Mengawali Kalender Jawa

Sultan Agung menikah dengan penanggalan Saka dan Hijriah. Melegitimasi kekuasaan secara politik maupun spiritual.

Kompleks makam Tembayat.

Para pertapa atau pertapa memiliki nilai tawar yang patut diperhatikan dalam politik kekuasaan di Jawa pada awal abad ke-17. Pertapaan Islam pada masa itu sebenarnya melanjutkan tradisi Hindu-Budha. Mereka biasanya melekat pada interior dan ziarah orang-orang kudus atau orang-orang kudus.

Makam Sunan Tembayat (kini di daerah Klaten) merupakan salah satu titik penting gerakan pertapaan di Jawa saat itu. Sunan Bayat adalah salah satu penyebar agama Islam di Jawa yang diperkirakan hidup pada masa Kesultanan Demak. Pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1646), hubungan Mataram dengan para petapa ini sangat bermasalah.

“Mereka dapat mendukung kultus raja atau menghancurkannya sama sekali,” tulis Anthony Reid di Asia Tenggara pada Periode Perdagangan 1450-1680, Volume 2.

Menurut M.C. Ricklefs dalam mengislamkan Jawa, Sultan Agung sebenarnya telah berusaha mendamaikan keraton dengan tradisi Islam. Dia tidak meninggalkan kepercayaan spiritual Jawa seperti hubungannya dengan Ratu Kidul, tetapi juga berusaha membuat Mataram lebih Islami.

Namun, Tembayat jelas membuat marah Sultan Agung. Pada tahun 1630, para petapa bahkan mengorganisir gerakan melawan Sultan Agung. Namun, Sultan Agung dengan mudah menumpas gerakan tersebut. Sebagai gantinya, dia memanfaatkan kuil suci untuk mengabadikan kekuatannya.

Pada tahun 1633, Sultan Agung berziarah ke Tembayat dan memerintahkan agar makam tersebut dipugar. Makam itu dibangun kembali dan didekorasi dengan gerbang yang megah. Sultan Agung sangat menyadari bahwa mengasosiasikan dirinya dengan pemujaan makam orang suci akan melegitimasi kekuasaannya.

“Sultan Agung dikatakan telah bertemu dengan roh orang suci, yang mengajarinya seni mistik rahasia; Dengan demikian, kekuasaan Bayat sekarang terhubung dengan kerajaan Mataram," tulis M.C. Ricklefs dalam mengislamkan Jawa.

Sepulang dari Tembayat, Sultan Agung malah melakukan pergantian kalender. Kalender Saka gaya India dikawinkan dengan kalender Hijriah Islam. Kalender dan bulan yang digunakan menggunakan sistem qamariah dari Hijriah, sedangkan angka tahun dan nama tahun menggunakan sistem Saka.

Bulan pertama dalam Hijriah, Muharram diberi nama Suro. Jadi Tahun Baru Jawa dan Islam bertepatan pada 1 Suro atau 1 Muharram. Penanggalan ini dimulai pada hari Jumat Legi, bulan Jumadilakir, tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 M.

Menurut Muhammad Solikhin dalam Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa, kata Suro diambil dari kata Asyura yang mengacu pada tanggal 10 bulan Muharram. Tanggal tersebut terkait dengan wafatnya Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhammad, di Karbala, yang kini menjadi bagian dari Irak.

Sultan Agung kemudian menjadikan Jumat Legi sebagai dina paseban, hari pertemuan resmi antara keraton dengan pemerintah di daerah. Di wilayah timur Jawa, pada hari Jumat Legi juga ada pertemuan pemerintah daerah, pengajian, ziarah kubur dan haul jika waktunya bertepatan, makan Ngampel dan Giri. Hal inilah yang membuat Jumat Legi dan 1 Suro sering disakralkan dan dihindari sebagai waktu untuk kepentingan selain mengaji, haji, dan haul.

“Dari Sultan Agung, kemudian pola peringatan tahun Hijriah secara resmi dilakukan oleh negara, dan diikuti oleh seluruh masyarakat Jawa,” tulis Muhammad Solikhin.

Anthony Reid mengatakan, pergantian kalender ini juga merupakan bagian dari upaya Sultan Agung mempersiapkan pergeseran legitimasi dari Jawa Timur ke Jawa Tengah atau dari pesisir ke pedalaman. Baik legitimasi kekuasaan politik maupun spiritual.

Sebelumnya, Surabaya telah dikalahkan pada 1625. Putra mahkotanya, Pangeran Pekik, menikah dengan saudara perempuan Sultan Agung. Pekik kemudian ditugaskan untuk menaklukkan Giri, tempat suci di wilayah Surabaya. Ziarah suci terpenting di Jawa Timur jatuh pada tahun 1636. Tindakan Sultan Agung lebih merupakan perjuangan spiritual daripada militer. Jadi politik dan spiritualitas Jawa sejak itu bergerak dari timur ke tengah Jawa.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama