Agen Intelijen Uni Soviet di Indonesia

Berapa banyak agen intelijen Uni Soviet (KGB dan GRU) yang beroperasi di Indonesia?

Nikolay Grigoryevich Petrov, seorang agen GRU di Indonesia yang membelot ke Amerika Serikat.

Anatoliy Babkin pertama kali tiba di Jakarta pada 1956 untuk disimpan di Kedutaan Besar Uni Soviet. Dari atase politik rendah, kariernya kemudian naik menjadi Sekretaris Ketiga, Sekretaris Kedua (1961), dan Sekretaris Pertama (1966).

Pada 1969, Babkin yang lahir di Moskow tahun 1931, memulai penugasan yang keempat sebagai konselor.

Menurut Ken Conboy, penulis buku-buku intelijen dan militer, sebuah laporan CIA, yang juga diberikan kepada Satsus Intel – Satuan Khusus Intelijen ini bertanggung jawab kepada Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara, kini BIN)– mengingatkan bahwa pada awal kunjungannya keempat, Babkin adalah Residen, jabatan KGB (Komite Keamanan Negara, badan intelijen sipil Uni Soviet) yang setara dengan kepala stasiun CIA.

“Nama Babkin mudah diingat oleh para pejabat Bakin, bercanda bahwa nama dia dan organisasi mereka hanya berbeda satu huruf,” tulis Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia.

Desmond Ball, profesor di Pusat Studi Strategis dan Pertahanan Australian National University College of Asia and the Pacific, menyebut bahwa kehadiran Uni Soviet di Indonesia adalah nonkomunis terbesar di Asia Tenggara.

“Kedutaan besar Uni Soviet diawaki oleh sekitar 140 personel, sementara beberapa pejabat lainnya dipekerjakan di lembaga semi-resmi seperti Morflot, Sovexport, dll.,” tulis Des Ball dalam “How Moscow Steals ASEAN’s Secrets”, Pacific Defense Reporter, Vol. XV No.12, Juni 1989.

Sementara itu, Conboy mencatat, total ada lebih dari 90 diplomat resmi Uni Soviet dan lebih dari 170 orang pemegang visa usaha dan jenis visa lainnya. Dari semua itu, kurang dari 60 orang yang dipercaya terlibat dalam kegiatan spionase. Dari jumlah ini, anggota KGB melebihi jumlah GRU (Direktorat Intelijen Utama, badan intelijen militer), dengan rasio dua banding satu.

Para mata-mata Uni Soviet itu sering kali telah mempersiapkan diri dalam eksperimen. Banyak di antara mereka telah belajar bahasa Indonesia bertahun-tahun dan telah berulang kali disimpan di negeri ini. "Contohnya adalah Anatoliy Babkin," tulis Conboy.

Di samping memimpin KGB, Babkin Ceko juga merupakan kegiatan intelijen negara-negara Uni Soviet yang menempatkan perwira intelijennya di Indonesia, seperti Polandia, Bulgaria, Rumania, dan Hungaria.

“Babkin outdoor mengumpulkan para kepala intelijen negara-negara Pakta Warsawa pada akhir pekan di sebuah hotel di pantai Jawa. Mereka sering berselancar sambil berdiskusi, sehingga Satsus Intel menyadap pembicaraan tersebut,” tulis Conboy.

Dengan jumlah personel yang minim, Satsus Intel harus memilih target yang diintai. Pada April 1969, mereka memulai operasi pengintaian di depan Kedubes Uni Soviet. Mereka mengintai kendaraan yang digunakan oleh mata-mata yang dicurigai termasuk Babkin.

Pembelotan

Babkin pernah panik ketika seorang agen GRU, Nikolay Grigoryevich Petrov, membelot ke Amerika Serikat, pada Juni 1972. Dia berjaga-jaga di pos komando di keamanan, menugaskan semua agen KGB dan GRU untuk mengawasi stasiun kereta api, terminal bus, dan bandar udara. Mereka melaporkan semua perkembangan kepada Babkin melalui telepon.

“Ini benar-benar menelanjangi diri mereka. Kami mendapat konfirmasi dari kecurigaan kami selama ini tentang siapa-siapa saja yang menjadi perwira intelijennya,” kata Bram Mandagi kepada Conboy. Bram Mandagi adalah veteran penangkap mata-mata dan satu dari tiga orang yang terlibat dalam penyusunan rencana operasi Satsus Intel.

Namun, mereka tidak berhasil menemukan Petrov. CIA menerbangkan sang kapten dengan penyamaran memakai seragam marinir Amerika Serikat dari pangkalan udara Halim Perdanakusumah ke Washington DC. Setelah mendapat identitas baru, dia bekerja untuk CIA dan ditempatkan di Virginia.

"Dengan nama sandi Houdini, dia menjadi salah satu agen pembelot GRU yang paling produktif pada waktu itu," tulis Conboy.

Pada akhir 1970-an, Petrov tak bisa menahan rindu kepada istri dan anaknya di Uni Soviet. Penghubung CIA melarangnya tapi tetap pergi ke Uni Soviet untuk meminta pengampunan. Sejak itu, kabarnya tidak terdengar lagi.

Pengusiran

Setelah kejadian pembelotan Petrov, Babkin masih menyimpan dua tahun lagi di Indonesia. Dia baru rilis pemberian pada 1974, sebagaimana terdata dalam Directory of USSR Ministry of Foreign Affairs Officials (1976), “Anatoliy Nikolayevich Babkin sebagai konselor di Jakarta sebelum Juli 1974.”

Di mana penugasan Babkin berikutnya belum diketahui. Namun, Conboy mencatat, pada 1 Desember 1975, Babkin tiba di Jakarta dari Singapura. Dia termasuk orang yang terdaftar oleh Satsus Intel karena Presiden Amerika Serikat Gerald Ford tengah berkunjung ke Indonesia.

“Dengan Satsus Intel mengawasi orang-orang ini secara ketat, Ford datang dan pergi tanpa kesulitan,” tulis Conboy.

Sementara itu, Des Ball mecatat bahwa pada tahun 1976 diperkirakan sekitar 60 perwira KGB dan GRU ditempatkan di Jakarta. Jumlah saat ini (1980-an) sekitar 70 orang, antara lain sekitar delapan orang yang terlibat dalam kegiatan SIGINT (Signals Intelligence).

Menurut Des Ball, besarnya kehadiran Soviet dan jumlah perwira KGB dan GRU mencerminkan penilaian Soviet terhadap potensi kepentingan strategi, politik, dan ekonomi Indonesia. Fokus kegiatan intelijen Soviet terutama pada politik internal Indonesia serta urusan ekonomi dan militer.

“Skala kegiatan ini dari fakta bahwa 54 diplomat Soviet diusir dari Jakarta karena melakukan spionase dalam 14 tahun dari tahun 1968 hingga 1982, atau rata-rata hampir empat diplomat per tahun,” tulis Des Ball.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama