Membuang Orang Pergerakan ke Papua

Pemerintah Hindia Belanda membuat penjara pengasingan yang mengerikan di Papua. Tujuannya adalah untuk membungkam dan membunuh gerakan nasionalis pribumi.

Tahanan politik akan dikirim ke Boven Digul, Papua, 1927.

Menteri Sosial Tri Rismaharini lagi-lagi bikin sensasi. Dalam video yang belakangan viral, Risma terekam memaharahi beberapa anggota Aparatur Sipil Negara (ASN) di Balai Wyata Guna, Bandung. Risma mengangap mereka tidak tangkas bekerja menyiapkan makanan di dapur umum.

Kemarahan Risma kiranya dapat dijangkau. Namun, yang menjadi sorotan, Risma mengancam akan memutasi anak buahnya yang lalai itu ke Papua. “Dengar, aku nggak main-main, nggak ada yang susah buat aku pindahkan ke Papua,” begitu kata Risma.

Alih-alih menerima simpati, ucapan Risma lebih terkesan perhatian dan bernada diskriminasi. Papua merupakan daerah paling timur sehingga sangat jauh dari pusat pemerintahan. Tak dapat disangkal, Papua memang belum semaju daerah lain di Indonesia. Dari pernyataan Risma, Papua seolah-olah menjadi tempat pembuangan bagi mereka yang terhukum.

Pernyataan Risma itu mengingatkan kita kepada sikap represif pemerintah Hindia Belanda pada akhirnya. Di masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda merepresi orang-orang pergerakan dengan mengirimkannya ke penjara pengasingan di Papua. Penjara yang lebih mirip kamp interniran itu berlokasi di Boven Digul, yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Boven Digul, Provinsi Papua

Kamp Interniran

Boven Digul terletak di hulu Sungai Digul, di bagian selatan Papua. Semula kawasan ini hanya rimba belantara yang diselingi dengan hutan sagu sehingga terkesan menyeramkan. Pemerintah Hindia Belanda menetapkan kamp pengasingan massal di sana menyusul peristiwa pemberontakan kaum komunis di Banten pada November 1926.

“Menurut pandangan kolonial Belanda, Boven Digul sangat ideal untuk pembuangan dan pengasingan para pemberontak yang berbahaya bagi pemerintahan kolonial karena Boven Digul 100% dari dunia luar,” tulis sejarawan Rosmaida Sinaga dalam “Tanah Merah, Boven Digoel: Kota Pemerintahan dan Kamp Internir pada Masa Kolonial” termuat di kumpulan tulisan Jejak Kebangsaan: Kaum Nasionalis di Manokwari dan Boven Digoel.

Gelombang pertama pelepasan besar-besaran ke Digul berlangsung pada 1927. Sekira 1300 orang dikirimkan ke Digul untuk menjalani pengasingan. Kebanyakan dari mereka adalah anggota Sarekat Rakyat (SR) dan Sarekat Islam (SI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Para tahanan politik kelas kakap dari berbagai daerah itu digabungkan dan diangkut bersama-sama.

“Selama pelayaran mereka mengalami hinaan dan siksaan yang berat. Mereka dirantai berlima-lima di dalam kapal, makanan sangat kurang dan perlakuan lainnya yang tidak sesuai dengan martabat dan perikemanusiaan,” ungkap tim penulis Departemen Sosial dalam Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan Seri Perjuangan Ex Digul.

Diantara mereka yang menginjakan kaki di Digul terdapat tokoh bumiputra dari kalangan kiri yang kanan kekuasaan Belanda. Sebut saja seperti Aliarcham, Mas Marco Kartodikromo, Thomas Najoan, Kyai Maskur (ayah MH Lukman, tokoh PKI), dan K.H. Tubagus Achmad Chatib, pemimpin pemberontakan PKI di Banten. Bagaimana suka duka para tawanan politik yang menyandang status digulis ini tersua dalam kumpulan cerita dari Digul yang disunting sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Cerita yang paling menarik tentu saja tentang kisah pelarian beberapa digulis yang paling berakhir tragis.

Menurut sejarah Takashi Shirashi, Indonesianis dari Kyoto University dalam Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial, pemerintah kolonial tidak menyiksa atau membunuh membunuh seperti di kamp-kamp konsentrasi Jerman. Pemerintah hanya membiarkan para penghuni penjara Digul mati karena depresi, menjadi gila, atau hancur sesuai kejiwaan. Benar saja. Mereka yang dibuang ke Boven Digul akan terkepung oleh bentang alamnya yang sukar untuk ditaklukan.

Alam yang Kejam

Untuk masuk dan keluar kawasan Boven Digul, para interniran mesti melewati hutan rimba dan rawa-rawa yang lebat. Wilayah ini penuh nyamuk malaria, panas, lembab, gersang, dan sangat jarang penduduk. Sungainya dipenuhi oleh buaya air tawar yang ganas. Belum lagi kalau harus berhadapan dengan penduduk lokal yang masih menjalankan kebiasaan pengayauan (pemburu kepala) atau kanibalisme (pemakan manusia).

Banyak berita tentang digulis yang melakukan percobaan percobaan diri. Pada umumnya tentara Belanda tidak perlu merepot-repot mengejar mereka. Dapat ditebak, usaha mereka itu hanya akan berakhir sia-sia belaka. Masih bagus jika mereka tersesat di tengah hutan lalu terpaksa kembali pulang. Sayangnya, ada pula yang jatuh ke sungai lalu dimangsa buaya. Ada lagi yang menyerang penduduk lokal harus mengantar nyawa karena dibunuh oleh orang-orang suku primitif.

“Di Digul kami tidak disiksa, tidak ditendang! Belanda tidak menjalankan metode 'menyiksa badaniah', seperti yang terjadi di beberapa bagian dunia. Tapi Belanda menggunakan metode yang lebih efisien untuk memaksa kami bertekuk lutut,” kenang I.F.M Chalid Salim dalam Lima Belas Tahun Digul:Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea. Pada tahun 1928, Salim diinternir ke Boven Digul tulisannya yang tajam di Pewarta Deli yang mengecam sikap polisi kolonial dalam menumpas pemberontakan komunis pada 1926.

Bung Karno dalam otobiografinya menjunjung tinggi rasa hormat yang pernah diasingkan ke Digul. “Banyak orang komunis, yang tulang belulangnya berserakan dalam kuburan-kuburan yang tak dikenal di Digul, adalah pejuang-pejuang kemerdekaan yang ulung,” kata Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Tidak heran, Sukarno merasa tanah Digul sebagai tempat persemaian benih kemerdekaan sedangkan para digulis itu disebutnya sebagai pejuang perintis kemerdekaan. Romantika itu yang kemudian semakin mengukuhkan klaim Sukarno terhadap Papua sebagai bagian dari Indonesia.

Gelombang kedua pelepasan ke Digul berlangsung pada tahun 1933. Kebanyakan dari mereka yang diinternir adalah aktivis politik dari PNI Baru, PARI, PSII, PERMI, dan PARTINDO. Beberapa di antaranya seperti Sutan Sjahrir, T.A. Murad, dan Mohammad Hatta yang kemudian memproklamasikan kemerdekaan bersama Sukarno pada 1945. Hatta dalam Memoir bahkan mengakui sempat dua kali menderita malaria dalam setahun masa pengasingannya di Digul.

Pendudukan Jepang ke negeri Hindia pada tahun 1942 mengakibatkan Belanda mengangkat kaki dan memaksanya untuk darurat di Australia. Dalam kekalahannya yang berat itu, seperti dicatat Harry Poeze dalam PKI Sibar, Belanda memboyong serta 524 digulis untuk ditempatkan di Kamp Penghuni dan Tahanan Perang Cowra di New South Wales. Dengan demikian, berakhirlah masa pembuangan ke Digul setelah Belanda keok di tangan Jepang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama