Kisah Plonco Sejak Zaman Kolonial

Perpeloncoan sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Tujuan awalnya bagus, tapi belakangan ditentang karena tidak mendidik.

Perpeloncoan untuk mahasiswa baru Universitas Indonesia pada bulan April 1945.

Di awal tahun ajaran baru 2015, berbagai pihak mencermati tradisi penyambutan siswa atau siswa baru yaitu plunky. Alih-alih menjadi masa orientasi mahasiswa (MOS), kegiatan ini seringkali tidak mendidik dan hanya menjadi ajang balas dendam bagi para senior.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan juga melarang tindakan kekerasan di MOS. MOS menjadi tanggung jawab sekolah, guru dan kepala sekolah. Mereka harus bisa mengendalikannya. "MOS tidak boleh main-main, (kalau terjadi) kepala sekolah yang bertanggung jawab. Dinas pendidikan jangan segan-segan menjatuhkan sanksi kepada kepala sekolah. MOS itu waktu penetapan rencana studi, bukan memuaskan keinginan senior," kata Anies, dikutip oleh detik.com.

Perpeloncoan sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda. Mohammad Roem, menceritakan pengalamannya di-bully saat masuk Stovia (Sekolah Dokter Bumiputera) pada tahun 1924. “Bahasa Belanda untuk menjarah saat itu adalah ontgroening. Kata groen berarti hijau. Pupil baru berwarna hijau, dan ontgroening dimaksudkan untuk menghilangkan warna hijau tersebut. Dia harus dirawat agar dalam waktu singkat dia menjadi dewasa, dan mengenal teman-temannya dari seluruh Stovia, ”kata Roem di jilid jilid 3.

Roem mengaku perpeloncoan itu sudah dilakukan selama bertahun-tahun, namun tidak pernah terdengar adanya hal yang tidak menyenangkan atau melampaui batas. Hal ini karena pengawasan yang ketat, sehingga ekses dapat dihindari.

“Pertama, waktu terbatas, tidak boleh tunda pada waktu belajar dan waktu istirahat. Masih banyak waktu di luar dan memang suasananya ramai selama tiga bulan pertama,” kata Roem. Perpeloncoan berlangsung cukup lama hingga tiga bulan karena Stovia adalah sekolah asrama.

Salah satu materi ploncho yang rutin ditanyakan adalah tentang asal usul siswa. Ketika Roem menjawab bahasa Jawa, pertanyaan berikutnya adalah apakah dia tahu abjad Jawa. Kemudian dia harus mengatakannya. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah dia bisa melafalkan abjad Jawa secara mundur, mundur. Dia bisa, tapi sangat lambat. Seniornya memintanya untuk mengucapkannya dengan lancar dari depan atau belakang. Malam itu, setelah menyelesaikan tugas sekolah (PR), ia masih membutuhkan lebih dari setengah jam untuk menghafal abjad Jawa dari belakang ke depan.

“Perpeloncoan hanya dilakukan di dalam tembok sekolah dan asrama, dan perpeloncoan tidak bisa ditebangi,” kata Roem.

Periode perpeloncoan kemungkinan besar pertama kali terjadi selama pendudukan Jepang. Menurut R. Darmanto Djojodibroto dalam Tradisi Kehidupan Akademik, mantan mahasiswa Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) – yang tidak disebutkan namanya – menyatakan bahwa kata perpeloncoan pertama kali digunakan sebagai pengganti ontgroening.

Kata perpeloncoan berasal dari kata plonco yang berarti kepala botak. Cuma anak kecil yang kepala botak waktu itu, jadi kata plonco artinya orang yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan orang dan dianggap belum dewasa, oleh karena itu perlu diberikan berbagai arahan untuk menghadapi masa depan,” kata mahasiswa Ika. Daigaku, seperti dikutip Darmanto.

Pada masa revolusi kemerdekaan, kegiatan perpeloncoan terus dilakukan, seperti di Universitas Indonesia pada April 1949. Selain Jakarta, tulis Darmanto, pada masa revolusi fisik perpeloncoan dilakukan di Klaten, Solo dan Malang, meski dalam suasana penuh dengan kekacauan, ikatan emosional dan perasaan. teman setia tidak pudar, bahkan baja di durch Leide und Freude (duka dan sukacita).

Perpeloncoan dianggap sebagai sisa-sisa kolonialisme dan feodalisme, karena itu terjadi penolakan. Menurut Darmanto, partai dan organisasi komunis seperti PKI dan CGMI menolak perpeloncoan karena dianggap tradisi kolonial, dan ada juga organisasi yang menolak karena alasan lain. Akibatnya, perpeloncoan dilarang oleh pemerintah dan diubah namanya menjadi Masa Dinas Pemuda (1963), Masa Dinas Mahasiswa atau Mapram (1968), Pekan Orientasi Kajian (1991), Orientasi Studi Pengenalan Kampus (Ospek), Orientasi Perguruan Tinggi ( OPT), dan sekarang biasa disebut Masa Orientasi Mahasiswa (MOS). Bukan hanya namanya saja yang diubah, penyelenggaranya juga lembaga pendidikan dan wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswa baru.

Ironisnya, menurut Darmanto, jika saat masih disebut perpeloncoan kegiatan ini tidak pernah menimbulkan korban jiwa, setelah diubah namanya dengan maksud tidak bersifat kolonial dan feodal, ada insiden korban tewas atau luka-luka.

“Sekali lagi ditegaskan bahwa tujuan dari perpeloncoan adalah untuk menciptakan keakraban di antara anggota komunitas mahasiswa, senior menjadi mentor bagi junior,” tulis Darmanto. "Tujuan perpeloncoan bukan untuk menyebabkan cedera atau kematian bagi mahasiswa baru."

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama