Ketika Panglima Besar Soedirman Turun Gunung

Pimpinan tertinggi TNI telah menolak untuk kembali ke Yogyakarta. Baginya, selama tentara Belanda bercokol di wilayah Indonesia, tidak ada kata "damai" dengan mereka.

Panglima Besar Soedirman setibanya di Yogyakarta.

Perjanjian Roem-Royen Disetujui oleh pihak Indonesia dengan Belanda pada 7 Mei 1949. Salah satu klausul dalam kesepakatan itu adalah Belanda harus menarik pasukannya dari ibu kota RI Yogyakarta jika ingin melanjutkan proses penyelesaian konflik antar dua negara tersebut.

“Itu yang menjadi tawaran mutlak dari pihak Indonesia,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein.

Karena ada desakan internasional yang sangat kuat, Belanda tak bisa "menghindar" dan menolaknya. Maka pada 29 Juni 1949, tentara Belanda meninggalkan Yogyakarta. Kepergian mereka kemudian diusul dengan masuknya para prajurit TNI ke dalam kota Yogyakarta.

Anehnya, kesepakatan tersebut hanya berlaku untuk Yogyakarta saja. Sedangkan untuk wilayah-wilayah lain, militer Belanda masih bercokol. Dalam buku Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia karya Tjokropranolo (eks pengawal Soedirman), bahkan jika mundurnya tentara Belanda hanya radius 5 km dari Yogyakarta.

Fakta tersebut membuat Panglima Besar Soedirman marah. Ketika pada 23 Mei 1949, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mochamad Hatta menyuratinya untuk bersiap mendekati Yogyakarta, Soedirman seolah tak memperdulikannya. Dia menolak untuk turun gunung.

Tetapi karena ada surat dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Kolonel Gatot Soebrot yang memintanya datang, akhirnya memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta,” demikian menurut buku Djenderal Soedirman: Pahlawan Sedjati yang ditulis dan diterbitkan oleh Kementerian Penerangan RI pada 1950.

Sri Sultan dan Kolonel Gatot Soebroto adalah dua orang yang sangat disukai oleh Soedirman. tingkat dalam pangkat dan jabatan, Gatot Soebroto merupakan bawahan Soedirman, namun dari segi umur dan pengalaman sang kolonel yang jelas di atas panglima besarnya.

Dalam suratnya, Gatot menyatakan sangat paham dengan ketegasan dan pendirian kuat Soedirman. Dia juga mendukung sikap tersebut. Tetapi sebagai manusia, kata Gatot, untuk mencapai suatu tujuan yang diperlukan berbagai upaya dan ikhtiar. Yang terpenting dia mengingatkan kondisi Soedirman yang harus mendapatkan perawatan maksimal.

“Ini supaya jangan mati konyol konyol, tapi supaya cita-cita tercapai. Meskipun buahnya tidak turut memetik, melihat pohonnya, kita merasa senang dan berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Ini kali, saya sebagai suadara tua dari adik, minta ditaati…” ungkap Gatot.

Soedirman akhirnya menyanggupi untuk turun gunung. Setelah mendapatkan beberapa informasi dan kepastian dari Letnan Kolonel Soeharto (Komandan Brigade ke-10 Divisi III) berangkatlah Soedirman dengan rombongan pengawal dari Ponjong pada 9 Juli 1949.

Sehari kemudian, rombongan Soedirman sudah ditunggu oleh Kolonel T.B. Simatupang dan Kolonel Soehardjo Hardjowardjojo di mulut Jembatan Kali Opak. Selain sedan yang mereka kendarai, kedua perwira tersebut juga menyediakan satu jip Land Rover, dua kendaran pick-up, dan satu truk untuk para pengawal Soedirman.

Sebelum pindah ke Yogyakarta, Soedirman, Simatupang dan Soehardjo terlibat suatu pembicaraan serius di dalam mobil sedan. Tak ada yang tahu apa isi pembicaraan tersebut, kata Tjokropranolo. Menurut T.B. Simatupang dalam otobiografinya, Laporan dari Banaran, dalam pembicaraan enam mata itu Soedirman menyatakan bisa menerima perkembangan yang terkait dengan perundingan Indonesia-Belanda.

"Akan tetapi dalam pembicaraan itu, Pak Dirman membenarkan juga bahwa bagi kita sekarang ini tidak ada lagi jalan lain daripada yang mendukung persetujuan yang telah dicapai sambil menyusun kekuatan..." ungkap Simatupang.

Ada sebuah kejadian menarik yang dikisahkan Soeharto dari pertemuan ketiga petinggi TNI tersebut. Beberapa saat sebelum bergerak ke Yogyakarta, ujar Soeharto, Simatupang dan Soehardjo memohon Soedirman agar menukar mantel Australia-nya dengan pakaian kebesaran panglima besar. Alih-alih langsung menerima, Soedirman malah menoleh ke Soeharto.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Kalau menurut saya, lebih baik begini saja. Begini juga sudah baik, Pak,” jawab Soeharto seperti yang dia kisahkan dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (disusun oleh G.Dwipayana dan Ramadhan K.H.).

Mendengar jawaban dari Soeharto, Soedirman pun memutuskan untuk menuruti kata-kata Soeharto: tidak mengganti mantel-nya dengan pakaian kebesaran seorang pimpinan tertinggi TNI.

Namun menurut membuktikan Tjokropranolo, saat Soedirman berkreasi dengan Simatupang dan Soehardjo di dekat Jembatan Kali Opak, sesungguhnya Soeharto sudah tidak ada di tempat itu.

“Pak Harto sendiri, pagi itu juga langsung menuju Yogya mempersiapkan rombongan untuk mempersiapkan suatu parade akbar untuk menyambut kedatangan kembali Panglima Besar Jenderal Soedirman ke Yogyakarta yang rencananya akan dilaksanakan di lapangan Alun-alun Lor, depan Sitihinggil, Keraton Yogya pada sore hari itu,” ungkap Tjokropranolo.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama