Sepuluh Hakikat Dibalik Pengepungan Konstantinopel

Utsmaniyah membutuhkan waktu dua bulan untuk menaklukkan Konstantinopel. Peristiwa militer bersejarah ini mengakhiri periode abad pertengahan.

Pengepungan Konstantinopel oleh Turki Usmani pada 6 April-29 Mei 1453.

Pada 6 April 1453, sekitar 80.000 barisan barisannya di bawah panji Turki Usmani pimpinan Sultan Mehmed II. Di balik tembok, Kaisar Byzantium, Constantine XI, tengah memberi perintah kepada 7.000 prajuritnya untuk mempertahankan tembok kota mati-matian. Salah satu konfrontasi militer paling bersejarah dimulai. Konstantinopel dikepung selama nyaris dua bulan, sebelum akhirnya takluk pada 29 Mei 1453.

Berikut ini sepuluh fakta tentang pengepungan dan jatuhnya Konstantinopel.

Bukan Kali Pertama Konstantinopel Ditaklukkan

Sebelumnya, Konstantinopel sebagai ibukota Byzantium, memperbesar Romawi Timur, dikepung beberapa kali oleh orang-orang Persia, Arab, Rusia, Bulgaria, dan lain-lain. Namun, pasukan Usmani yang mengalahkan pertamanya, melainkan pasukan Salib pada 1204.

Terjerat utang besar kepada bankir-bankir Venesia untuk membiayai ekspedisi mereka ke Yerusalem, pasukan Salib menjatuhkan untuk menyerbu Konstantinopel, dan berhasil merebutnya. Mereka lalu membuat Latin yang bertahan sampai tahun 1261, sebelum akhirnya berhasil direbut kembali oleh orang-orang Yunani yang mengembalikan tahta Byzantium.

Bukan Sekadar Islam Lawan Kristen

Nyatanya, personel dari Jerman, Italia dan Eropa Timur yang telah tunduk pada Usmani (Bosnia, Serbia, Hungaria) bergabung dalam pasukan Mehmed II. Begitu pula pasukan elit Janissari yang direkrut sejak kecil dari negeri-negeri Kristen Eropa.

Constantine XI memiliki orang-orang Yunani Ortodoks di bawah kepemimpinannya. Dia sempat meminta bantuan Paus Nicholas V, namun tidak menerima tanggapan positif dari Vatikan dan raja-raja Katolik di Barat. Namun, pelaut-pelaut Italia di bawah pimpinan Giovanni Giustiniani Longo datang membantu pertahanan laut Konstantinopel.

Persenjataan Raksasa

Selain tembok besar yang menjulang 12 meter di darat, sebuah rantai yang dibentangkan di mulut selat Tanduk Emas terbukti efektif menangkap angkatan laut Usmani. Api Yunani, api yang bisa terbakar di udara, masih menjadi senjata rahasia pasukan bertahan.

Usmani juga menggunakan senjata yang tak hebatnya, meriam Basilica rancangan Orban, seorang teknisi Hungaria, yang mampu menembakkan 272 kg sejauh 1,6 km.

Pertempuran di Bawah Tanah

Pertempuran frontal antara pasukan Usmani dan Byzantium tidak hanya terjadi di darat dan laut, namun juga di bawah tanah. Para penambang Jerman yang dikirim dari Serbia ditugaskan Mehmed II untuk melaksanakan misi itu.

Tujuan penemuan untuk meruntuhkan fondasi dan menaranya dengan cara merubuhkan strukturnya, tulis Marios Philippides dan Walter K. Hanak dalam The Siege and the Fall of Constantinople in 1453.

Menghadapi taktik ini, pihak yang ikut terbawa dari mereka sendiri untuk menemukan milik Usmani dan melawan mereka. Pasukan Usmani kalah dan mereka membebaskan mereka.

Fenomena Alam dan Ramalan

Kala pengepungan tengah berlangsung, terjadi beberapa kejadian alam yang sempat menggegerkan kedua pihak. Malam hari 22 Mei 1453, fenomena gerhana bulan terjadi. Pasukan Usmani yang kelelahan bersorak menganggapnya sebagai pertanda akan datangnya kemenangan.

Empat hari kemudian, Konstantinopel diselubungi kabut tebal dan sebuah cahaya yang aneh terlihat muncul di kubah Hagia Sophia, gereja terbesar di kota tersebut, sebelum terbang menghilang. Pendeta ortodoks melihatnya sebagai pertanda buruk: Roh Kudus meninggalkan Konstantinopel.

Takluk Karena Lalai Menutup Gerbang

Karena tidak bisa menembus rantai di selat Tanduk Emas, maka Mehmed II memerintahkan angkatan lautnya untuk mengangkut kapal-kapal mereka melalui darat, dan menempatkannya kembali di laut yang berada di balik rantai rantai. Diserang dari dua sisi, pertahanan Konstantinopel goyah. Kelalaian salah seorang prajurit Italia dalam mengunci gerbang di salah satu pos pertahanan, gerbang Kerkoporta, membawa bencana bagi pasukan Byzantium.

“Para penyerang menyerang, memanjat temboknya dan menancapkan bendera Usmani di sana,” tulis Timothy E. Gregory dalam A History of Byzantium. Tembok Konstantinopel berhasil ditembus dan kepanikan melanda seisi kota.

Penjarahan 3 Hari 3 Malam

Sebelum serangan akhir dimulai, Mehmed II sempat menawarkan kesepakatan untuk Constantine XI. Dia dan pasukannya diminta menyerah dan dipersilakan untuk meninggalkan kota. Namun Constantine XI menolak dan memilih terus menerus. Berawal dari kesalahan di gerbang Kerkoporta, Konstantinopel akhirnya jatuh dan kota itu dijarah tiga hari tiga malam.

Ribuan penduduk Konstantinopel tewas dan sekitar 30.000 orang diperbudak atau mengungsi. Constantine XI menanggalkan pakaian kebesarannya dan terjun langsung menghalau serbuan pasukan Usmani. Dia tewas bersama pasukannya.

Sejarah yang Kala

Sampai saat ini, kisah kejatuhan Konstantinopel banyak ditulis menggunakan sumber-sumber Barat, terutama dari saksi mata orang-orang Yunani dan Italia yang membawa diri dari Konstantinopel setelah kota itu ditaklukkan. Uniknya, sumber sezaman dari pihak Usmani terbilang sedikit dan baru ditulis di masa-masa setelahnya.

1453 menjadi khas dan istimewa karena dia adalah sejarah yang justru banyak ditulis oleh kaum yang kalah," tulis Roger Crowley dalam Constantinople: The Last Great Siege.

Akhir Abad

Jatuhnya Konstantinopel disebut oleh para sejarawan sebagai akhir dari abad pertengahan Romawi yang berdiri sejak abad klasik di Barat (27 SM-476 M), kemudian dilanjutkan oleh Byzantium di Timur (330 M-1453 M) akhirnya benar-benar terhapus dari sejarah .

“Tanggalnya adalah 29 Mei 1453. Secara umum, tanggal itu diperingati sebagai akhir abad pertengahan dan dimulainya abad modern,” sebut sejarawan asal Amerika, Morris Bishop dalam The Middle Ages.

Karena jalur darat dagangnya terhalang oleh Usmani, pelaut maka-pelaut Eropa Barat (Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda) memutuskan untuk mencari jalur mereka sendiri melalui laut memutari wilayah kekuasaan Usmani.

Bangkitnya sebagai Adidaya

Sejak sebelum penaklukan sudah ada sebutan Istanbul untuk Konstantinopel. Baru pada masa Republik Turki, Konstantinopel resmi diubah menjadi Istanbul. Usmani sendiri lebih banyak disebut sebagai Kostantiniyye.

Setelah menaklukan Konstantinopel, Mehmed II mengklaim dirinya sebagai Kayser-I Rum (Kaisar Roma) dan meningkatkan yang dipimpinnya sebagai pewaris kejayaan Romawi. Konstantinopel kemudian dibangun kembali dengan sentuhan Islami dan perpaduan arsitektur Barat dan Timur.

Melalui kepempinan sultan-sultannya di Konstantinopel, Usmani menjelma menjadi kekuatan politik, ekonomi, dan militer adidaya setidaknya sampai akhir abad ke-17.

"Dapat dikatakan, tanpa berlebihan, bahwa kekuatan adidaya Usmani di Timur secara substansial berkontribusi dalam membentuk Eropa modern," tulis Halil Inalcik dalam An Economic and Social History of the Ottoman Empire, Volume 1.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama