Banyaknya Produk Jepang di Hindia Belanda

Selama krisis ekonomi, barang-barang Jepang banyak dicari oleh orang-orang di Hindia Belanda. Murah dan berkualitas, tetapi dianggap sebagai pintu gerbang menuju imperialisme.

Toko Fuji menyediakan produk Jepang.

“Siapa belandja lebih dari f.1 dapat menyajikan barang bagoes”. Begitu pesan promosi terpampang di Toko Okamura milik orang Jepang di Kramat, Batavia, pada 1936. Barang-barang yang dijual adalah kebutuhan rumah tangga. Lebih murah daripada barang-barang import lainnya. Dalam masa resesi ekonomi, promo itu sangat menggiurkan.

Kehadiran toko Jepang saat masuknya barang-barang Jepang ke Hindia Belanda pada 1930. Saat itu Hindia Belanda tengah memasuki masa resesi ekonomi. Perdagangan ekspor lesu. Pendapatan pemerintah menurun. Gaji pegawainya dipangkas. Pabrik-pabrik pun tutup. Buruh-buruh kehilangan pekerjaan.

“Kita telah melihat puluhan, ratusan perusahaan terjungkal dan dikubur... Saban minggu jumlah yang pailit semakin besar... Ratusan, pegawai hilang mereka punya sesuap nasi. Mereka yang tiada punya pekerjaan semakin meningkat lagi,” tulis harian Shang Yeh Sheng Huo, No. 17, 1934.

Banyak orang kehilangan daya beli. Harga barang memang turun, tapi tak ada pendapatan untuk itu. Saat situasi sulit itu, orang memilih menggadaikan barangnya ke pegadaian untuk mendapatkan kas segar. Sisanya melakukan perdagangan barter.

Dianggap Penyelamat

Beberapa orang yang mendapatkan kas segar menggunakannya untuk membeli barang-barang Jepang. sebagian mereka berupaya menjual kembali barang itu dengan harga murah. Yang melakukan barter pun dapat barang barteran dari pedagang Jepang. Dalam kondisi sulit ternyata barang Jepang menjadi penyelamat.

Takashi Shiraishi dalam Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara menyebut membanjirnya barang Jepang ikut menjamin keamanan pasar penduduk anak negeri. Karena harganya masih bisa terjangkau. Pedagang masih tetap bisa untung meskipun kecil.

Pandji Poestaka juga merekam kesenangan membanjirnya barang-barang Jepang. “Datang pula zaman meleset, di mana-mana orang tak beruang. Dan barang Jepang yang murah, yang semakin lama semakin baik kualitasnya, dengan mudah merebut pasar, mendesak hasil negeri lain,” tulis Pandji Poestaka, 30 September 1932.

Beberapa pemimpin organisasi pergerakan nasional juga memuji barang-barang Jepang. Mereka mengatakan saat jelata hanya bisa hidup sebenggol tiap hari, Jepang telah membantu membantu penderitaan itu.

“Jepang telah memasukkan barang-dagangan di Indonesia yang murah-keliwat-murah. Japan di mata saudara ini adalah suatu deus ex machina, suatu dewa penolong yang datang dari langit, bagi Marhaen yang kini begitu kekurangan uang,” kata Sukarno dalam “Impor dari Japan Suatu Rahmat bagi Marhaen?” termuat dalam Bung Karno dan Ekonomi Berdikari.

Mencari Pasar

Selain karena resesi ekonomi, masuknya barang-barang Jepang ke Indonesia tak lepas pula dari perubahan di Jepang sejak 1912. Yoshihara Kunio dalam Perkembangan Ekonomi Jepang menceritakan bahwa sektor pertanian mulai ditinggalkan pada tahun 1910-an. Orang Jepang mulai beralih ke sektor industri untuk memperkuat perekenomian negara.

“Peranan pertanian sebagai penghasil devisa juga menurun. Sampai akhir tahun 1920-an ekspor bahan sutera naik, dan terus meningkat sebagai sumber devisa yang penting. Dalam periode ini pula, benang tenun juga muncul sebagai penghasil penting lainnya,” tulis Yoshihara.

Hijrahnya orang ke sektor industri yang mendorong produksi barang menjadi lebih banyak. Barang itu juga perlu pasaran daerah yang lebih luas. Pasar domestik sudah sesak. Karena itulah Jepang membutuhkan wilayah koloninya di Manchuria dan Asia Timur. Tapi itu pun tak cukup. Jepang butuh negeri lain untuk pemasaran barang industrinya. Negeri itu adalah Hindia Belanda.

Maka, sejak 1920-an, Jepang menerapkan penetrasi ekonomi ke Hindia Belanda lewat barang-barangnya. Tapi kualitas barang Jepang tidak sebanding dengan harganya. Orang Hindia Belanda masih lebih suka dengan barang-barang Eropa. Sebab, kualitas dan harganya sebanding.

Secara perlahan, kualitas barang Jepang semakin membaik. Ajaibnya, harganya justru tidak terkendali. Sementara harga barang Eropa semakin mahal. Menjelang resesi ekonomi, barang Jepang mulai menggeser posisi barang Eropa. Saat resesi, barang Jepang menghajar barang Eropa secara lebih telak.

“Karena waktu itu sedang zaman malaise (krisis), barang murah Jepang mudah memperoleh pembeli di kalangan penduduk pribumi,” tulis Rosihan Anwar dalam “Penetrasi Ekonomi dan Intel Jepang ke Hindia Belanda sebelum Perang Pasifik”, termuat dalam Musim Berganti Sekilas Sejarah Indonesia 1925– 1950.

Kritik Barang Jepang

Tapi di antara euforia anak negeri terhadap barang Jepang, Sukarno muncul dan memberi peringatan terhadap kemungkinan bahaya balik serbuan barang Jepang. Dia mengkilas balik bagaimana barang-barang dari Belanda menyerbu Hindia Belanda. Misalnya ketika kain dari Twente merajai pasaran.

Anak negeri gandrung pada kain Twente sampai lupa pada kain buatan tangan anak negeri. Hasil kain anak negeri terkapar. “Inilah buntut daripada impor dari Twente itu: kita punya daya menghasilkan jadi mati sama sekali, kita punya daya cipta alias kepandaian dan kemauan membuat padam sama sekali, hancur sama sekali, binasa sama sekali!”

Sukarno bahkan menyebut import murah itu sebagai pintu gerbang imperialisme Jepang di Hindia Belanda. Dia menduga barang Jepang masuk dengan deras ke Hindia Belanda karena ada pemboikotan dari Tiongkok. Jepang lalu mengarahkan barang itu ke Hindia Belanda. Pada Poster, Sukarno melihat barang murah itu akan menjadi alat imperialisme. Seperti yang pernah terjadi pada impor kain Twente.

“Awaslah awas, bahwa barang-barang itu adalah barangnya stelsel (sistem, red.) yang sebenarnya musuh kamu, barangnya stelsel-setan yang di hakikatnya tiada maksud lain melainkan mengeksploitasi tiap-tiap sen yang kini masih ada di kantongmu, mengeksploitasi tiap -tiap tenaga yang kini masih ada di bahu dan tubuhmu,” kata Sukarno.

Meski barang Jepang punya potensi jadi pintu gerbang imperialisme, Sukarno tidak menolak sepenuhnya manfaat barang Jepang. Dia akan menjadi jelata tetap jika tak punya pilihan. Keadaan itu, menurut Sukarno, adalah revolutionaire aanvaarding atau penerimaan sementara terhadap imperialisme dan kapitalisme.

“Terimalah import Japan itu, janganlah puja-puji dan keramatkan dia, tapi janganlah pandang dia sebagai suatu rahmat yang hanya membawa berkah saja,” kata Sukarno.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama