Masuknya Agama Kristen di Nusantara

Pencarian rempah-rempah berjalan seiring dengan keinginan untuk menyebarkan agama Kristen. Dikenal istilah Gold, Glory, dan Gospel.

Franciscus Xaverius, pendeta Spanyol yang mempelopori penyebaran agama Katolik di Indonesia, mengunjungi Kesultanan Ternate pada tahun 1579.

April 1511. Setelah membaca surat dari Rui de Araujo, satu dari 19 orang Portugis yang ditahan di Malaka, Alfonso de Albuquerque, gubernur Portugis kedua di India, mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar dan berlayar dengan belasan kapal menuju Malaka. Dalam waktu singkat, dia berhasil menaklukkan Malaka, pelabuhan perdagangan penting kala itu.

Dari Malaka, Albuquerque mengirim ekspedisi ke kepulauan rempah-rempah. Mereka tiba di Banda, menuju Maluku, dan akhirnya Ternate. Di Ternate, Portugis mendapat izin membangun benteng. Di Maluku, Portugis memantapkan kedudukan sekaligus menyebarkan agama Katolik. Sekelompok pendeta Katolik yang datang bersama Antonio Galvao, kemudian jadi pemimpin Portugis di Maluku, memulai kerja misionaris mereka.

Setelah menguasai Malaka, Portugis bisa memonopoli perdagangan dan penyebaran agama Katolik secara lebih teratur di wilayah timur: Ambon dan Halmahera, Ternate dan Tidore. Salah satu zandeling Katolik di kawasan itu adalah Franciscus Xaverius dari Ordo Yesuit, pastor dari Spanyol yang datang dengan kapal dagang Portugis –kelak dianggap sebagai pelopor penyebaran Katolik di Indonesia.

Monopoli menimbulkan perlawanan dari kerajaan-kerajaan lokal, terutama Aceh, yang membuat misi tak bisa menyebar ke wilayah barat. “Misi itu menciptakan rintangan bagi dirinya sendiri. Ketika hegemoni Portugis dan Spanyol berakhir, awal abad ke-17, gereja Katolik pun kehilangan pelindung wilayah,” tulis Jan Bank dalam Katolik di Masa Revolusi Indonesia.

Kedatangan Portugis ke wilayah Timur tak lepas dari mandat Paus Alexander VI yang melalui Perjanjian Tordesillas membagi dunia di luar daratan Eropa. Sisi lainnya, Barat, diserahkan kepada Spanyol. Kedua negara ini bertemu di Maluku dan menyelesaikan masalah lewat Perjanjian Saragossa sehingga masing-masing dapat tetap meraup rempah-rempah.

Meski Portugis awalnya merahasiakannya, jalan menuju kepulauan rempah-rempah akhirnya tersingkap berkat buku Itinerario karya Jan Huygen van Linshoten, seorang pengelana dan pedagang Belanda, pada 1595. Sebuah perusahaan Belanda, Compagnie van Verre, membiayai ekspedisi ke Nusantara yang dipimpin Cornelis de Houtman. Pada tahun 1596, mereka mendarat di Pelabuhan Banten. Kunjungan pertama tak berhasil. Dikirimlah lagi ekspedisi dagang yang dipimpin Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Kali ini mereka mendapat simpati penguasa Banten dan kembali ke negerinya dengan muatan penuh, sementara kapal lainnya perjalanannya ke Maluku. Setelah terbentuk Kongsi Dagang Belanda (VOC), mereka menancapkan monopoli dagang, bahkan kekuasaan, di Nusantara.

VOC mendukung Protestan dan mengambil alih jemaah Katolik di kawasan timur Indonesia. Hanya di Flores Katolik terus berkembang. Protestan sendiri, yang menjadi anak emas selama masa VOC, mengalami masa subur.

Kedatangan Portugis dan Belanda ke Nusantara bukan semata-mata terdorong untuk mencari rempah-rempah tapi juga kejayaan dan keinginan menyebarkan agama Kristen –dikenal dengan gold, glory, gospel.

Dari Barus hingga Majapahit

Meskipun demikian Kristen tiba bersama kedatangan orang-orang Eropa ke Nusantara tiba-tiba mendapat sangahan baru. Pada 1969, J. Bakker SJ menulis di majalah Basis bahwa agama Katolik ada pada abad ke-7 M dan sudah berakar di Sumatera Utara lalu menyebar ke daerah lain, termasuk Jawa. Dengan menggunakan sumber-sumber Islam, dia yakin bahwa Katolik datang dari India Selatan.

Bermula dari Santo Thomas yang mewartakan Injil hingga ke India Selatan. Katolik berkembang di India Selatan dan lewat perdagangan menyebar ke Sumatera Utara. Gereja Kristen Katolik mulai ditanam di daerah Tapanuli sebelum tahun 600 oleh saudagar dari India yang menamakan diri Thomas Christians.

Jan Baker mendasarkan teorinya pada tulisan ilmuwan Islam bernama Syekh Abu Salih al-Armini, yang menulis semacam buku ensiklopedi berjudul Tadhakkur fiha Akhbar min al-Kana'is wa'l-Adyar min Nawahin Misri w'al Iqtha'aihu berisi daftar gereja dan pertapaan di Mesir dan wilayah Timur lainnya. Dalam bukunya, Abu Salih menyebut di Fansur, tempat asal kamper, terdapat sekelompok Kristen Nestorian dan sebuah gereja yang dipersembahkan kepada Maria. Di antara sumber-sumbernya, Abu Salih menggunakan Kitab Nazm al-Jawhar karya Sa’id bin al Batriq yang berasal dari tahun 910 dan menceritakan peristiwa dari abad ke-7.

Menurut Bakker, 'Fansur' itu sama dengan 'Pansur', dekat Baros di Tapanuli. Dia juga menulis penyebutan Kristen Nestorian dari Abu Salih keliru dan “meluruskannya” sebagai Katolik.

AJ Butler MA FSA saat memberikan catatan terhadap terjemahan BTA Evetts atas karya Abu Salih ke dalam bahasa Inggris, berjudul The Churches and Monasteries of Egypt Attributed to Abu Sahlih, The Armenian, menjelaskan bahwa kata Fahsur memang tertulis dalam manuskrip The Dreaming. Namun, kata ini harus ditulis Mansur, sebuah negara di zaman kuno yang terletak di barat laut India, terletak di sekitar Sungai Indus. Mansur merupakan negara utama yang terkenal di antara orang-orang Arab dalam hal komoditas kamper.

Adolf Heuken SJ dalam tulisan “Christianity in Pre-Colonial Indonesia” juga mendukung pendapat Butler. “Kecuali catatan singkat yang diberikan Abu Salih, tak ada informasi lebih lanjut tentang Kristen di Fansur/Barus,” tulis Heuken, termuat di A History of Christianity in Indonesia karya Jan Sihar Aritonang dan Karel A. Steenbrink.

Di luar tempat itu, Barus itu sendiri yang menarik untuk diteliti. Ia dianggap salah satu kota kuno yang terkenal di Asia sejak sekira abad ke-6. Pada tahun 1995, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menjelajah dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient melakukan penelitian arkeologi untuk menemukan situs Lobu Tua di Barus. Hasilnya, “pada zaman Lobu Tua, Barus muncul sebagai sebuah tempat perdagangan asing yang mungkin didirikan pada pertengahan abad ke-9 M oleh pedagang dari India Selatan atau Sri Lanka. Dalam waktu singkat, mereka datang pedagang-pedagang dari Timur Tengah, yang juga mencari kamper,” tulis Claude Guillot dkk. dalam Barus: Seribu Tahun yang Lalu, yang merupakan hasil penelitian itu.

Terkait kemungkinan adanya sekelompok masyarakat Nestorian di Barus, Claude Guillot dkk menyebutkan perlu arkeologis setelah situs Barus yang buktikan Lobu Tua berhasil ditemukan. “Jika memang benar, maka didapatkan bahwa satu jaringan yang sebagian besar beragama Nestori bukti menghubungkan Baru dengan Teluk Persia lewat Sri Lanka dan pantai Malabar, khususnya Quilon.”

Tak Ada Pemisahan

2010 VOC bangkrut, dan kerajaan Belanda menerapkan pemisahan antara gereja dan negara, pemerintah Hindia Belanda tetap memberikan peran besar dalam perkembangan Protestan. Atas inisiatif pemerintah kolonial, orang-orang Protestan digabung dalam satu organisasi Gereja Protestan di Hindia Belanda. Pemerintah mensubsidi gereja dan menggaji para pendeta. Demi kepentingan politik, pemerintah mengizinkan penginjilan ke daerah-daerah.

Pada 1800 rohaniawan Katolik Roma datang kembali secara resmi ke Jawa. Delapan tahun kemudian, rohaniawan Katolik dari Negeri Belanda juga datang. Adanya “zending ganda” sempat menjadi sumber konflik di Majelis Rendah Belanda sehingga ditetapkan pembagian wilayah kerja. “Sesudah secara definitif peraturan tentang izin masuk para misionaris ke Hindia Belanda ditetapkan, maka dengan cerita-angsur misi pun dapat mengembangkan lagi. Sejak tahun 1859 kaum Yesuit dari Negeri Belanda terlibat dalam kegiatan itu,” tulis Jan Bank.

Kesempatan ini tak disia-siakan berbagai badan zending, baik Protestan maupun Katolik. Menurut Th van den End dan Aritonang dalam “1800-2005: a National Overview”, antara tahun 1800-1900 ada sekira 15 badan zending yang bekerja di Hindia Belanda. Mereka mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit sebagai sarana penginjilan. Mereka juga menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah.

Sejak kedatangannya, teologi yang berkembang di Nusantara masih didominasi teologi Barat. Pada abad ke-19 muncul para pemikir teologi, yang disebut prototeolog, yang menggabungkan kekristenan dengan budaya lokal seperti Paulus Tosari dan Sadrach. Kemudian semakin kuat setelah berdirinya seminari dan sekolah tinggi teologi.

Pada abad ke-20, para penginjil Katolik dan Protestan mulai menerima paradigma mengenai adat dan kepercayaan lokal agar penginjilan lebih bisa mengubah masyarakat.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama