Rekaman Persidangan Letkol Untung di Mahmilub

Peristiwa penting era Sukarno dan Suharto didokumentasikan dalam ratusan film.



Letnan Kolonel Untung bin Sjamsuri duduk di kursi penjara. Dikawal oleh sepasang polisi militer, dia menghadap hakim dengan wajah datar. Terlihat hadir dalam persidangan pejabat tinggi negara seperti Adam Malik dan Jenderal Basuki Rachmat. Pengadilan mendakwa Untung atas makar: kudeta Gerakan 30 September 1965. Sebelum pembacaan putusan, dia bahkan tidak mengaku bersalah. Pengadilan Militer Luar Biasa (Mahmilub) memvonisnya dengan hukuman mati. Namun, komandan batalyon Tjakrabirawa tidak tampak getir.

Suasana ini terekam dalam "Siaran Istimewa" Pusat Produksi Film Negara (PPFN) 1966 berjudul "Untung di Depan Mahmilub (Pengadilan Militer Luar Biasa)". “Serial 'Special Broadcast' ini merupakan produk dokumenter PPFN bergenre newsreel (film newsreel),” ujar Azmi, direktur pengolahan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dalam “Membongkar Daftar Arsip Film PPFN: Siaran Khusus Seri 1959-1978” di Gedung ANRI, Jakarta Selatan (22/9).

“Special Broadcast” berisi film-film berita tentang berbagai peristiwa sejarah antara periode 1959-1978. Berbagai rekaman penting dari masa Presiden Soekarno hingga awal pemerintahan Presiden Soeharto dimuat dalam "Siaran Khusus". Beberapa di antaranya adalah: kunjungan tamu asing ke Indonesia; perjalanan luar negeri Presiden Sukarno; Asian Games; kampanye pembebasan Irian Barat; Kalahkan Malaysia; Mahmilub 1966; Pembangunan Lima Tahun (Pelita), ASEAN, hingga Timor Leste.

Arsip film tersebut diserahkan oleh Direktur PPFN, G. Dwipayana kepada Ketua ANRI, Soemartini dalam bentuk release copy. Sebanyak 202 film telah diproses dan direncanakan dapat diakses publik pada akhir tahun ini. Durasi rata-rata film adalah 7 hingga 10 menit.

Menurut Abduh Azis, direktur PPFN, film-film tersebut tidak hanya sekedar dokumentasi tetapi dapat dianggap sebagai artefak budaya. Sebab, dari situ mencerminkan potret dan semangat zaman suatu masyarakat dalam menghadapi perubahan.

“Arsip film memiliki arti yang lebih besar dari sekedar dokumentasi. Dia adalah bagian strategis dalam merawat Indonesia: identitas, pengetahuan, dan gagasan,” kata alumni sejarah Universitas Indonesia ini.

Sedangkan menurut sineas kawakan, Eros Djarot, arsip-arsip film ini bisa dijadikan alat pencerahan untuk mengidentifikasi jati diri bangsa. “Arsip ini erat kaitannya dengan pembentukan pola pikir. Karena itu, kami sangat membutuhkannya,” kata sutradara film tersebut, Tjoet Nja' Dien.

Sebab, lanjut Eros, pada periode 1959-1978 begitu banyak tonggak penting dalam sejarah Indonesia modern, termasuk wilayah abu-abu pada masa peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Suharto yang masih mengandung banyak pertanyaan hingga saat ini.

“Arsip tidak boleh berpihak pada kekuasaan. Ia tentu harus berpihak pada realitas dan kebenaran bangsanya,” pungkas Eros.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama