Teka-teki Insiden Kwini

Dua versi kisah keterlibatan L.B. Moerdani dalam bentrokan antara dua unit elit ABRI.

Presiden Soeharto melantik Jenderal Benny Moerdani sebagai Panglima Angkatan Bersenjata, 29 Maret 1983.

Jakarta, Oktober 1964. Kawasan sekitar asrama Korps Komando Angkatan Laut (KKo AL) di Kwini, dicekam jaringan senja itu. Bunyi tembakan kerap terdengar, diselingi teriakan-teriakan dari para lelaki berambut cepak. sebagian berseragam hijau, sebagian lagi memakai pakaian preman. Kedua kelompok itu terlibat dalam suatu perkelahian massal yang seru.

Di tengah situasi tegang tersebut, Mayor L.B. Moerdani alias Benny Moerdani diam-diam memarkir jip-nya di satu sudut Pasar Senin. Ia kemudian bergerak ke arah gedung RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat). Setelah menyaksikan belasan prajurit Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan KKo AL bergeletakan dengan bermandikan darah, ia lantas bergerak ke asrama KKo.

Begitu sampai di pintu gerbang asrama pasukan elit Angkatan Laut itu, ia menyaksikan puluhan anggota KKo memakai seragam Tjakrabirawa tengah siap-siap mengokang senjata, sebagian terlihat di posisi tempur masing-masing.

Namun seolah tak peduli, Benny yang masih berseragam olahraga (karena baru pulang tenis utama di Senayan), tanpa ragu-ragu tetap melangkah. Alih-alih menyambut hardikan, beberapa prajurit Tjakrabirawa malah dengan sigap segera memberi hormat. mereka adalah anggota KKo yang dulu pernah menjadi anak buahnya di palagan Irian Barat.

“Siap Pak, bisa saya bantu?” kata salah satu dari mereka.

”Mana Komandanmu?” jawab Benny singkat.

“Siap Pak, silahkan tunggu…”

Para anggota KKo yang tidak mengenal Benny, terlihat tegang. sebagian saling berbisik dari jarak. Mereka takjub menyaksikan seorang petugas berpakaian olahraga berani masuk asrama militer yang bersiaga tengah. Tidak sampai dua menit, seorang perwira KKo datang dan langsung menemui Benny. Dialah Walikota Saminu, wong Solo kenalan lama Benny.

“Piye iki? Kok malah dadi ngene kabeh, Ben?” serunya

“Yo wis-lah, sing penting sekarang jaga pasukanmu agar jangan keluar asrama. Saya akan tertibkan anak-anak. Kalau kamu diserang, yaaa …Sudah silahkan, mau ditembak atau apa, terserah saja. Tapi saya minta jangan ada anggotamu keluar asrama.” jawab Benny.

“Yo, wis beres,” jawab Saminu sambil terus membuat perintah-perintah kepada para bawahannya.

Menyaksikan komandannya ada di lingkungan asrama Kwini, isu segera menyebar di kalangan anak-anak RPKAD. Beberapa teriakan: “Pak Benny ditangkap! Pak Benny ditangkap KKo!” Sontak mereka segera segera menuju asrama perawat putri RSPAD yang ada di samping asrama Kwini: menduduki tempurnya dan langsung membuat formasi. Di lantai atas asrama perawat tersebut, terlihat seorang prajurit RPKAD sudah mengarahkan sepucuk bazoka ke asrama KKo.

Suasana kawasan kawasan Kwini. Tak ada orang-orang sipil yang berani lewat wilayah tersebut. Mobil-mobil memilih memutar kembali, dari balik toko-toko sekitar Senen yang sebagian segera ditutup, orang-orang yang menahan udara, membayangkan bagaimana mereka akan menjadi ajang berseliwerannya peluru tajam.

Sementara itu, sambil menunggu datangnya perintah tembak, para anggota RPKAD sudah siap-siap menyerbu asrama Kwini. Alih-alih muncul perintah menyerbu, malah mereka malah berteriak teriakan galak Benny: “Sudah! Sudah! Pulang kalian semua!” ujar Benny yang tiba-tiba muncul dari arah pintu gerbang asrama Kwini.

Sambil mengibas-ngibaskan berbalik, Benny memerintahkan semua anggota RPKAD yang tengah siaga untuk mundur dari wilayah sekeliling Kwini. Mendengar teriakan komandan, para prajurit komando pasukan itu menurut. Namun ada beberapa dari mereka yang terlihat “agak tidak terima” untuk mundur. Nah prajurit-prajurit ini yang kemudian dihormati oleh Benny dan dengan tegas diperintahkan untuk naik ke atas truk masing-masing dan kembali ke asrama mereka di Cijantung. Demikian pemaparan Insiden Kwini versi Benny, seperti yang dia sampaikan kepada Julius Pour dalam Benny Moerdani, Profil Prajurit Negarawan.

Lantas bagaimana versi prajurit KKo AL yang pernah terlibat dalam insiden tersebut?, Kopral (Purn) Ali Mutaqiem (79) menampik cerita Benny. Alih-alih menyetujui Benny sebagai penengah, Ali malah menyebut Benny justru datang ke Kwini sebagai pemimpin para penyerbu. Dengan mata kepala sendiri, Ali melihat Benny turun dari sebuah panser kecil di salah satu sudut asrama Kwini dan langsung melakukan gerakan memanjat pagar asrama.

“Dia sebenarnya sudah masuk dalam teleskop Prajurit Soekandar, penembak runduk kami…” ungkap anggota KKo AL yang pada 1972 mengajukan pensiun dini itu.

Saat beberapa detik lagi picu pelatuk akan ditarik, tetiba seorang perwira KKo AL bernama Kapten Munarto berteriak,” Jangan tembak! Biarkan saya yang menangkap dia!”

Benny kemudian ditangkap. Dia digelandang ke depan pos penjagaan, bergabung dengan beberapa anak buahnya yang berhasil ditangkap oleh para prajurit KKo. Tak lama kemudian Walikota Saminu (Komandan Batalyon II Tjakrabirawa dari KKo AL) datang. Ia segera mendekati Benny dan bertanya dalam nada agak keras.

“Ben, mereka ini anak buahmu kan?!”

Hening. Benny tak menjawab.

Singkat cerita, Benny dan anak buahnya kemudian dilepaskan. Beberapa hari kemudian, Walikota Benny dan Walikota Saminu dipanggil oleh Presiden Sukarno ke Istana Negara. Di depan mereka lalu dijejerkan baret merah menyala milik RPKAD dan baret merah darah milik Resimen Tjakrabirawa. Presiden menyilakan semua untuk melihat sendiri, apakah kedua baret yang menjadi pangkal masalah itu, ukuran yang sama? Kasus kemudian dianggap selesai.

Sebagai bentuk perdamaian, pihak Markas Besar ABRI kemudian mengundang prajurit-prajurit dari kedua belah pihak untuk datang ke Gedung Bulutangkis Senayan. Menurut Benny, mereka disuguhi pertunjukan lawak dari S. Bagio cs. Semua berpelukan, semua menyatakan masalah telah selesai. “Tapi tetap saja pas pulang dari acara itu, kami terlibat kembali perang botol,” ujar Ali sembari tertawa.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama