembunyi. “Kata kawan-kawan, mereka memiliki tanda di paha atau di bagian tubuh yang tersembunyi,” kata Sulistina Sutomo dalam Bung Tomo Suamiku. Yang dimaksud Sulistina adalah gadis-gadis yang menjadi mata-mata dan prestasi mereka para pejuang. Mereka disebut Rantai Emas.

Karena cap itu tersembunyi, kata Kris, pemeriksaan bahkan sampai bulat dan “konon, payudara wanita pun digeledah karena mata-mata musuh selalu ada cap khusus di tubuh.”

Letak cap mata-mata pada lelaki antara lain di kepala. Soetardjo Kartohadikusumo, kala itu gubernur Jawa Barat, pernah mengalami pemeriksaan saat menjenguk keluarganya di Tasikmalaya. Di suatu tempat penjagaan, seorang pemuda bersenjata menghentikan mobilnya dan dengan sopan memintanya untuk melepaskan kopiah. Katanya, beberapa mata-mata NICA (Belanda) mengamati di pedalaman. Tanda pengenal mata-mata itu, di atas kepalanya ada satu tempat kecil yang dicukur dan di atas kepala itu ditulis huruf N.

Pada 12 November 1945, tersiar kabar kenangan atas seorang yang terlupakan sebagai mata-mata. Orang tersebut menggunakan kopiah. “Karena adanya berita demikian, orang-orang yang berkopiah terpaksa mencopot kopiahnya karena takut tidak bersalah sebagai mata-mata,” tulis Nugroho Notosusanto dalam pertempuran Surabaya.

Tuduhan mata-mata dapat menimpa siapa saja: militer atau sipil, orang biasa atau orang terkemuka.

Kekerasan yang Diizinkan

Menurut Gert Oostindies, guru besar sejarah di Universitas Leiden, Belanda, selama perang tindakan kekerasan itu disebut sebagai ulah gerombolan ekstremis. Dengan begitu pemerintah dan TNI tidak terkena. Padahal memoar-memoar militer yang terbit di masa rezim Soeharto dengan jelas mengungkap bahwa penduduk sipil dapat saja menjadi sasaran yang sah oleh TNI. setidaknya, mereka tidak bersalah dengan Belanda. Hal ini termaktub dalam suatu instruksi pada akhir 1947.

Mayjen TNI A.H. Nasution, wakil panglima TNI, pernah memerintahkan pasukannya: “Cobalah sebisanya menawan pengkhianat-pengkhianat itu atau mengeksekusi mereka seperti yang tertulis dalam Instruksi Non-Kerja Sama. Ambil tindakan yang tepat melawan setiap orang yang melanggar Non-Cooperatie Instructie (termasuk) spion-spion, dan semua warga sipil yang membantu musuh.”

“Kekerasan terhadap warga sipil yang bekerja sama dengan Belanda dengan demikian diizinkan,” tulis Oostindie dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950.

Kris menceritakan bagaimana tentara terlibat dalam eksekusi. dia diajak pergi Muktarom, pejuang dari Lasykar Hisbullah, mengantarkan surat ke nomor markas tentara Indonesia. “Sesekali surat yang ada di tangan saya adalah rekomendasi untuk melakukan eksekusi. Itu berarti, begitu surat di tangan saya tiba di tempat tujuan, seseorang, entah siapa, akan segera kehilangan nyawa,” ujar Kris.

Nugroho Notosusanto mengatakan, kekerasan terhadap sesama Indonesia terjadi karena pasukan-pasukan secara kelompok di bawah komandan masing-masing. Tak ada koordinasi satu sama lain.

Tindakan main hakim sendiri sulit dikendalikan. Upaya yang bisa dilakukan adalah seruan seperti yang dilakukan Dewan Pertahanan Rakyat Indonesia (DPRI) di Surabaya melalui Radio Pemberontakan: “Penduduk dilarang bertindak sendiri-sendiri terhadap orang-orang yang ditangkap karena dicurigai sebagai mata musuh atau kaki tangan musuh. Jika ada seseorang yang dicurigai dan ditangkap, penduduk dipaksa secara langsung melaporkan kepada Badan Pemerintah DPRI di Jalan Sumatera 2 atau pejabat daerah masing-masing.”

Seruan tinggallah seruan. Tindakan kekerasan terhadap tertuduh mata-mata terus berlanjut. Tak diketahui pasti, dan memang belum pernah dihitung, berapa jumlah korban akibat tuduhan mata-mata. Tak syak jumlahnya pasti banyak.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama