Ketika Islam Menyebar dari Giri Kedaton

Giri Kedaton pernah menjadi pusat dakwah Islam terbesar di Jawa, sekaligus menjadi pusat legitimasi kekuasaan raja-raja Jawa.

Pintu masuk kawasan Giri Kedaton. Sekarang menjadi pintu masuk makam Sunan Giri.

Pada asalnya abad ke-15, seorang ahli agama berkebangsaan Arab tiba di Blambangan. Dia dikenal sebagai saudagar asal Jeddah, Arab Saudi, bernama Wali Lanang. Ketika tiba di Blambangan, sang saudagar mendapati hal tersebut belum memiliki agama Islam. Sambil menjalankan urusan, Wali Lanang pun menyebarkan ajaran Islam.

Menurut cerita tutur Jawa, sebagaimana disebutkan H.J. De Graaf dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram, upaya Islamisasi Wali Lanang di Blambangan dilakukan dengan menarik hati penguasa negeri tersebut. Dia berhasil menyembuhkan suatu penyakit yang diderita putri sang raja. Sebagai balasan, raja Blambangan mempersilahkan Wali Lanang memperistri putrinya. Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang anak laki-laki.

Namun upaya Islamisasi tersebut mengalami jalan buntu. Wali Lanang gagal mengislamkan raja Blambangan. Dia pun pergi meninggalkan negeri itu. Sementara itu, menurut De Graaf, anak laki-lakinya mengalami nasib malang. Dia dimasukkan ke dalam sebuah peti, kemudian dilarung ke laut. Beruntung, bayi malang itu dihargai oleh nakhoda kapal milikNyai Gede Pinatih dari Gresik.

Nyai Gede Pinatih mengangkatnya sebagai anak. Setelah cukup besar, anak didik berguru kepada Sunan Ngampel Denta (Sunan Ampel) dari Surabaya. Sang guru memberi nama anak tersebut Raden Paku. Setelah dewasa, bersama putra sang guru, Santri Bonang, Raden Paku pergi ke Malaka. Di sana keduanya berguru kepada Wali Lanang (Syekh Maulana Ishaq), ayah Raden Paku.

Wali Lanang memberi mereka tugas hidup untuk menyebarkan agama Islam di Jawa Timur, tulis De Graaf.

Meski tujuan utamanya menyebarkan ajaran Islam, masing-masing murid diberi tugas yang berbeda oleh Wali Lanang. Santri Bonang, misalnya, diberi tugas menyiarkan ajaran Islam secara langsung ke tengah masyarakat di seluruh penjuru Jawa Timur. Dia pun kemudian dikenal secara luas oleh masyarakat sebagai Sunan Bonang, dengan cara dakwahnya yang unik, yakni melalui kesenian gending gamelan.

Tidak seperti Sunan Bonang yang menyambangi masyarakat secara langsung, Raden Paku diminta oleh gurunya menetap dan membangun pusat dakwah Islam di wilayah perbukitan (dalam bahasa Jawa disebut Giri) di Jawa Timur. Dengan tidak jauh, Raden Paku lebih fokus membangun lingkungan dakwahnya. Itulah sebabnya, imbuh De Graaf, Giri berkembang sangat pesat. keberadaannya menjadi begitu berarti sebagai pusat keagamaan umat Islam di timur Pulau Jawa.

“Pesantrennya tidak hanya digunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Maluku, Ternate, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara,” tulis Nyayu Soraya dalam Islam dan Peradaban Melayu.

Sekembalinya ke Jawa, menurut Soraya, Raden Paku mendirikan sebuah pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dia kemudian memilih nama Prabu Satmata. Akan tetapi karena kedudukannya berada di Giri (bukit), maka masyarakat lebih mengenal Prabu Satmata sebagai Sunan Giri.

Di Giri, Prabu Satmata membuka sebuah kedaton megah yang dilengkapi “taman sari” layaknya kompleks istana raja-raja Jawa kala itu. Pembangunan kedaton dilakukan pada 1485, sementara pembangunan taman sari dikerjakan pada 1488. Prabu Satmata memfungsikan bangunan utama kedaton sebagai tempat tinggal dan pusat pendidikan agama Islam.

“Dibangunnya kedaton dan dipakainya nama gelar raja (Prabu Satmata) boleh dianggap sebagai gejala telah memunculkan kesadaran harga diri pada wali dan pemimpin kelompok keagamaan Islam yang masih muda; lebih dari kelompok-kelompok yang lebih tua, merasa dirinya anggota masyarakat Islam internasional,” kata De Graaf.

Pada perkembangan selanjutnya, keberadaan Giri Kedaton tidak hanya penting sebagai pusat pengajaran dan dakwah Islam saja, tetapi jalan bagi raja-raja Jawa melegitimasi kekuasaannya. Banyak penguasa yang datang ke Giri untuk memperkuat kedudukannya. Giri Kedaton juga dipandang penting karena memiliki pengaruh yang sangat besar di masyarakat.

Menurut Dhurorudin Mashad dalam Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang, puncak kekuasaan Giri berada di bawah pimpinan Sunan Prapen. pemimpin agama keempat di Giri itu membawa kekuatan politik ke Giri Kedaton. Dia terlibat dalam naik-turunnya tahta raja-raja Jawa. Seperti ketika Sunan Prapen melantik Sultan Hadiwijaya sebagai raja Pajang dan menjadikan kerajaan itu suksesor Kesultanan Demak. Sunan Prapen juga menjadi juru damai antara Mataram dengan Surabaya.

"Sunan Prapen hampir selalu menjadi pelantik setiap ada raja Islam yang naik takhta di penjuru Nusantara," tulis Mashad.

Seiring berjalannya waktu, ketika kekuasaan Mataram semakin kuat, kedudukan Giri Kedaton di dalam kepentingan raja-raja Jawa mulai berkurang. Tidak ada pemimpin agama berkharisma setelah Sunan Prapen membuat kekuasaan rohani Giri meredup di kalangan penguasa. Apa setelah Giri Kedaton terlibat dalam aksi pemberontakan Trunojoyo terhadap Mataram, hanya kehancuran yang menunggu pusat dakwah tersebut.

Pada akhir abad ke-17, serangan besar-besaran dilancarkan Belanda ke wilayah Giri. Tanpa pertahanan yang kuat, Giri pun berhasil ditaklukan. Para pengikut, beserta anggota keluarga Giri Kedaton dihukum. Sejak saat itu riwayat Giri Kedaton pun berakhir.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama