Kode Bahaya dalam Masa Perang Kemerdekaan

Berbagai tanda dibuat oleh rakyat untuk memperingatkan gerilyawan Republik akan kehadiran tentara Belanda.

Sebuah patroli tentara Belanda di Banyumas.

Sukanagara, Cianjur Selatan pada 1947. Soma baru saja melantunkan azan ashar saat sudut pandang menangkap beberapa serdadu Belanda di jalanan kampung. Tetiba dia ingat beberapa gerilyawan Republik yang sedang mandi di sungai belakang surau.

“Saya yang tadinya mau teriak “hayya’ ala shalah”, ku bakat geumpeur (karena saking dan takut-nya), jadi teriak ‘aya walandaaaaa” (ada Belandaaa),” kenang lelaki berusia 92 tahun itu.

Namun lantunan azan Soma yang tak lazim itu, ditangkap oleh para gerilyawan dan penduduk kampung. Secepat kilat mereka langsung menghindar dari kawasan itu. Ada yang langsung masuk hutan, ada juga yang yang pura-pura mengerjakan sesuatu. Kelompok terakhir itu adalah orang-orang kampung yang tak sempat menyelamatkan diri.

Kode di masa Perang Kemerdekaan (1946-1949) memang bisa bermacam-macam. Umumnya di kampung-kampung, tanda bahaya atau informasi datangnya tentara Belanda disebarkan dengan bunyi kentongan yang dilakukan secara estafet dari kampung ke kampung.

Namun menurut eks pejuang di wilayah Banyumas Iman Sardjono (91), cara itu terlalu “berisik” dan mudah didentifikasi musuh. Tak jarang akibat bunyi kentongan itu, tentara Belanda justru bisa tahu mana saja kampung yang berpihak kepada kaum Republik.

“Mereka tidak menemukan siapa pun di kampung-kampung itu, tetapi sebagai penumpah rasa kesal, para serdadu itu tak jarang membakar seisi kampung. Itu akan merugikan rakyat juga,” tutur eks anggota Tentara Pelajar (TP) itu.

Untuk memelihara kesenyapan, maka para pejuang di kaki Gunung Sumbing menciptakan sistem geplak. Sistem kode bahaya tradisional itu dalam prakteknya memang termasuk sangkil dan tidak mengeluarkan suara.

Geplak terdiri dari sebuah tiang bambu yang tingginya kurang lebih 8-10 meter. Alat ini dilengkapi dengan sejenis bendera yang dibuat dari gedeg (anyaman bambu) berukuran kurang lebih 1x1 meter. Bentuknya menyerupai pemukul lalat dalam ukuran yang lebih besar.

Setiap geplak didirikan tegak lurus di atas sebuah bukit yang menjadi pembatas desa. Jika bahaya datang (patroli tentara Belanda) maka tiang tersebut langsung sanksinya. Begitu pula hal yang sama dilakukan jika seorang pengawas (atau siapa pun warga yang melihat) mengetahui geplak di desa tetangga sudah akan diterapkan.

Sistem geplak ini sempat membuat para serdadu Belanda patah arang. Dalam buku Met de TNI op Stap karya Ant. P. de Graaf menceritakan mereka kerap jengkel jika akan menyasar sebuah tempat ternyata sesampai di sana tak ditemukan apapun.

“Padahal orang intelijen sebelumnya sudah bilang bahwa di kampung itu ada konsentrasi pasukan TNI,” ungkap de Graaf, yang waktu masa perang ditugaskan di wilayah Banyumas.

Sebaliknya, mereka pun tak jarang merasa kewalahan jika suatu saat patroli belum mencapai tempat yang menjadi target, tetiba di tengah jalan, sekelompok pasukan TNI menghadang posisi mereka. Itu pernah terjadi di Desa Banaran, Wonosobo, saat sistem gedek berhasil menghancurkan satu unit patroli pasukan KL (Angkatan Darat Kerajaan Belanda).

Juli 1949. Siang itu Letnan Muda Aman Sujitno dari Pasukan Tjadangan Ronggolawe tengah mendaki sebuah puncak bukit di Desa Banaran. Dia disertai oleh Letnan Satu Suhadi dari Kompi Leman. Mereka berdua mencari posisi yang cocok untuk memasangkan mitralyur berat 12,7 mm.

Setelah beberapa saat mengubek-ubek puncak bukit tersebut, mereka akhirnya menemukan tempat yang baik dengan bidak tembakan pertigaan Banaran. Mitralyur berat dipasang dan bidang tembakan dinyatakan sudah tepat. Baru beberapa menit selesai memasang senjata, Sujitno menyaksikan gedek di bukit desa sebelah tepat akan diterapkan. Mereka pun bersiap.

“Beberapa saat kemudian datang beberapa orang kampung, mereka memberitahu bahwa Patroli KL sedang bergerak menuju Banaran dari Sapuran,” kenang Suhadi seperti pernah dikisahkan kepada Hardijono dalam Pasukan "T" Ronggolawe.

Pertahanan pun disusun di bukit-bukit yang terletak di atas jalan dekat pertigaan Banaran. Pasukan yang dipimpin Suhadi berada di sisi utara, sedangkan Pasukan T berada di timur laut jalan. Sambil menunggu sasaran, mereka terdiam dalam lamunannya masing-masing. Ketegangan menampilkan suasana tempat itu.

15 menit kemudian, terdengar suara derap sepatu lars diiringi suara-suara perbincangan dalam bahasa Belanda. Nampak sekitar satu seksi (60 personel) tentara Belanda (sebagian besar bule) di tengah-tengah menambahkan dalam posisi berbanjar namun tak beraturan. sebagian di antara mereka dan brengun.

"Dor!"

Aksi penghadangan dibuka dengan sebuah tembakan jitu yang menyasar pemegang brengun. Sang serdadu pun langsung terjungkal. Bersama dengan itu, hujan peluru berhamburan dari ketinggian bukit-bukit yang ada di sekitar pertigaan Banaran. Patroli militer Belanda itu pun panik. Tidak perlu waktu setengah jam, pertahanan mereka pun sudah hancur lebur. Suara desing peluru bersanding akibat teriakan teriakan dan teriakan terhantam peluru Pasukan T dan Kompi Leman.

Pasukan pasukan KL lebih unggul, namun karena posisi pasukan TNI lebih baik, patroli tentara Belanda itu semakin tak berdaya. Sebagai jalan keluar, pimpinan pasukan KL hanya bisa menyuruh anak buahnya untuk mundur ke arah Sapuran dengan membawa korban tewas dan luka-luka yang sangat banyak.

Setelah palagan ditinggalkan pasukan KL, secara bertahap TNI turun dan memeriksa tempat pertempuran. Suasana mencekam kawasan tersebut. Di sela-sela secepatnya mesiu yang masih mengepul, mereka menemukan jejak-jejak darah berceceran dan sepasang sepatu lars yang berbentuk seperti peluru terhantam.

Di sisi lain dari bekas palagan itu, anak-anak Pasukan T menemukan sebuah helm tempur yang dipenuhi lubang peluru dan darah. Di helm itu tertera ukiran nama seorang perempuan Belanda bernama "Wies". Mungkin nama anak atau istri dari sang empunya helm tersebut.

Demi melihat helm itu, anak-anak Pasukan T terhenti. Mereka sadar, seperti mereka, para prajurit KL pun datang bertarung ke tanah Hindia tentunya dengan meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Bagaimana perasaan anak, istri dan handai taulan mereka begitu tahu bahwa orang yang dicintainya saat ini sudah tak bernyawa lagi?

"Mengingat itu, hati kami terasa sedih, hampa dan sepi. Perang memang selalu memunculkan kenestapaan, yang sebenarnya kami pun tak menginginkannya..." ujar Letnan Suhadi.

Militer Belanda sendiri tak tinggal diam terhadap kejadian di Banaran tersebut. Seminggu kemudian, satu kesatuan besar pasukan mereka menyebu Desa Marongsari (desa terdekat dari Banaran yang dianggap berpihak kepada TNI). Menurut de Graaff, mereka menghajar Marongsari tanpa ampun.

 “Sekitar 10 rumah penduduk yang dibakar hingga menjadi abu,” tulisnya.

Membuat sangkil dan mangkus sebagai tanda bahaya, namun sistem gedek kadang menimbulkan cerita lucu juga. Pernah suatu hari, ketika beberapa serdadu KL terlihat keluar dari pos-nya, sistem gedek pun bergerak, menjalar hingga ke desa-desa tertinggi di Gunung Sumbing. Semua gerilyawan pun bersiap di posisi masing-masing

“Padahal para serdadu itu keluar hanya sebentar, mungkin mereka mau mandi atau buang hajat saja,” pungkas Iman Sardjono.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama