Mata-mata Jepang dalam Kekalahan Belanda

Jepang mengalahkan Belanda dengan mudah. Ada peran mata-mata yang sudah lama tinggal di Indonesia.

Tentara Belanda menyerah kepada tentara Jepang.

Orang Jepang sudah tinggal di Surabaya sejak zaman penjajahan Belanda. Banyak dari mereka telah membuka toko, misalnya toko Chioda, yang bersebelahan dengan toko besar Inggris, Whiteway. Namun, mereka tiba-tiba meninggalkan tokonya. Mencurigakan.

Ternyata, pemerintah Jepang telah memberi tahu warganya bahwa perang dengan Belanda tidak bisa dihindari. Mereka pun pulang secara bertahap dengan kapal-kapal Jepang yang biasa berlayar ke Hindia Belanda.

“Toko-toko Jepang ditinggalkan atau dibeli oleh para pedagang Cina. Ada beberapa yang diklaim oleh pemerintah militer Jepang. Namun, banyak sumber yang mengatakan terbengkalai,” kata Meta Sekar Puji Astuti, Ketua Jurusan Sastra Jepang Universitas Hasanuddin Makassar.

Sejarawan Frank Palmos di Surabaya 1945: Sakral Tanahku mengatakan bahwa kepergian mereka adalah bagian dari rencana panjang Jepang yang dipantau oleh badan intelijen Hindia Belanda. Seperti yang dijelaskan dalam laporan resmi tentang spionase Jepang, Sepuluh Tahun Penggalian Jepang di Hindia Belanda, diterbitkan oleh Dinas Hindia Belanda pada tahun 1942.

"Dokumen ini melaporkan secara rinci taktik Jepang untuk memperkuat jaringan spionasenya beberapa tahun sebelum serangan itu," tulis Palmos.

Palmos melanjutkan, intelijen pemerintah kolonial Belanda melampirkan bukti bahwa warga sipil Jepang yang hilang sebelum pasukan Jepang mendarat, kembali dengan seragam militer dengan pasukan pendudukan.

Gagasan Anak Agung Gede Agung, menteri luar negeri era Sukarno, mengungkapkan bahwa mata-mata Jepang pada masa kolonial Belanda sering bepergian dari kota ke kota, dari pelabuhan ke pelabuhan, untuk mengumpulkan informasi, tanpa menimbulkan kecurigaan dengan menyamar sebagai pengusaha.

"Tindakan mata-mata Jepang menjadi jelas ketika mereka kembali sebagai bagian dari pasukan pendudukan," tulis Palmos. Yang jelas, informasi yang mereka kumpulkan telah dilaporkan dan dimanfaatkan dengan baik oleh militer Jepang dalam menentukan lokasi pendaratan pasukan infanteri mereka.

Bahkan, menurut Palmos, berkat pengetahuan yang mendalam dari mata-mata Jepang tentang industri perminyakan di Hindia Belanda, sabotase Belanda terhadap instalasi minyak sebelum kekalahan dengan mudah diatasi oleh Jepang.

Pada tanggal 8 Desember 1941 melalui siaran radio diumumkan perang antara Jepang dan Belanda. Pada tanggal 9 Januari 1942, Belanda menangkap sekitar 2.093 orang Jepang, hampir semuanya laki-laki, yang masih berada di Hindia Belanda dan mengasingkan mereka ke Australia. Jepang mengalahkan Belanda dengan mudah dan mengambil alih pendudukan Indonesia pada Maret 1942.

“Sejarah toko Jepang ini bisa dikatakan terhapus dari Hindia Belanda, yang kemudian tergantikan dengan sejarah pendudukan Jepang di Hindia Belanda,” kata Meta.

Meskipun sebagian besar pemilik dan pengelola toko Jepang kembali ke Jepang, sekitar 707 orang Jepang kembali ke Indonesia. Menurut Meta, kembalinya mereka sebagai pegawai pemerintah militer Jepang membenarkan dugaan bahwa semua mantan pemilik dan pengelola toko Jepang di Hindia Belanda adalah mata-mata.

“Mereka datang bukan untuk berdagang, tetapi untuk bekerja pada pemerintah pendudukan,” kata Meta, yang menulis buku Are They Spies? Orang Jepang di Indonesia 1868–1942.

Mengapa Belanda tidak siap menghadapi Jepang meski rajin mengumpulkan data kegiatan mata-mata Jepang?

Menurut Palmos, salah satu alasan mengapa Belanda lemah adalah keyakinan mereka bahwa pangkalan militer Inggris di Singapura tidak dapat dikalahkan oleh Jepang. Jika Singapura tidak bisa runtuh, Jepang tidak akan bisa masuk ke Hindia Belanda. Ketika Inggris di Singapura kalah total, pemerintah Hindia Belanda panik. Belanda dengan mudah ditaklukkan oleh Jepang.

Masyarakat Surabaya penasaran seperti apa rupa para penakluk Belanda itu. Mereka keluar dari rumah untuk menyaksikan tentara Jepang yang masuk melewati jalan-jalan. Mereka terkejut melihat tentara Jepang yang pendek dengan sepeda, membawa senapan yang terlihat terlalu besar untuk perawakannya.

Awalnya kehidupan berjalan seperti biasa. Semuanya berubah dalam waktu singkat. Jepang mengerahkan secara paksa semua sumber daya untuk tujuan perang. Meski baru tiga setengah tahun, pendudukan Jepang telah menimbulkan penderitaan bagi rakyat Indonesia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama