Pengerahan Tenaga Medis untuk Wabah di Hindia Belanda

Pemkot Jakarta Timur akan mengerahkan 2.500 tenaga medis muda untuk menangani Covid-19. Pengerahan tenaga medis untuk menangani wabah dilakukan pada masa kolonial.

Mantri cacar saat bertugas di desa.

Untuk menangani pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Jakarta Timur akan menggunakan 2.500 tenaga medis muda. Pemilihan tenaga medis muda ini menurut Ketua Tim Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Timur Tedy Harto, karena mereka memiliki kekebalan tubuh lebih baik daripada dokter senior.

Tenaga muda tersebut rencananya akan diluncurkan pada sejumlah tempat layanan kesehatan di Jakarta Timur. Pada tahap pertama, sebanyak 2.000 hingga 2.500 dokter muda akan dikirim ke lapangan. "Tim medis yang akan dikerahkan sebelumnya, kami berikan pembekalan dengan matang dan kami seleksi yang muda-muda," ujar Tedy sebagaimana dikutip Tempo.co Kamis, 9 April 2020.

Pengerahan tenaga medis dalam skala besar juga pernah dilakukan kala wabah penyakit melanda Hindia Belanda pada abad ke-19. Pemerintah kolonial mengirimkan manstri-mantri cacar ke desa-desa agar vaksinasi atau pencacaran bisa dilakukan secara menyeluruh.

Vaksin cacar sendiri baru ditemukan pada 1798 oleh dokter Inggris Edward Jenner. Setelah vaksin temuan Jenner bisa diproduksi massal di Belanda beberapa tahun kemudian, pemerintah Belanda mengirimkannya ke Hindia Belanda. Namun sayang, vaksin tersebut tidak efektif dipakai di koloninya. Dua faktor besar yang mempengaruhi cuaca dan lama waktu pengiriman. Lamanya pengiriman lewat kapal membuat vaksin jadi rusak karena cuaca laut yang panas. Belum lagi lama waktu pengiriman mengurangi efektivitas vaksin cacar dari Inggris.

Untuk menanggulanginya, pemerintah akhirnya memproduksi sendiri vaksin di Hindia Belanda. Begitu ketersediaan vaksin dipastikan cukup untuk mencacar penduduk pribumi (khususnya anak-anak), mantri-mantri dikerahkan ke desa-desa.

Para mantri yang kemudian disebut mantri cacar itu sebelumnya telah dipanggil oleh para dokter Eropa di rumahsakit di tiga kota besar di Jawa. Namun, untuk para vaksinator umumnya hanya pelatihan pada pemberian dan pembelajaran untuk membedakan fitur-fitur vaksin. Teori kesehatan tidak diajarkan pada mereka.

Dalam “Dari Mantri Hingga Dokter Jawa”, Baha’udin menyebut kala Thomas Raffles sebagai Gubernur Hindia Belanda, vaksinasi cacar dilakukan secara besar-besaran. Petugas vaksin tak hanya ditempatkan di kota besar seperti Surabaya, Semarang, dan Batavia. Penempatan mereka mencapai Jepara, Pasuruan, Bangil, dan Probolinggo.

Sepanjang penelusuran Historia, tidak ditemukan angka pasti jumlah mantri cacar yang diterjunkan pemerintah kolonial. Yang pasti, jumlah petugas medis yang ditambah mengingat luasnya cakupan wilayah pencacaran.

Pengerahan mantri cacar menurun pada 1850 semasa kepemimpinan pengawas vaksin A.E. Wazklewicz. Penyebabnya, para penduduk pribumi diminta mengantar anak mereka ke pusat vaksin yang jaraknya cukup jauh.

Beberapa hal tentu terjadi mengingat pencacaran jadi hal baru bagi masyarakat pribumi. Untuk mengurangi, pemerintah menggunakan bantuan penghulu sebagai asisten. Liesbeth Hesselink menceritakan dalam Healers on the Colonial Market, enam petugas vaksin di Jakarta sekitar tahun 1850 dipekerjakan karena perempuan pribumi dan anak perempuan sudah menikah tidak ingin divaksinasi. Vaksinator perempuan sebelumnya sudah dipersiapkan dengan baik karena pekerjaan mereka sulit untuk dipantau.

Selain itu, mantri cacar juga mendampingi dokter dalam tugas dinas mobil yang keliling mengantar petugas medis untuk berkujung ke desa-desa. Ada pula mobil yang dirancang untuk melakukan penyuluhan keliling.

Pada penanganan kasus malaria, pelatihan mantri malaria dilakukan untuk menambah jumlah tenaga medis. Dosen IAIN Surakarta Martina Safitry menulis dalam tesisnya di UGM, “Dukun dan Mantri Pes”, kursus pertama diadakan di Batavia pada 1926. Total 134 orang lulus setahun berikutnya.

Para mantri malaria ditugaskan menangkap dan mengklasifikasikan nyamuk juga larva di sekitar tempat terjangkit. Mereka juga diminta untuk membuat dan memeriksa sampel darah penderita, mengawasi pembuatan saluran udara, dan sebagai agen penyuluh penanggulangan malaria.

Sementara itu, pada penanganan penyakit pes, pemerintah juga menerjunkan mantri pes untuk mengatasi masalah kesehatan ini. Mereka merupakan para pemuda bumiputra yang sebelumnya ingin menjadi mantri. Tugas awal mereka adalah memberi penerangan tentang penyakit pes hingga ke pelosok Jawa.

“Mantri pes dokter Jawa dan dokter Eropa selain itu juga membantu untuk awasi perbaikan rumah,” kata Martina.

Pada 1914, muncul usulan untuk menggandeng Palang Merah Internasional untuk mengendalikan wabah pes. Para perawat Eropa didatangkan ke Hindia Belanda untuk melatih perempuan pribumi tentang perawatan kesehatan dan penanggaulanagan pes. Selain itu, jumlah mantri pes diperbanyak dari sebelumnya yang hanya satu mantri polisi dan satu mantri pes untuk satu distrik.

“Pada 1915 berdiri satu dinas sendiri, ada tim peneliti untuk mencari cara menyambuhkan pes, dan penelusuran pasien terjangkit berserta keluarganya,” kata Martina. Setelah itu, jumlah orang yang dimasukkan ke dalam barak diseleksi. Mulanya, penduduk yang tinggal 100 meter dari rumah penderita wajib dikarantina, tak jarang malah satu desa dikarantina di barak isolasi. Sejak ada proses seleksi, hanya orang yang pernah kontak dengan penderita atau orang yang dianggap tertular yang diisolasi.

Namun, terlepas dari semua tindakan pencegahan wabah, kampanye skala besar juga menimbulkan kecurigaan pribumi. Penduduk yang masih awam menyebut prosedur desinfeksi sebagai sihir jahat yang dilakukan oleh Belanda. Di beberapa tempat, biopsi limpa –untuk menentukan penyebab kematian apakah pes atau bukan– mendapat izin. Bahkan, kata Liesbeth, ada seorang mantri dirajam karena keawaman penduduk pada prosedur biopsi tersebut.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama