Detik Setelah Proklamasi

Ada dua permintaan yang datang ke Soekarno-Hatta setelah teks proklamasi dibacakan. Sebuah fakta sejarah yang jarang diulas dalam sejarah kita saat ini.

Hatta, Soekarno, dan Dokter Muwardi saat menerima kedatangan Barisan Perintis dari Penjaringan.

Foto lama yang dirilis oleh Dutch Docu Channel berbicara banyak. Dari belakang terlihat Mohammad Hatta, Soekarno dan Dokter Muwardi (Pimpinan Barisan Pelopor) mendapat penghormatan dari sekelompok pemuda (kebanyakan bersenjatakan bambu runcing). Dikatakan oleh saluran yang memberikan kesan lama tentang sejarah Belanda di situs YouTube itu, foto itu diambil pada saat setelah pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945.

Dalam otobiografi Sukarno (Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia) dan otobiografi Mohammad Hatta (Memoir) hal ini tidak diceritakan. Kisah tersebut justru muncul dalam buku Sudiro (mantan asisten umum Sudiro) yang berjudul Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945.

Menurut Sudiro, usai pembacaan proklamasi, Bung Karno dan Bung Hatta bergegas masuk ke ruangan. Namun baru saja memasuki ruangan, tiba-tiba dari arah Gambir terdengar suara barisan dan nyanyian rombongan pasukan. Beberapa saat kemudian, sekitar 100 anggota Barisan Pelopor dari Penjaringan yang dipimpin S. Brata tiba.

“Mereka rupanya sangat kecewa karena terlambat…” kenang Sudiro

Di halaman rumah Bung Karno, Brata kemudian menghentikan barisan. Bercucuran peluh, ia lalu berteriak lantang meminta Bung Karno membacakan proklamasi sekali lagi. Pasalnya, mereka jauh-jauh datang dengan berjalan kaki dengan maksud hanya mendengarkan proklamasi yang sedang dibacakan.

Mendengar alasan Brata, Bung Karno dan Bung Hatta kemudian meninggalkan ruangan. Rupanya mereka berdua tidak tega membiarkan para pemuda yang berjiwa besar itu mau menyaksikan dan mendengarkan proklamasi kemerdekaan bangsanya.

Meski sedikit demam, Bung Karno berbicara di depan mikrofon. Dengan nada suara yang lembut namun tegas, beliau menyatakan bahwa pembacaan proklamasi tidak dapat diulang.

“Karena proklamasi hanya diucapkan sekali, tetapi akan berlaku selamanya,” kata Bung Karno.

Brata tidak puas hanya mendengarkan penjelasan Bung Karno. Ia lalu meminta Hatta memberikan pesan singkat. Bung Hatta mengabulkan permintaan itu. Bukti otentik kejadian tersebut terekam dalam dua foto yang diambil oleh Mendoer bersaudara dari IPPHOS yang saat ini menjadi koleksi museum di Belanda.

Fakta sejarah kedua terjadi saat upacara proklamasi selesai dan Bung Karno hendak beristirahat di kamarnya. Sementara itu, Hatta sudah kembali ke rumahnya di Jalan Miyakodori (sekarang Jalan Diponegoro).

Dalam otobiografinya, Bung Karno menceritakan bahwa ketika dia sedang duduk di kursi dengan kepala di kedua tangan, tiba-tiba ada ketukan di pintu kamar. Saat dibuka ternyata Sudiro.

“Dia melaporkan bahwa lima perwira Jepang telah menerobos masuk ke ruang tamu. Mereka minta bicara dengan saya…” kenang Bung Karno.

Dalam bukunya, Sudiro masih mengingat Bung Karno dan kemudian mengganti piyamanya dengan pakaian yang sebelumnya dipakai untuk membaca proklamasi. Begitu melihat Sukarno datang, salah satu Kenpeitai (Polisi Militer Jepang) setengah berteriak:

"Kami dikirim oleh Gunseikan Kakka untuk melarang Sukarno Kakka mengucapkan proklamasi!"

“Saya sudah mengucapkan proklamasi,” jawab Sukarno dengan nada tenang.

"Apakah kamu?"

“Ya itu…” jawab Sukarno kembali.

Bung Karno masih ingat wajah pemimpin utusan yang tampak marah. Tanpa disadari, tangan Jepang itu naik ke pinggangnya dan hendak melangkah untuk mengancam Bung Karno.

Namun aksi itu tidak terjadi, ketika Panglima Kenpeitai melihat sekeliling: ratusan anggota Barisan Pelopor tampak sudah mengacungkan senjata tajam seolah siap menerkam. Tanpa izin, mereka kemudian meninggalkan Pegangsaan Timur.

Setelah Jepang pergi, Soekarno kemudian mengeluarkan seruan untuk membentuk Barisan Berani Mati. Hal ini harus dilakukan mengingat proklamasi kemerdekaan harus dipertahankan sekuat mungkin, jika perlu dengan menggunakan kekuatan dan senjata.

Panggilan itu langsung disambut. Banyak orang Indonesia yang kemudian mendaftarkan diri untuk bergabung dalam barisan relawan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama