Kekacauan Penandatanganan Proklamasi

Soekarno-Hatta menginginkan agar teks Proklamasi ditandatangani oleh semua yang hadir. Sukarni menentang dan menyarankan agar Sukarno-Hatta menandatanganinya atas nama rakyat Indonesia.

Naskah Proklamasi yang diketik secara otentik oleh Sayuti Melik yang dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah Sayuti Melik selesai mengetik teks Proklamasi, yang kemudian disebut “teks Proklamasi asli”, Sukarno mengatakan bahwa keadaan yang mendesak telah memaksa kita semua untuk mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. “Draf naskah sudah siap untuk dibacakan di depan kalian semua dan saya sangat berharap kalian bisa menyepakatinya agar kita bisa melanjutkan dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar,” kata Sukarno.

Menurut Adam Malik dalam bukunya Sejarah dan Perjuangan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sukarno menyarankan agar teks Proklamasi ditandatangani besok sore dan diumumkan di depan anggota PPKI. Usulan ini ditolak keras oleh Sukarni dan Chaerul Saleh.

“Kami tidak mau terbawa-bawa dengan semua badan berbau Jepang seperti Badan Persiapan, dan kami tidak suka kalau orang yang tidak ada urusan dalam hal ini ikut campur, karena nanti Proklamasi ini bisa dimundurkan lagi, " ucap Chairul Saleh.

Hatta menyuarakan “oke kita semua yang hadir di sini menandatangani naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagai dokumen bersejarah. Ini penting untuk anak dan cucu kita. Mereka harus tahu siapa yang ikut memproklamasikan Indonesia merdeka. Ambil contoh Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Setiap orang yang memutuskan untuk ikut menandatangani keputusan mereka bersama-sama.”

Bukan hanya Hatta yang menginginkan agar teks Proklamasi ditandatangani oleh semua orang seperti Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Sukarno juga menyarankan agar semua yang hadir menandatangani. "Seperti Proklamasi Kemerdekaan Amerika," kata Sukarno, ditirukan oleh B.M. Diah.

Usulan ini, menurut Subardjo, menimbulkan banyak kegaduhan. Sukarni langsung berteriak, “Pendapat itu sama sekali tidak bisa diterima. Mereka yang tidak memberikan sumbangan apa-apa untuk persiapan Proklamasi tidak berhak menandatanganinya.”

Subardjo melihat Sayuti Melik berpindah-pindah dari satu orang ke orang lain. Dia melobi tua dan muda, termasuk Sukarni. Karena Subardjo berada di sebelahnya, ia mendengar apa yang dikatakan Sayuti Melik kepada Sukarni: "Saya kira tidak ada yang keberatan jika Sukarno dan Hatta menandatangani Proklamasi kemerdekaan atas nama rakyat Indonesia."

Hatta tidak setuju dengan pernyataan Subardjo yang mengatakan Sayuti Melik menyarankan agar Sukarno-Hatta menandatangani teks Proklamasi atas nama rakyat Indonesia. “Dalam lukisan Subardjo, Sayuti Melik tiba-tiba mendapat peran besar dalam sejarah, menjadi deus ex machina – dewa penolong. Seingat saya, Sukarn yang mengajukan proposal itu," kata Hatta.

Dan dalam tulisannya di harian AS, 18 Agustus 1969, Sukarni mengaku bahwa dialah yang mengusulkan agar teks Proklamasi hanya ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta atas nama rakyat Indonesia. "Esainya menegaskan ingatan saya," kata Hatta.

Setelah semua sepakat, teks Proklamasi yang otentik kemudian ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta atas nama rakyat Indonesia. Pertanyaan selanjutnya, dimana Proklamasi akan dibacakan?

Sukarni menginformasikan bahwa “masyarakat di dalam dan sekitar kota Jakarta telah terpanggil untuk berduyun-duyun ke Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggal 17 Agustus untuk mendengarkan proklamasi kemerdekaan. Demikian disusun dan sudah sewajarnya kita semua datang ke sana dan membaca Proklamasi.”

"Tidak," kata Sukarno, "lebih baik di kediaman saya di Pegangsaan Timur. Halaman di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Mengapa kami harus memprovokasi insiden?"

Sukarno menjelaskan, “Ikada Square adalah alun-alun umum dan pertemuan umum yang tidak diatur dengan otoritas militer dapat menyebabkan kesalahpahaman dan bentrokan kekerasan antara rakyat dan otoritas militer yang akan membubarkan rapat umum mungkin terjadi. Makanya saya minta kalian semua hadir di Pegangsaan Timur 56, sekitar pukul 10.00 WIB.”

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama