Pemimpin Tegas Kasman Singodimejo

Sesuai dengan namanya, Kasman Singodimedjo seperti singa: tegas dan keras kepala asalkan percaya pada jalan kebenaran.

Kasman Singodimedjo (Buku: Hidup adalah Perjuangan: Kasman Singodimedjo 75 Tahun).

Banyak pemimpin gerakan yang memiliki sikap tegas. Namun jika sikap itu dikaitkan dengan nama, mungkin hanya Kasman Singodimejo yang memilikinya. Singodimejo sendiri berarti "singa di meja".

Banyak sekali anekdot tentang Kasman yang membuktikan betapa beraninya dia sebenarnya. Dalam biografinya, Life is Struggle: Kasman Singodimedjo 75 Tahun, ada sejumlah teman yang menceritakan pengalamannya menyaksikan singa di dalam Kasman terbangun. Biasanya hal ini terjadi karena keadaan memaksa Kasman untuk bertindak tegas.

Satu cerita dituturkan oleh Mohammad Natsir (Perdana Menteri Indonesia di era demokrasi liberal). Suatu ketika, Kasman datang ke Ternate. Usai menyampaikan sambutannya, ia langsung harus menyeberangi laut menuju Bitung (Sulawesi Utara). Ada acara penting yang harus dihadiri. Namun begitu sampai di pinggir laut, cuaca mulai berubah, ombak semakin tinggi. Dari pengalaman para nelayan di sana, tidak mungkin melaut dalam kondisi seperti itu. Tidak ada yang bisa memastikan kapan dia bisa memulai perjalanan lautnya.

Waktu yang terus berjalan semakin mencekik Kasman. Dia mulai gelisah. Pada saat itu, singa Kasman keluar. Sebuah janji kepada masyarakat Bitung memaksanya untuk menjadi orang yang pemberani (baca: keras kepala). Kasman mulai berteriak: “Apakah ada kapten Muslim yang percaya bahwa hidup dan mati ada di tangan Allah. Siapa yang mau membawa saya dalam kondisi seperti ini ke Bitung?”

Teriakan Kasman cukup mengagetkan warga di sana. Namun sekaligus mengajak sekitarnya untuk bergabung menjadi pemberani. Beberapa orang saat itu mengangkat tangan. Mereka rela mengarungi ombak untuk membawa pemberani ke tujuan mereka. Malam itu Kasman berhasil mendarat dengan selamat di Bitung.

Kisah lain Kasman Singodimejo yang tak kalah menarik terjadi saat ia ditangkap atas tuduhan merencanakan pembunuhan Presiden Sukarno. Pada tahun 1963, Kasman bersama Hamka, Ghazali Sahlan, Dalari Umar, Letkol Nasuhi, dan lainnya ditahan di Komplek Sekolah Polisi Sukabumi.

Dalam pemeriksaan, Kasman didesak untuk mengakui semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Termasuk tuduhan mengadakan pertemuan rahasia di Tangerang dalam upaya pembunuhan presiden. Bahkan untuk mendapatkan pengakuan Kasman, pemeriksa memaksa Naasuhi memberikan keterangan palsu.

"Bukankah Letkol menjemput Pak Kasman malam itu dan membawanya ke Tangerang?" desak salah satu penguji.

Naasuhi hanya menunduk dalam diam. Pemeriksa kemudian mengajukan pertanyaan lain, kali ini dengan sedikit ancaman. "Hati-hati! Letnan Kolonel diproses secara lisan (lisan) sudah mengakuinya."

Naasuhi masih tidak menjawab. Melihat hal itu, meski masih dipenuhi ketegangan, Kasman mencoba angkat bicara. Kepala penguji juga memberi izin. "Bismillahirahmanirrohim, Nasuhi, dengan Allah sebagai saksi, jawablah pertanyaan itu!" kata Kasman.

Bagaikan patung, Naasuhi tetap bungkam. Kasman kemudian kembali meminta Naasuhi untuk mengungkapkan kebenarannya. "Nasuhi, kamu beriman dan bertakwa kepada Allah Akbar. Jawablah dengan jantan! Kamu laki-laki. Jawablah Allah sebagai saksi."

Nasuhi akhirnya angkat bicara, tapi sangat pelan. "Suaramu keras! untuk didengar!" kata Kasman.

"Harus," jawab Naasuhi pelan.

"Apa yang harus kamu lakukan," kata Kasman.

“Saya harus menandatangani proses verbal. Sebenarnya tidak seperti itu," jelas Naasuhi.

"Nah, Bapak-bapak Pemeriksa. Begitulah keadaan sebenarnya. Isi proses lisan dan pengakuan Nasuhi itu tidak benar," pungkas Kasman.

Dengan jawaban Naasuhi, Kasman sebenarnya lebih unggul dalam perdebatan. Namun, seolah tak mau kalah, penguji menilai keterangan Naasuhi tidak membuktikan kebenaran apapun. Apalagi, pernyataan orang lain selain Naasuhi dalam proses verbal membenarkan adanya insiden yang melibatkan Kasman.

Kasman yang terus terpojok keberatan dengan pernyataan pemeriksa. Dia sangat yakin bahwa mereka memaksa untuk menyiksa terdakwa agar berbicara secara berbeda selama proses verbal.

“Maaf, saya mendapat kesan Pemeriksa telah melakukan penggembalaan, pemaksaan, penyiksaan, dan sebagainya, sehingga terdakwa yang bersangkutan terpaksa mengaku demi keselamatan jiwanya. Sebagai mantan Jaksa Agung, sebagai mantan Kepala Peradilan Militer, dan sebagai mantan Wakil Menteri Kehakiman, saya tahu persis batas kewenangan saya untuk memeriksa kasus. Semua ini ilegal," kata Kasman.

Setelah mengatakan semua hal, Kasman kemudian berdiri. Dia mendorong kursinya ke belakang dan dengan tinjunya ke atas, memelototinya, dia berteriak sekuat tenaga: “Pemeriksaan semacam ini tidak berguna. Pelama! Sekarang begini saja. Mohon tuan-tuan cabut pistolnya dan tembaklah saya. Tembak! Tembak! Tembaak!”

Semua orang terkejut. Ketua pemeriksa lalu meminta proses pemeriksaan hari itu disudahi. Ia mempersilahkan Kasman untuk bersitirahat. Tanpa menoleh, ia langsung keluar dan masuk ke kamarnya. Orang-orang di dalam ruangan hanya bisa duduk diam.

Bagi Mohammad Roem, kawan yang telah dikenal Kasman sejak 1924 di STOVIA, sosok singa tidak hanya ada dalam diri Kasman, tapi ada di mana pun dirinya berada. Dalam Bunga Rampai dari Sejarah Jilid 3: Wajah-Wajah Pemimpin dan Orang Terkemuka Indonesia, yakinlah jika hati itu keluar pada saat yang diperlukan.

“Saya rasa anggota-anggota tim pemeriksa sudah gatal untuk menganiaya Bapak Kasman. Akan tetapi momentumnya adalah Pak Kasman yang berhasil,” kata Roem.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama