Dari Aceh untuk Negara Republik Indonesia

Ketika mereka membutuhkan pesawat terbang untuk melancarkan perjuangan Indonesia, rakyat Aceh bahu membahu mewujudkan keinginan Presiden Sukarno.

Anggota AURI bersama pramugari dan wartawan berfoto bersama di samping pesawat "SEULAWAH RI - 001" di Bandara Kemayoran, 1950.

Sebelum memiliki pesawat kepresidenan, Presiden Soekarno harus datang ke Aceh untuk menggalang dana untuk pembelian pesawat tersebut pada 16 Juni 1948. Bung Karno menyebut Aceh sebagai ibu kota perjuangan bangsa Indonesia. Saat itu perbendaharaan negara sedang sesak akibat blokade ekonomi yang dilancarkan Belanda pasca agresi militer pertama. Sedangkan Aceh merupakan satu-satunya daerah yang belum sepenuhnya dikuasai oleh Belanda.

Dalam jamuan makan malam di Hotel Atjeh Kutaradja, Bung Karno memaparkan situasi negara yang sedang krisis. Selain itu, ia juga mengharapkan donasi dari para pedagang Aceh yang tergabung dalam Gabungan Pedagang Indonesia Daerah Aceh (GASIDA). Sukarno menyerukan para pedagang untuk bekerja sama membantu pemerintah membeli pesawat terbang.

“Alangkah baiknya jika para saudagar dan masyarakat Aceh mencoba membangun 'jembatan udara' antara pulau satu dengan pulau lainnya di Indonesia. Untuk itu saya menyarankan agar para saudagar dan masyarakat menggalang dana untuk membeli kapal udara, misalnya Pesawat Dakota yang harganya hanya 25 kilogram emas," kata Bung Karno seperti dituturkan Amran Zamzami dalam Jihad Besar di Medan Area.

Bung Karno sambil bercanda berkata, "Saya tidak akan makan malam ini, jika dana belum terkumpul," katanya menutup sambutannya. Para pedagang yang hadir di sana saling melirik. Adalah M. Djoened Joesoef yang tak lain adalah kepala Gasida, yang pertama menerima, disusul pedagang-pedagang lainnya. Malam itu sejumlah besar uang dikumpulkan. Bung Karno tertarik melihat hasil penggalangan dana tersebut. Dengan wajah berseri-seri, ia mulai mengajak hadirin untuk pergi ke meja makan.

Selanjutnya, GASIDA membentuk panitia pembelian pesawat yang diketuai oleh TM Ali Panglima Polem. Berdasarkan diskusi dengan warga Aceh Teuku Chik M. Daudsyah, diputuskan para pedagang Aceh dan masyarakat Aceh akan membeli kapal induk jenis Dakota. Di seluruh Aceh, "Dakota Fonds" dibentuk untuk mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Tak hanya satu, dana yang terkumpul akhirnya mampu membeli dua pesawat.

Menurut tim peneliti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Istimewa Aceh, harga masing-masing pesawat yang tertera dalam cek tersebut bernilai 120.000 dan 140.000 dolar Malaya. Satu pesawat atas nama GASIDA dan satu lagi pesawat atas nama seluruh rakyat Aceh. Masing-masing pesawat diberi nama Seulawah I dan Seulawah II, diambil dari nama gunung di Aceh yang berarti Gunung Emas. Pesawat-pesawat ini awalnya mengambil rute luar negeri, yaitu Rangoon (Myanmar) dan India.

Pesawat RI-001 Seulawah baru tiba di Tanah Air pada akhir Oktober 1948. Pada akhir November, pesawat RI-001 Seulawah membagikan pamflet berisi ucapan terima kasih Pemerintah Republik Indonesia kepada masyarakat Aceh. Ribuan warga dengan penuh suka cita datang menyemangati pesawat yang kemudian mendarat.

Dalam Babad Revolusi Indonesia Jilid IV (1948), Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer, dan Ediati Kamil mencatat, sejak pesawat Seulawah disumbangkan oleh rakyat Aceh, hubungan antar daerah di beberapa bagian Republik Indonesia dapat ditingkatkan. Pesawat itu digunakan untuk mengangkut tokoh-tokoh nasional yang datang berkunjung dan mengangkut bahan-bahan logistik perjuangan dari Yogyakarta ke berbagai daerah. Pesawat ini juga digunakan untuk hubungan luar negeri: pengangkutan dokumen, obat-obatan, dan pengeluaran untuk perwakilan Republik di luar negeri, seperti Dr. Sudarsono yang bertugas di New Delhi India.

Pesawat Seulawah RI-001 berperan sangat penting dalam menerobos blokade Belanda ketika terjadi agresi militer kedua pada bulan Desember 1948. Seperti yang diungkapkan Abdul Karim Jakobi di Daerah Ibu Kota Aceh: Long March ke Medan Area, Seulawah RI-001 menjadi penghubung antara pemerintah pusat di Yogyakarta dan PDRI di Suliki dan Kutaraja (Banda Aceh). Dalam masa kritis menghadapi agresi Belanda, pesawat yang diterbangkan oleh pilot TNI AU, Perwira Udara II Wiweko Soepono, sering ditugasi membawa senjata, munisi, dan obat-obatan. Pesawat ini juga mengangkut Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta dari Yogyakarta bermuhibah ke Sumatera.

Siapa sangka, pesawat hasil donasi ini berhasil dalam berbagai misi penerbangan. Ia juga menjadi cikal bakal pesawat Garuda pertama yang dikomersialkan. Pesawat kembali dari Rangoon sekitar akhir Juli 1949 dan masih beroperasi setahun kemudian. Setelah itu, Seulawah RI-001 tidak lagi aktif beroperasi seiring dengan perkembangan teknologi dirgantara karena Dakota merupakan pesawat generasi lama. Namun karena jasanya yang besar, replika Seulawah RI-001 ini diabadikan menjadi sebuah monumen yang kini berdiri tegak di lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Ia menjadi saksi perjuangan dan kesetiaan rakyat Aceh kepada Republik.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama