Pelajar Indonesia di Jepang Bekerja di Kantor Pusat Sekutu

Setelah Jepang menyerah, mahasiswa Indonesia di Jepang bekerja di markas Sekutu. Nyawanya terjamin tapi ada yang ditabrak tentara Sekutu.

Demonstrasi mahasiswa Indonesia di Jepang pada tahun 1949.

Serangkaian kereta listrik tiba di stasiun Tokyo. Hampir setiap keretanya penuh sesak oleh penumpang orang Jepang. televisi satu kereta. Sangat rendah. Tertulis di badan kereta tersebut “Kereta Khusus untuk Tentara Sekutu”. Bahrin Samad, seorang pelajar Indonesia di Jepang, langsung memasukinya.

Bahrin percaya diri memasukinya karena mengenakan seragam GI (Government Issue atau Tentara Amerika Serikat). Pada stasiun berikutnya, beberapa anggota GI kulit putih masuk. terkadang bernyanyi-nyanyi, lainnya terlihat mabuk. Seorang GI mendekat ke Bahrin. Tanpa banyak cingcong, dia langsung mentransfer muka Bahrin.

“Oleh si penampar pada saat itu saya dinilai overacting,” kata Bahrin dalam “Kena Tampar Tiga Kali” termuat dalam Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang.

GI itu naik darah melihat Bahrin mengenakan seragam GI dan masuk kereta khusus tentara Sekutu. Bahrin turun pada stasiun berikutnya untuk karya lebih lanjut. Dia menyadari kesalahannya. Tak sembarang orang boleh mengenakan seragam GI meski bekerja di kantor tentara Sekutu sebagai penerjemah.

Bahrin adalah salah satu eks pelajar Indonesia di Jepang dari program Nampo Tokubetsu Ryugakusei (Nantoku). Mereka berangkat bergelombang pada 1943–1944. Semua biaya yang ditanggung oleh pemerintah Jepang. Tapi keadaan berubah setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945. Beasiswa mereka terhenti. Hidup mereka morat-marit.

Beberapa Nantoku memilih pulang ke Indonesia dengan susah payah. Mereka harus menjalani pemeriksaan ketat dari tentara Belanda di Jepang dan mengambil kewarganegaraan (onderdaan) Belanda untuk sampai ke Indonesia. Tapi setelah tiba, mereka justru menggabungkan diri dengan kelompok pro-Republik.

Sebagian kecil Nantoku tetap tinggal di Jepang. Tapi ini juga bukan urusan gampang. Uang tak ada. Barang-barang sulit didapat. Hidup susah walaupun masih bujangan. Beruntung Markas Tentara Pendudukan Sekutu (GHQ SCAP) membuka lowongan kerja untuk tenaga penerjemah dan juru ketik di Yokohama, Gifu, Tokyo, dan kota lainnya. Jenis-jenis pekerjaan itu tak semua orang Jepang bisa dilakukan sehingga Nantoku tertusuk besar diterima.

“Banyak dari mereka memperoleh pekerjaan di berbagai bagian Markas GHQ SCAP sebagai juru bahasa, penerjemah, dan sejenisnya,” sebut Ken'ichi Goto dalam “Bright Legacy or Abortive Flower: Indonesian Students in Japan While World War 2”, termuat dalam Japanese Cultural Policies di Asia Tenggara selama Perang Dunia 2.

Nantoku memiliki modal kemampuan bahasa Jepang, Inggris, dan Belanda. Itu membantu mereka punya daya tawar lebih di mata tentara Sekutu. Gaji mereka juga terbilang cukup baik selama bekerja di markas tentara Sekutu. Affan, kebutuhan makan dan sandang mereka terjamin.

Nantoku juga menjalin hubungan baik dengan tentara Sekutu. “Banyak di antara mereka Jepang kawan dengan para mahasiswa kita dan dari pergaulan itu tampil nama-nama panggilan baru untuk mahasiswa-mahsiswa kita,” cerita Sam Suhaedi dalam Suka Duka Pelajar Indonesia di.

Bahrin, contohnya, menerima seragam dari perwira GI. Memang seragam itu tak boleh dipakai. Polisi Militer Sekutu akan memeriksa orang-orang Asia yang mengenakan seragam GI. Tapi karena merasa sudah dihadiahi oleh seorang perwira, Bahrin merasa aman. Nyatanya dia justru dapat tamparan dari seorang tentara Sekutu di kereta.

Omar Barack, seorang Nantoku lainnya, menceritakan bahwa dirinya beruntung bisa bekerja di markas tentara Sekutu. Uangnya sering berlebih sampai dia bisa meminjamkannya kepada tentara Sekutu.

“Karena belum mendapat bayaran, maklumlah mereka sangat membutuhkannya. Sebagai ketidakseimbangannya mereka memberikan rokok dan barang-barang lainnya seperti cokelat,” kata Omar dalam Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang.

Sementara itu, Arifin Bey, Nantoku penyintas bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, mengatakan dirinya tidak perlu khawatir tentang makan, pakaian, dan perumahan. “Karena dia punya akses ke fasilitas tentara Amerika Serikat,” sebut Ken’ichi Goto.

Yang menarik, Nantoku bisa memperoleh informasi berharga terkait situasi di Indonesia selama bekerja di markas tentara Sekutu. Ini misalnya terjadi saat agresi militer Belanda pertama pada Juli–Agustus 1947. Nantoku memprotes keras agresi dan demonstrasi melalui Serikat Indonesia, organisasi pelajar Indonesia di Jepang yang berdiri sejak 1930-an.

“Kami telah menggelar demostrasi, mengadakan hubungan dengan luar negeri untuk mengingkatkan dukungan internasional bagi RI,” kata Umarjadi Nyotowijono, mantan Nantoku dan anggota Serikat Indonesia di Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang.

Demonstrasi para Nantoku sebenarnya pernah digelar tak lama setelah Proklamasi kemerdekaan. Mereka berkumpul di Taman Hibiya, Tokyo, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia pada 4 September 1945. Demonstrasi itu melibatkan pula pelajar asing dari Vietnam, Filipina, Korea, Tiongkok, dan Turki.

“Kampanye dan unjuk rasa ini membuat bingung tentara Inggris yang sedang bertugas di Indonesia dan Vietnam untuk menahan perang Sekutu dari kamp interniran dan melucuti senjata tentara Jepang,” catat Aiko Kurasawa dalam Sisi Gelap Perang Asia.

Tentara Inggris sempat meminta para pemimpin tentara Sekutu di Jepang untuk melarang demo semacam itu. Tapi larangan itu tak pernah diterapkan. Buktinya beberapa kali para Nantoku menggelar demo lagi.

Demonstrasi Nantoku terbesar berlangsung pada 19 Januari 1949, satu bulan setelah militer Belanda II pada Desember 1948. Melalui agresi militer, Belanda menangkap Sukarno dan Hatta. Para Nantoku protes keras dengan mengirim petisi ke kantor perwakilan PBB di Jepang. Isinya menarik mundur pasukan Belanda dan pengakuan terhadap Republik Indonesia.

Setelah mengirim petisi, para Nantoku berkumpul bersama 300 orang simpatisan Indonesia dari berbagai negara di Taman Hibiya. Dari situ, mereka bergerak ke Kedutaan Besar Belanda.

Sepanjang jalan, mereka membentangkan spanduk “Merdeka” dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tapi mereka gagal mendekat ke Kedubes Belanda. Polisi Jepang memasang barikade. Beberapa wakil Nantoku kemudian berorasi.

Saat orasi, seorang Nantoku bernama Omar Tuhsin terlibat bentrok dengan polisi Jepang. Dia kelebihannya sehingga diangkut dan ditahan oleh polisi militer Sekutu. Tapi tersingkir hanya sebentar. Esok setiap harinya dia sudah bebas.

Pendudukan tentara Sekutu di Jepang berakhir pada tahun 1952. Bersama itu pula, para Nantoku berkarya masa tinggalnya di Jepang. Mereka pulang ke Indonesia secara bergilir.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama