Lambatnya Penanganan Pandemi Flu Spanyol di Hindia Belanda

Tentang pemerintah yang mengabaikan peringatan pandemi dan diba
uat bingung. Mendahulukan kepentingan ekonomi atau mengatasi pandemi.

Rumah sakit darurat selama pandemi Flu Spanyol di Camp Funston, Kansas, Amerika Serikat, 1918.

Pemerintah penting sekali memahami pandemi di masa lalu. Pengalaman menghadapinya dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga dalam menangani pandemi Covid-19. Khususnya pengalaman ketika pandemi Flu Spanyol melanda dunia termasuk Indonesia ketika berada di bawah pemerintah kolonial Hindia Belanda.

"Banyak yang bisa dipelajari, (Flu Spanyol, red.) juga luar biasa. Kalau sudah pernah, ditulis dengan bagus, banyak sumber yang bisa dipelajari kemudian disebarluaskan, kita tidak perlu mulai dari nol. Kita hidup dalam pandemi justru harus takut kalau tidak tahu apa-apa," kata Herawati Supolo Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, dalam dialog sejarah "Riwayat Pandemi dari Masa ke masa".

Hera mengatakan, Flu Spanyol menyerang pada awal ke-20, sudah muncul ide dan pemikiran bahwa akan menyebarkan penyakit. "Ketika itu pun ada larangan untuk berkumpul," ujar Hera.

Sayangnya, kata sejarawan Ravando Lie, pemerintah Hindia Belanda lambat merespons pandemi Flu Spanyol. Tak ada strategi pencegahan awal yang dilakukan sehingga banyak korban jatuhan.

"Kasus di Indonesia menurut saya agak sedikit. Pada pelaksanaannya tak ada strategi oleh pemerintah kolonial," ujar Ravando.

Mortalitas Tak Lazim

Ravando menjelaskan, dari seluruh pandemi influenza yang pernah dikenal, Flu Spanyol yang paling terkenal. Dalam waktu singkat, penyakit ini diduga menginfeksi 500 juta atau sepertiga populasi dunia. Tingkat kematiannya 20 persen dari total yang terjangkit.

"Untuk ukuran influenza, angka mortalitas (kematian, red.) 20 persen sangat lazim. Kalau merujuk pada pandemi influenza sebelumnya, biasanya hanya membunuh 0,2 persen dari total populasi yang terjangkit," kata Ravando.

Ketika pandemi Flu Spanyol terjadi pada 1918–1919, Perang Dunia I tengah berkecamuk. "Diduga dalam waktu empat bulan, penyakit ini lebih membunuh daripada kematian hitam yang membunuh korbannya dalam empat tahun," kata Ravando.

Melihat penyebarannya di dunia, Flu Spanyol terbagi menjadi tiga gelombang. Pertama, Maret–Agustus 1918, korbannya masih cenderung cenderung. Kedua, November–Desember 1918, puncak transmisi Flu Spanyol sehingga jumlah korbannya semakin masif. Ketiga, Desember 1918–Februari 1919, pandemi mulai mereda mungkin karena imunitas masyarakat mulai terbentuk.

Tanggapan Lambat

Pemerintah kolonial Hindia Belanda sempat bersikukuh Flu Spanyol bukan penyakit berbahaya, sehingga tak perlu menyiapkan strategi untuk menghadapinya.

"Kalaupun kemudian merebak para dokter, pemerintah kolonial melihatnya hanya sebagai flu biasa yang dianggap tak berbahaya," kata Ravando.

Kenyataannya koran-koran banyak mengungkapkan bagaimana pandemi menjangkiti masyarakat di Jawa dan Sumatra. Misalnya, koran Sin Po melaporkan penyakit ini meneror Medan dan menyebar ke seluruh Sumatera dan Jawa. Bahkan, 60 polisi di Medan terjangkit dan 100 kuli Tionghoa meninggal dunia.

Padahal, konsulat Belanda di Hongkong dan Singapura memiliki kemungkinan pandemi Flu Spanyol yang menyerang Hindia Belanda. Pemerintah kolonial disarankan untuk memperketat pengawasan di pelabuhan.

"Karena ini jadi tempat turun naik feri dan terlupakan kalau tak diperketat penyakit akan menyebar dengan masif," kata Ravando.

Di wilayah lain, seperti Singapura, pencegahan dimulai dengan penutupan sementara sekolah dan fasilitas umum yang memicu keramaian. Kemudian tenaga medis bergerak. Para dokter bertemu pasien yang terjangkit lalu mengirimnya ke tempat-tempat untuk mengamati ketat.

Terlambatnya pemerintah kolonial merespons pandemi membuat masyarakat kebingungan. Tak heran upaya mereka menghindari wabah dengan obat-obatan herbal hingga cara kultural seperti arak-arakan.

"Obat-obatan jadi solusi dan produksi juga oleh koran-koran sezaman. Banyak juga kemudian berita hoaks bermunculan," kata Ravando..

Pemerintah kolonial baru melakukan upaya signifikan dengan membentuk Komisi Influenza pada 16 November 1918. Komisi ini menyelidiki akar penyebaran dan gejala dari Flu Spanyol. Kebijakan yang dihasilkan antara lain imbauan untuk mengenakan masker hingga pendistribusian obat antiinfluenza.

Dibentuk pula Influenza Ordonnantie untuk mengatur kegiatan di pelabuhan, mulai dari proses naik turun feri hingga bongkar barang. Bagi pelanggar peraturan yang dikenakan hukuman denda dan penjara.

Menurut Ravando, rancangan peraturannya sudah diselesaikan oleh Dr. W. Thomas de Vogel dan sejak 1919. Namun, pelaksanaannya menghadapi kendala diprotes oleh para pelaku usaha yang mengganggap itu mematikan bisnis mereka. Akibatnya, peraturan itu baru disahkan pada 1920 ketika korban sudah mencapai 1,5 juta jiwa, atau menurut data terbaru korbannya 4,3 juta jiwa.

"Di sinilah kebingungan yang dialami pemerintah kolonial," ujar Ravando.

Hingga kini proses memahami pandemi Flu Spanyol belum bisa dibilang tuntas. "Kita perlu memahami epidemiologinya. Ini belum selesai. Jadi, pandemi 1918 itu juga terus dipelajari apa yang terjadi. Virusnya sudah bisa dipelajari sekarang. Lalu karakternya dan pola penyebarannya," kata Hera.

Penyakit menular, kata Hera, bisa dibilang merupakan pendamping setia manusia, termasuk yang terjadi sekarang. seolah-olah hidup di tengah berbagai penyakit menular, bukan berarti kita membiarkan begitu saja penyakit itu berjangkit hingga menjadi lebih dominan. Kita harus terus mengenali si pendamping itu.

"Kita yang mengontrol, bukan mereka," kata Hera. "Yang kita lakukan harusnya berbicara pandemi dulu yang sekarang dan kemungkinan yang akan datang. Belajarlah dari sejarah."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama