Kemarahan Soekarno Akibat Ajudan Salah Bercerita Sejarah

Sebagai Ajudan Presiden yang ditugaskan kepada putra Presiden, Brigadir Pol. M. Tamim juga berkewajiban untuk melihat cerita pengantar tidur untuk Guntur. Direkam omel ketika salah menceritakan sejarah.

Brigadir Polisi M. Tamim, Aude Presiden menugaskan Momong Guntur (kiri). Guntur (kanan).

Brigadir Polisi M. Tamim tidak pernah melupakan pasca-perjanjian gencatan senjata antara pasukan Indonesia dan Belanda setelah agresi militer Belanda II. Pengaruh perang masih begitu kuat di berbagai tempat. Dalam suasana seperti itu, Tamim ditawari untuk menjadi anggota polisi Belanda.

Tentu saja Tamim menolak tawaran itu. "Jika tidak, obsesinya ingin melayani keluarga Bung Karno dan dekat dengan Bung Karno akan menguap dengan sia-sia," Kadjat Adra'i, seorang teman dekat Guntur Sukarnoputra dan wartawan yang telah mewawancarai Tamim, dalam bukunya Fatmawati Sukarno: seperti diceritakan Kadjat Adra'i.

Bagi Tamim, Presiden Sukarno dan keluarganya bukan orang asing. Ayah Tamim, Nur'ain, adalah seorang sopir di Istana Bogor. Nur'ain tinggal di rumah karyawan Istana yang terletak di kompleks istana. Di sinilah Tamim lahir pada tahun 1926 dan tumbuh bersama dengan karyawan lain.

Setelah dewasa, Tamim menjadi anggota polisi khusus Bogor. Komandan Komisaris Polisi Enoch Danubrata. Ketika pemerintah melarikan diri ke Yogyakarta, pada awal 1946, Tamim diyakini bertugas menjaga keluarga Presiden - setelah resimen Tjakrabirawa dibentuk pada tahun 1962, para anggota penjaga presiden presiden disatukan dalam wadah Kawal pribadi Detachment (DKP).

Sekitar tahun 1948, Tamim mendapat tugas Sukarno untuk memegang guntur setiap malam sebelum tidur. Kehadiran Tamim dengan kisahnya, setiap malam membuat guntur lebih dekat secara emosional dengan ajudan. Tamim diambil dan ketika Presiden kembali ke Jakarta setelah kedaulatan.

Di Jakarta, Sukarno "mengangkat pangkat" Tamim dari hanya sebuah pendongeng sebelum tidur ke penjaga guntur. Praktis zaman Tamim selalu dihabiskan di samping putra sulung presiden, sejak pagi sampai malam ketika Guntur akan tidur.

Ketika Guntur telah memasuki TK, Tiap pagi Tamim dikirim ke sekolah di belakang kompleks Istana Jakarta. Tamim menunggu sekolah.

Kegiatan berlanjut ketika guntur memasuki sekolah rakyat Rakyat Cikini. Tiap pagi, Tamim melaju guntur dengan Saro'i yang juga dari anggota polisi. Pada malam hari, Tamim harus menunggu pembelajaran guntur sampai jam 8:00 malam. Setelah itu, lalu Tamim dapat melakukan tugas terakhirnya: menceritakan guntur sebagai tempat tidur.

Kisah-kisah biasanya mulai Tamim jadi guntur berbaring di pai layar. Karena tugasnya adalah tugas sehari-harinya, Tamim juga sering membawa beberapa buku cerita karena kadang-kadang kehabisan dongeng. Mayoritas Tamim mengatakan kepada dongeng adalah kisah horor karena disukai anak-anak. Namun, sering juga Tamim menampar waktu kolonial dan perang kemerdekaan.

Kegiatan sering dilakukan Tamim di kamar presiden karena guntur sering tidur di kamar ayahnya. Presiden biasanya diserap dalam membaca ketika Tamim memegang guntur.

Suatu hari, di kamar Presiden, Tamim terbuat dari melipion karena Guntur belum tidur meskipun dongengnya naik. Alih-alih segera menutup mataku, guntur malah diminta untuk berdedikasi lagi.

Tamim yang kehabisan materi cerita bingung. Untungnya, Guntur memintanya untuk melihat kisah pendudukan Belanda sebelum Jepang masuk. Tamim yang mengalami periode itu, lalu dengan lancar kembali ke dongeng. Seperti biasa, Presiden Sukarno duduk di dekat mereka saat membaca.

Cerita terus keluar dari mulut Tamim. Selain menceritakan tentang keberanian Bung Karno dan kaum muda dari pejuang lain. Ini juga menceritakan kehidupan orang-orang dan kekejaman Belanda.

Tamim selesai dengan dongengnya. Namun, sekali lagi dibuat bingung karena Thunder belum tidur. Sementara itu, materi cerita di kepalanya sudah habis. Dalam kebingungan, Guntur benar-benar menanyakan kelanjutan cerita. Tamim juga mengubah otak.

"Akhirnya saya beralasan. Saya kemudian membuat cerita, benar-benar meraih, karena pada saat itu saya diminta untuk menceritakan kisah," kata Tamim, mengutip Kadjat.

Guntur kembali untuk mendengarkan Tamim. Dia tidak tahu bahwa dongeng adalah Tamim murni fiksi. Tamim juga menyenangkan untuk berbohong kepada anak itu.

Sementara itu keren untuk berbohong kepada Guntur, tiba-tiba Tamim dikejutkan oleh suara presiden yang diam-diam terus mendengarkan Dongengan. "Tidak ada cerita itu" kata Sukarno.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama