Percasi dari Masa Revolusi

Organisasi catur utama Indonesia dibentuk pada masa revolusi. Bagaimana dengan catur wanita?

WGM Irene Kharisma Sukandar vs Dewa Kipas Dadang Subur live di kanal youtube Deddy Corbuzier, Senin 22 Maret 2021.

Sudiro (1911–1992) suka main catur sejak duduk di sekolah dasar HIS Netral (Neutrale Hollands Inlandsche School). Dia belajar di L.G. Eggink, kepala sekolah yang suka catur dan hopdaktur (ketua dewan redaksi) majalah catur NISB (Nederlands Indische Schaak Bond). NISB merupakan perkumpulan catur Hindia Belanda yang didirikan pada 1915 di Yogyakarta.

Sudiro kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Tinggi (Hogere Kweekschool) di Magelang. Dia menjaga kegemarannya bermain catur. Bahkan dia mengaku ikut melawan Max Euwe dalam pertandingan simultan pada 22 September 1930. Juara catur Belanda itu melawan 42 pemain.

“Penulis dan seorang teman sekelas bernama Ratib beruntung sekali malam itu, karena penulis dapat mengalahkan sang juara, dan Ratib mencapai remis,” kata Sudiro dalam Pelangi Kehidupan.

Menurut penelusuran Dutch Docu Channel di pangkalan data surat kabar Belanda (Delpher), surat De Locomotief yang melaporkan pertandingan secara simultan menyebut bahwa kekalahan Max Euwe karena sangat kelelahan setelah perjalanan yang jauh.

Dalam perjalanan hidupnya, Sudiro tidak berkarier sebagai pemain catur. Dia memilih terjun ke pergerakan, menjadi guru dan kepala sekolah. Setelah merdeka, dia bekerja di pemerintahan sebagai residen Surakarta.

Percasi Pembentukan

Pada suatu hari, Saptogiri, pembantu pribadi Sudiro, meminta izin menggunakan pendopo kantor Karesidenan (bekas Kepatihan) untuk mengadakan pertandingan catur antara Percaso (Persatuan Catur Solo) dan Percam (Persatuan Catur Mataram).

Sebagai seorang penggemar permainan catur, dan yakin bahwa permainan ini baik sebagai cabang olahraga maupun cabang kesenian, pasti sangat penting artinya bagi pembangunan bangsa Indonesia, penulis segera mengizinkannya, kata Sudiro.

Ketika pertandingan berlangsung, Ketua Percam dr. Suwito Mangkusuwondo, mengusulkan untuk membentuk sebuah organisasi sebagai wadah olahraga catur. Tumbuhan tersebut mendapat sambutan hangat.

Beberapa waktu kemudian, kira-kira pertengahan tahun 1948, bertempat di rumah dr. Kwik Tjie Tik di Jalan Purwosari (sekarang Jalan Slamet Riyadi) 147, berdirilah Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia).

Menurut pbpercasi.com, karena situasi saat itu belum pasti dan masih dalam masa lagu, maka baru pada 17 Agustus 1950 ditetapkan sebagai tanggal resmi berdirinya Percasi dengan memiliki Anggaran Rumah Tangga serta berkedudukan di Yogyakarta. Terpilih sebagai Ketua Umum Percasi pertama adalah dr. Suwito Mangkusuwondo.

Pada 1955, kedudukan pengurus Percasi dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta. Selanjutnya Percasi mulai berkiprah di percaturan internasional dengan menjadi anggota Federasi Catur Internasional atau Federation Internationale Des Echecs (FIDE) pada 1960.

Catur Wanita

Percasi diselengarakan nasional (kejurnas) catur pertama kali pada 1953 di Solo. Sejak itu, kejurnas catur digelar setiap tahun, terakhir tahun 2019. Sedangkan kejurnas catur wanita baru pertama kali digelar pada September 1978 di Yogyakarta.

“Penulis yang kebetulan turut membidani lahirnya Percasi 1948 –tepatnya 30 tahun yang lalu– telah mendapat undangan untuk menghadiri upacara pembukaan persiapan itu,” kata Sudiro, mantan wali kota (kini gubernur) Jakarta Raya (1953–1960).

“…untuk pertama kali diadakan catur wanita. Menurut berita terakhir, pertandingan diikuti oleh 15 orang,” kata Sudiro yang kemudian menjadi perhatian Percasi.

Merujuk pada pangkalan data catur Indonesia, indonesiabase.com, kejurnas catur wanita ini diselenggarakan bersamaan dengan tahap kualifikasi kejurnas ke-18 dan kejurnas junior ke-3. Kejurnas catur wanita diikuti 16 pemain dari tiga provinsi: tujuh pemain dari Yogyakarta, lima pemain dari DKI Jakarta, dan empat pemain dari Jawa Tengah.

Hasilnya cukup mengejutkan. Hanik Maria dari Jawa Tengah keluar sebagai juara nasional catur wanita pertama. Dia mengungguli pemain-pemain terbaik Indonesia, seperti Imasniti (Jakarta), Mun'yati (Jawa Tengah), dan Nanik Wijaya (Yogyakarta).

Bintang Indonesia masa depan, Darmayanti Tamin (Jakarta), yang masih berusia belasan tahun mendapat pelajaran berharga dengan posisi ke-11. Kariernya mencapai puncak pada dekade 1980-an dengan menjadi juara pada kerjunas catur wanita tahun 1980 dan 1982. Dia bersama Nanik Wijaya dan Mun’yati menjadi bagian dari tim Indonesia untuk Olimpiade Catur 1982–1986.

Kejurnas catur wanita terus digelar hampir setiap tahun, terakhir tahun 2019. Kejurnas catur wanita ke-21 tahun 2006 melahirkan juara Irene Kharisme Sukadar yang baru berusia 14 tahun. Dia menjadi juara nasional catur wanita berturut-turut (2006, 2007, 2009, dan 2010).

Bahkan Irene menjadi pecatur wanita Indonesia pertama yang mendapatkan gelar Women Grandmaster (WGM) pada 2009. Pecatur wanita kedua dan termuda yang menjadi WGM adalah Medina Warda Aulia tahun 2013. Dan hari ini, Senin (22/03) WGM Irene Kalahkan Dewa Kipas Dadang Subur 3-0 dalam pertandingan yang digelar oleh Master Deddy Corbuzier.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama