Tentang Bahaya Fasisme

Di Jerman, sejarah adalah bekal untuk masa depan yang baik. Tidak pernah sekalipun mereka ingin kembali ke masa lalu.

Adolf Hitler, pemimpin Nazi.

Reiner Sprenger, Kontributor di Jerman membawa saya berkeliling kota Buxtehude. Kota kecil ini adalah tempat Reiner melewati masa kecilnya. Dia tahu semua jalan dan gang di Buxtehude dengan sangat baik. Saking kecilnya, teman lain bisa mencium kami berdua dari bau kretek yang terekspos dari kafe tempat kami duduk.

Di kota itu, sebelum perang dunia kedua, seperti di kota-kota lain di Jerman, orang-orang terpecah. Beberapa mendukung Nazi, beberapa tentu saja menentang. Salah satu yang tersisa dari era itu adalah pusat perbelanjaan Stackmann. Pendiri Sassusnya Stackmann seorang simpatisan Nazi.

Dukungan Stackmann untuk Nazi memungkinkan dia untuk menjalankan bisnisnya lebih bebas daripada mereka yang menentangnya. "Informasi itu datang dari lawan bisnis Stackmann, sampai-sampai kebenarannya tidak bisa diverifikasi," kata Reiner.

Namun memang kisah pro dan kontra terhadap Nazi bukanlah isapan jempol belaka. Desas-desus tentang sikap anti dan pro-Nazi selalu menjadi bahan diskusi yang menarik. Elisabeth Fisher Spanjer, mantan sekretaris Sekretariat Nasional Arbeids (Sekretariat Nasional Buruh di Belanda) yang saya temui di Belanda juga mengungkapkan hal yang sama.

“Saat itu, masyarakat Belanda terbelah antara menentang atau mendukungnya,” kata wanita berusia 99 tahun yang berselingkuh dengan Henk Sneevliet itu.

Ketika Nazi berkuasa, kolaborator Nazi muncul. Di Belanda ada Anton Mussert dengan NSB-nya (National-Sosialistische Beweging der Nederlanden). Mereka bekerja bergandengan tangan dengan Nazi untuk menyingkirkan lawan politik mereka dengan paksa; membasmi kaum Yahudi tanpa ampun atas nama kemurnian ras superior bernama Arya.

Nazi tidak main-main dengan politik rasial mereka. Sebuah penelitian dilakukan untuk menyelidiki asal usul ras Arya. Ciri-ciri fisik ditentukan untuk membedakan keturunan ras Arya mana yang bukan. Mereka ingin menyucikan ras dengan kawin campur dengan Arya dan melarang kawin campur antar ras. Untuk itu, Hitler mengesahkan Race Chastity Act pada 14 Juli 1933.

Sejak itu, Jerman telah menjadi neraka bagi orang Yahudi, gay, penyandang disabilitas, dan kelompok anti-Nazi. Nilai-nilai kemanusiaan mencapai titik terendah. Di kamp konsentrasi Nazi, foto-foto orang Yahudi yang hidup di bawah penyiksaan terpampang: tubuh seperti tengkorak yang ditutupi kulit, duduk di sudut kamp menunggu kematian datang.

Ketika perang usai, Nazi kalah, bukan berarti rumor itu berhenti begitu saja. Memasuki tahun 1960-an, anak-anak muda yang lahir dan besar setelah perang mulai bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh generasi ayah dan kakek mereka. Mereka ingin Jerman bebas dari pengaruh fasisme.

Mereka terus menuntut, berharap agar Jerman bebas dari sisa-sisa bencana masa lalu. Sebuah gerakan lahir: berdamai dengan masa lalu. Dengan cara itu, Jerman mengatasi masalah masa lalunya. Sampai hari ini, kenangan tentang kekejian Nazi diturunkan melalui pelajaran sejarah; monumen dan situs kamp konsentrasi yang sengaja diawetkan.

Sejarah kekejian diajarkan untuk tidak menyimpan dendam, tetapi sebagai cara untuk memahami bahwa rasa sakit di masa lalu adalah kesalahan yang tidak dapat diulang.

Lalu bagaimana dengan di negara kita? Negara yang disebut-sebut memiliki penduduk paling ramah di dunia karena sering menebar senyum ini, sebenarnya telah menyumbangkan kata "amok" atau rage (mengamuk) ke dalam kamus bahasa Inggris. Apakah sejarah merupakan pelajaran yang baik bagi bangsa ini? Tentu saja, di sini, memori sejarah tidak hanya menjadi pelajaran, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mereka yang datang dari masa lalu untuk mengambil bagian di masa sekarang. Tidak peduli seberapa gelap masa lalu itu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama