Vaksin Darurat Masa Revolusi Kemerdekaan

Kisah dokter tentara memvaksinasi populasi cacar di Banten Selatan dan Bogor di tengah revolusi kemerdekaan. Bahan vaksinnya dari kulit kerbau.

Dr. Satrio saat menjadi menteri kesehatan, Satrio memberikan suntikan kepada anak-anak saat berkunjung ke daerah.

Prof Dr Satrio. Nama ini sohor sebagai salah satu jalan utama di Jakarta. Tak banyak orang tahu siapa sosok ini dan apa yang telah terjadi sehingga namanya diabadikan. Dia seorang dokter tentara yang berjasa dalam memberikan vaksin cacar kepada penduduk Banten Selatan dan Bogor pada masa revolusi kemerdekaan.

Cerita pemberian vaksin oleh dr. Satrio dimulai pada Desember 1948. Saat itu, Belanda berupaya merebut nomor wilayah Banten seperti Serang, Pandeglang, dan Rangkasbitung dari Republik. Pejuang-pejuang Republik melawan upaya itu dengan perang gerilya.

Dr. Satrio ikut membantu membantu pejuang gerilya Republik sesuai surat kawat dari Markas Besar Tentara. Dia tergabung dalam Brigade Tirtayasa dan beberapa kali mengurusi pejuang-pejuang yang terluka atau gugur. Tapi penugasannya di wilayah Gunung Karang, Banten Selatan, menggerakkan dirinya turut membantu rakyat.

“Dalam perjalanan kembali ke daerah selatan, saya mendapat informasi dari penunjuk jalan bahwa di antara penduduk ada penyakit cacar,” kata dr. Satrio kepada Mona Lohanda dkk. dalam Perjuangan dan Pengabdian: Mosaik Kenangan Prof. Dr. Satrio 1916–1986.

Dr. Satrio mendatangi kampung tersebut dan melihat fisik para penduduknya. “Bisul-bisul bernanah kecil-kecil tersebar di kulit. Tidak saya ragukan memang ini adalah vario vera menurut istilah kedokteran Latin dan bukan cacar air,” tutur dr. Satrio.

Para penduduk di kampung tersebut menderita cacar lebih dari tiga tahun. Selama pendudukan Jepang, tak pernah ada vaksinasi cacar. Jika dibiarkan, cacar akan menjadi epidemi. Sebab cacar menular dengan cepat.

Masalah, dr. Satrio tak punya vaksin cacar sehingga tak bisa memberi penduduk vaksin cacar segera. Dia juga merasa tak mampu memisahkan para penderita cacar dengan penduduk yang sehat. “Dalam keadaan darurat gerilya, kedua-duanya tak mungkin,” kenang dr. Satrio.

Peristiwa ini terus merasa pusing dr. Satrio hingga kembali ke markasnya, dia berbagi cerita dengan rekan-rekannya, menurut seorang rekannya, ada seseorang di Malingping, wilayah pantai di Banten Selatan, yang mungkin bisa membantu dr. Satrio. Orang itu bernama Suria dan pernah bekerja sebagai mantri cacar.

Tak menunggu lama, dr. Satrio menuju Malingping bersama tiga orang tenaga kesehatan. “Dr. Satrio menempuh perjalanan 4 hari mencari vaksin di tempat mantri cacar Suria,” catat Tim Departemen Kesehatan dalam Sejarah Kesehatan Nasional Jilid 1.

Dr. Satrio menemui Suria. Dia mendapat 30 ampul (wadah gelas bening yang bagian lehernya menyempit) vaksin cacar dari Suria. Jumlah itu untuk menyuntik 100 orang. Tapi itu belum memecahkan masalah.

Dr. Satrio memprediksi jumlah ampul tersebut masih kurang untuk penduduk Banten Selatan. Selain itu, mereka tak punya zat pelarut vaksin, yaitu gliserin. Mereka harus menemukan penemuan ini. Tanpa pelarut, vaksin tak bisa digunakan.

Dr. Satrio menanyakan ke Suria bagaimana kalau 30 ampul vaksin itu jadi modal untuk membuat vaksin sendiri. Suria membantu. Dia juga pernah mengatakan praktik membuat sendiri vaksin cacar dari kulit kerbau.

Dr. Satrio dan Suria mencatat kebutuhan mereka. Gliserin, kerbau, penggiling untuk bahan-bahan vaksin, dan botol-botol untuk vaksin vaksin.

Ketika berembug tentang pelarutnya, Suria ingat sebuah apotek atau gudang obat di Bayah, Banten Selatan. Di sana mungkin tersedia gliserin. “Tulis saja nota, pasti akan diperoleh gliserin sebanyak yang diperlukan,” kata Pak Suria, seperti dikutip Matia Madjiah dalam Dokter Gerilya. Hasilnya dua botor gliserin datang dalam dua hari.

Masalah berikutnya mencari kerbau sehat. Dr Satrio dan Suria sempat kesulitan, tapi kabar baik diperoleh dari seorang perwira daerah. Dia memastikan kerbau sehat tersedia. Kerbau sehat diperlukan untuk menularkan vaksin cacar ke kulitnya.

Dari penyaluran tersebut akan muncul bisul di kulit kerbau. Kemudian kerbau disembelih dan bisulnya dikerok untuk digiling agar menjadi seperti bubur. Setelah digiling kering, bahan itu dilarutkan dengan gliserin lalu dimasukkan ke wadah vaksin. Sisa daging kerbaunya dipastikan aman dan dibagikan ke penduduk. “Kerbau kita telah amat berjasa sebagai pembiak vaksin,” kata dr. Satrio.

Setelah memperoleh gliserin dan kerbau, dr. Satrio dan Suria mencari alat penggiling bahan vaksin. Tak ada vaksin gilingan, gilingan kopi pun jadi. Untuk wadahnya, mereka menggunakan batang pohon pisang. Di dalam wadah demikian, vaksin akan bertahan tiga minggu.

Semua tahap pembuatan vaksin mengambil tempat di Bojong Kirai. Semua proses berjalan sesuai rencana. Dari modal 30 ampul vaksin untuk 100 orang, dr. Satrio dan Suria berhasil melipatgandakannya menjadi 20.000 orang.

Dr. Satrio dan Suria bersama-sama menjajaki setiap tempat di Banten Selatan sampai ke Bogor untuk memvaksin penduduk. Tujuannya agar penduduk yang sehat kebal terhadap penyakit cacar. Mereka sering melewati daerah rawa penuh lintah. Darah mereka terhisap oleh lintah. Tapi langkah mereka tetap mengalir. Mereka berhasil mengunjungi penduduk di banyak desa.

Tak ada penduduk menolak vaksin. Malah mereka senang dengan kedatangan dr. Satrio dan letnan. Mereka juga manut ketika meminta ada pemisahan antara penderita cacar dan penduduk yang sehat.

Selama perjalanan itu, dr. Satrio dan telah memvaksin hampir 300 ribu orang. Jika vaksin habis, mereka akan membuat vaksin baru di tempat tersebut selama bahan-bahannya tersedia. Sisa bahan vaksin dari kerbau dapat digunakan untuk bekal makanan dalam perjalanan. Misalnya paha kerbau yang diolah jadi dendeng.

Sebenarnya memvaksin penduduk bukan tugas utama dr. Satrio sebagai dokter tentara. “Walaupun tugas utama saya melayani tentara, namun jika rakyat sekelilingnya menderita wabah cacar, tentu tentara juga dapat ketularan dan mati... Jika kami dapat membantu rakyat, hal itu berarti bahwa kami membantu pemerintah RI dalam menyelamatkan rakyat,” kata dr. Satrio.

Dr. Satrio dan tim menyebut pengalamannya itu sebagai “long march pemberantasan cacar”. Berkat jasanya menyelamatkan ratusan ribu penduduk dari ancaman cacar, mereka mendapat penghargaan bintang gerilya dari pemerintah.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama