Perpecahan Perkumpulan Pemuda Pasca Proklamasi

Kelompok pemuda mengambil jalan yang berbeda setelah proklamasi kemerdekaan. Ada seseorang yang menodongkan pistol ke kelompok lain.

Parade perayaan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945.

Lepas isya di Asrama Mahasiswa Prapatan 10, Jakarta. Enam puluhan orang bersiap-siap untuk rapat rapat anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), badan legislatif sementara Republik Indonesia. Mereka menunggu Sukarno dan Hatta tapi tak kunjung datang. Rapat berlangsung hingga pukul 22.00.

Dalam rapat 22 Agustus 1945 itu, Sutan Sjahrir sempat berbicara. Dia berkomentar tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bagi dia, cara Proklamasi kurang sreg. “Dianggapnya sebagai made in Japan,” kenang Alizar Thaib dalam 19 September dan Angkatan Pemuda Indonesia.

Sjahrir anti-Jepang, tapi dia condong “lunak” terhadap Sekutu. Sjahri sama sekali tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa kita harus mempersiapkan diri untuk, sehingga perdamaian atau menggunakan jalan perundingan merupakan satu-satunya alternatif cara perjuangan Sjahrir," tulis Hadidjojo Nitimihardjo dalam Ayahku Maroeto Nitimihardjo.

Rapat selamat dua jam itu tak mencapai kesepakatan siapa saja nama-nama yang akan menjadi anggota KNIP. Meski rapat sudah bubar, masih ada sepuluh orang bertahan di ruang rapat. Mereka anggota Komite van Aksi, komite yang dibentuk oleh kelompok pemuda dari Prapatan 10 dan Menteng 31 untuk mempersiapkan Proklamasi. Nama itu mengacu pada nama jalan dan nomor kediaman mereka.

Kelompok Prapatan 10 terdiri dari mahasiswa kedokteran Ika Daigaku yang mempengaruhi pemikiran Sutan Sjahrir, sedangkan Menteng 31 berasal dari pemuda-pemuda yang beraliran kiri dan cenderung lebih revolusioner. Dua kelompok inilah yang terlibat aktif dalam mendesak Sukarno dan Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan.

Tapi Proklamasi, Prapatan 10 dan Menteng 31 pendapat tentang langkah selanjutnya yang harus dicapai berbeda oleh gerakan pemuda. Prapatan 10 berupaya mengikuti saran Sjahrir dengan membentuk organisasi perdamaian semacam palang merah. Sebab Sekutu dan Belanda akan datang lagi ke Indonesia. Itu dikatakan Sjahrir seusai rapat di depan anggota Komite van Aksi.

“Kalian tidak tahu bahwa Sekutu menang perang dan Belanda salah satu anggota Sekutu. kita bentuk organisasi. Biarlah orang-orang Belanda itu kita terima. Sesudah lima tahun kita adakan pemberontakan,” kata Sjahrir seperti dikutip oleh A.M. Hanafi dalam Menteng 31 Membangun Jembatan Dua Angkatan.

Mendengar itu, anggota Komite van Aksi terdiam. Lalu Djohar Noor, perwakilan kelompok Prapatan 10 di Komite van Aksi, berteriak, “Tidak! Tidak!” tanda ketidaksetujuan pada proposal Sjahrir. Dia lebih memastikan Komite van Aksi melakukan aksi frontal seperti pengambilalihan markas tentara Jepang dan memobilisasi massa seperti yang telah ditetapkan pada 15 Agustus 1945.

Eri Soedewo, salah satu anggota Komite van Aksi dari Prapatan 10, bangkit dari duduknya dan menghampiri Djohar. Dia tak memilih dengan ruangan tawaran itu dan buru-buru mengajak Djohar ke lain.

Eri mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan menodongkannya ke kening Djohar. Terasa dingin bagi Djohar. Nyawanya hampir lepas. “Sabar-sabar,” kata Djohar. Saat itu, para pemuda dan mahasiswa membawa senjata api sudah kaprah.

Kemudian Eri berkata, “Revolusi sudah gagal. Pemimpin-pemimpin harus sesuai keinginan. Kau mengorbankan mahasiswa, justru mahasiswa itu bunganya bangsa.”

Djohar menanyakan apa mau Eri. “Mari kita dirikan palang merah. Berdemonstrasi di jalan-jalan dengan slogan-slogan. Di mana-mana, di tembok dan gedung-gedung kita coreti slogan dengan pinsil dan kwas,” kata Eri sambil menurunkan pistolnya.

Djohar meminta Eri untuk mendekatkan proposal itu dengan anggota lainnya. Eri lalu menjadi pemimpin rapatnya. Ketika Eri memimpin, Djohar mewanti-wanti anggota Komite van Aksi lainnya untuk berhati-hati dengan Eri karena dia punya niat untuk membunuh mereka. Untuk menyelamatkan mereka, Djohar memasukkan segera teman-temannya ke mobil jenazah agar keluar dari Prapatan 10.

Dalam rapat, Eri menelan kegagalan penerapan kelompok Menteng 31 yang memilih menggunakan cara-cara frontal dan konfrontatif untuk melucuti kekuasaan Jepang. Tapi wakil-wakil Menteng 31 membela diri.

“Bukan berawal dari kesalahan kami, pemuda Komite van Aksi. Sebab yang utama dan pertama-tama adalah kegagalan dari pihak Daindancho Kasman Singodimedjo,” terang Hanafi.

Kelompok pemuda telah meminta Kasman untuk mengambil senjata-senjata tentara Jepang. Setelah itu, senjata akan diberikan ke pemuda. Tapi Kasman segera melakukannya. Jepang keburu memanfaatkan senjata itu. “Maka nama Kasman Singodimedjo di lingkungan kami berubah menjadi ‘Singa Kentut di atas Meja’,” lanjut Hanafi.

Hanafi menambahkan, julukan itu bukan maksud menghina. “Ini melukiskan situasi psikologis di barisan barisan para pemuda revolusioner pada waktu itu,” sebut Hanafi.

Djohar lalu dapat kesempatan berbicara. Dia mengajukan opsi kepada para pemuda untuk memilih: ikut Komite van Aksi atau Eri Soedewo. “Siapa yang mau ikut dengan saya bersama dalam Komite van Aksi Proklamasi, mari ke Menteng 31,” kata Djohar.

Rapat makin kisruh, Perpecahan kian nyata. Kelompok Prapatan 10 menyingsikan strategi Komite van Aksi.

Chaerul Saleh, wakil kelompok Menteng 31, minta kesempatan berpendapat. Jam telah menunjukkan hampir pukul 3 dini hari. Dia mencoba mengadakan rapat. Menurutnya, orang-orang yang berada di ruangan itu, yang menyusun langkah-langkah van Aksi setelah kemerdekaan, telah mengorbankan Komite segalanya untuk Republik.

“Mereka adalah avant garde nasional Indonesia... Tidak satu pun di antara kawan-kawan kita anggota Komite van Aksi yang tukang catut seperti yang saudara-saudara sangsikan dan curigai,” kata Chaerul.

Chaerul juga mengatakan jika ada ketidakcocokan, selesaikan baik-baik. Dan pada akhirnya, dia mengucapkan terima kasih kepada kelompok Prapatan 10 telah memperkenankan asramanya dipakai untuk menggelar rapat-rapat penting.

Ucapan Chaerul berhasil meredakan, tapi tidak mampu mencegah kelompok kelompok pemuda. Kelompok Prapatan 10 tetap bergantung pada diri sendiri seperti proyek Eri Soedewo. Perjuangan kelompok pemuda terpecah belah.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama