Tekad Soekarno di Konferensi Asia-Afrika

Konferensi Bandung 1955 menjadi ajang bagi Sukarno untuk memupuk persaudaraan dan solidaritas antar bangsa Asia-Afrika.

Soekarno, Jawaharlal Nehru, dan Gamal Abdel Nasser.

Bandung, 1928. Sebuah gagasan tentang perjuangan muncul dari goresan tangan seorang anak muda asal Surabaya yang baru saja menamatkan sekolah teknik di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Tulisannya berjudul “Indonesianisme dan Asiatisme”, dimuat harian Suluh Indonesia Muda, cukup membuat gempar Hindia Belanda. Sukarno, nama sang anak muda itu, membawa baru untuk gerakan kemerdekaan di tanah airnya. Sebuah ide perjuangan yang nantinya akan membawa semangat persatuan di wilayah Asia dan Afrika.

Di dalam artikel tersebut, Bung Karno banyak menyebut tentang semangat Asia. Dijelaskan Bakran Asmawi, dkk dalam Pesan Pembaharuan dari Bandung, Si Bung menggambarkan keindahan Jepang atas Rusia pada 1905, dan Kemenangan Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha di medan perang Afyonkarahisar, sebagai kemenangan Asia atas Eropa.

Demikian pula dengan kemenangan Mesir, Cina, dan India atas imperialisme Inggris yang telah bercokol lama di sana. Tidak hanya untuk bangsa Asia secara umum, kemenangan atas bangsa-bangsa Eropa itu, bagi Sukarno, merupakan kemenangan Indonesia juga, karena imperialisme yang menjerat Indonesia bukan hanya Belanda saja, tetapi imperialisme internasional.

“Dengan apa yang dikemukakan di atas maka kita, kaum pergerakan nasional Indonesia, dengan gembira dan besar hati membuka lapangannya Asiatisme. Zaman menuntut kita punya usaha sampai keluar batas-batasnya negeri kita, melancar-lancarkan kita punya tangan ke arah tepi-tepinya sungai Nil atau dataran Negeri Naga, menyeru-nyerukan kita punya suara sampai ke negerinya Mahatma Gandhi,” ujar Sukarno

Tumbuhan Sukarno tentang gerakan kemerdekaan, dan ide persatuan di seluruh Asia dan Afrika tidak muncul begitu saja. Sudah sejak tahun 1930-an dia mempromosikan masalah tersebut di berbagai forum diskusi, rapat umum, hingga sejumlah besar artikel yang dimuat banyak surat kabar. Seluruh semangatnya itu kemudian dalam Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung, Jawa Barat.

“Kalau Barong Liong Sai dari Cina bekerja sama dengan Lembu Nandi dari India, dengan Sphinx dari Mesir, dengan Burung Merak dari Birma, dengan Gajah Putih dari Siam, dengan Ular Hydra dari Vietnam, dengan Harimau dari Filipina, dan dengan Banteng dari Indonesia, maka pasti hancur lebur kolonialisme internasional,” kata Sukarno dalam “Mentjapai Indonesia Merdeka”, seperti tertuang dalam salah satu karya fenomenalnya, Di Bawah Bendera Revolusi.

Sekitar Konferensi

Ide Konferensi Penyelenggaraan se-Asia dan Afrika pertama kali tercetus dalam konferensi di Colombo, Sri Lanka tahun 1954, yang dihadiri lima negara baru merdeka di Asia: Sri Lanka, Burma, India, Pakistan, dan Indonesia. Sementara konferensi yang melibatkan negara-negara dari dua benua tersebut merupakan buah pikir Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo.

Dikisahkan Ali dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku, konferensi akbar itu tidak begitu saja diterima para pimpinan negara yang hadir saat itu. Mereka memiliki keraguan dan khawatir akan keberhasilannya. Setelah berkali-kali diyakinkan, akhirnya mereka terkejut. Ali pun menyatakan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan besar tersebut.

“Waktu mendengarkannya dengan Presiden Sukarno tentu saja dia sangat setuju dengan ide Pak Ali tersebut. Pastinya itu sesuai dengan misi Bung Karno yang ingin memosisikan Indonesia sebagai garda terdepan kedatangan negara-negara Asia-Afrika yang saat itu banyak yang masih dijajah negara-negara Barat,” ungkap sejarawan Rushdy Hosein.

Presiden Sukarno dan PM Ali bekerja sangat keras dalam memastikan keberhasilan acara perdana yang melibatkan negara-negara di Asia dan Afrika tersebut. Disebutkan Wildan Sena Utama dalam Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti-Imperialisme, Bung Karno juga sedikit terlibat dalam proses persiapan.

Pada 6 April 1955, Sukarno didampingi PM Ali melakukan pemeriksaan terakhir persiapan KAA. Dalam majalah Merdeka, 16 April 1955, Bung Karno menemukan banyak ornamen kota yang perlu disesuaikan dengan suasana perhelatan KAA, seperti mengubah beberapa nama jalan dan gedung. Gedung Concordia, sebagai gedung pertemuan utama, diubah menjadi gedung Merdeka, gedung Dana Pensiun menjadi gedung Dwi Warna.

Sementara itu, Jalan Raya Timur yang terbentang di depan gedung sidang pleno, diganti menjadi Jalan Asia-Afrika. Presiden juga meminta panitia acara memastikan tidak ada jalan yang rusak. Kendaraan-kendaraan dan arus lalu lintas juga harus ditata agar terlihat rapi dan bersih. Presiden agaknya tidak ingin para peserta sudah jauh-jauh datang kecewa dengan kondisi di Bandung.

Dia juga turun langsung dalam mengawasi gedung-gedung yang akan dipakai sidang KAA. Dia memberi instruksi kepada para arsitek mengenai desain interior gedung Merdeka, terutama pembangunan balkon yang ada di tengah ruangan. Sukarno juga meminta Roeslan Abdulgani, imbuh Wildan, menyiapkan makanan-makanan khas Indonesia, seperti soto, sate, dan gado-gado, serta jajanan pasar seperti klepon, pukis, bika ambon, dan lemper, selama acara berlangsung, di samping makanan yang sudah disesuaikan dengan selera para peserta.

Keterlibatan Bung Karno, bahkan sudah terjadi jauh sebelum KAA digelar, ketika PM Ali hendak pergi menghadiri Konferensi Colombo. Pada suatu pertemuan di Istana Merdeka, begitu mendapat surat undangan dari PM Sri Lanka Sir John Kotelawala, Bung Karno mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak negara, hanya pertemuan lima Perdana Menteri saja.

“Ingat Ali, ini adalah tujuan kita bersama, hampir 30 tahun lalu kita dalam pergerakan nasional melawan kolonialisme telah menggemakan solidaritas Asia-Afrika,” kata Bung Karno seperti dikutip Roeslan Abdulgani, The Bandung Connection: Konperensi Asia-Afrika di Bandung Tahun 1955.

Pidato Pembukaan

Sebelum KAA secara resmi dibuka, para delegasi yang menginap di Hotel Savoy Homan dan Hotel Preanger datang ke Gedung Merdeka dengan berjalan kaki. Digambarkan Basuki Suwarno, dkk dalam Lima Puluh Tahun Konferensi Asia Afrika Bandung 1955, mereka berjalan perlahan sambil menikmati tangan, serta melempar senyuman. Peristiwa yang dikenal sebagai kebebasan berjalan, yang menjadi simbol perdamaian di acara tersebut.

Menurut Wildan, Jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Zhou Enlai (Cina), dan Sukarno menjadi sorotan utama dalam freedom walk tersebut. Citra yang mereka tampilkan menggambarkan sosok “orang besar” dari Asia dan Afrika yang dielu-elukan rakyat. Keempatnya menjadi ikonografi KAA di kemudian hari.

“Kharisma mereka dipancarkan lewat gerak gerik dan respon terhadap sambutan audiens, selain penampilan. Bagi rakyat yang hadir, orang-orang inilah simbol dari semangat nasionalis dan revolusioner,” kata Wildan.

pukul 09.00, para delegasi telah memasuki ruang sidang. Mereka duduk di tempat yang telah mengatur panitia. Pembukaan acara pun lancar berjalan, tanpa kendala yang berarti. Kemudian tibalah waktunya bagi Presiden Sukarno, sebagai pimpinan tuan rumah, menyampaikan pembukaan konferensi.

Sukarno membuka bicara dengan gaya khasnya, penuh semangat dan berapi-api. Dia mengungkapkan rasa bangganya bisa menyelenggarakan peristiwa bersejarah tersebut. Dia juga merupakan hasil lahirnya KAA merupakan penderitaan rakyat di Asia dan Afrika. judul “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru”, Bung Karno membahas tiga isu utama: kolonialisme, perdamaian dunia, dan solidaritas Asia-Afrika.

“Inilah konferensi internasional yang pertama dari bangsa-bangsa kulit sepanjang sejarah umat manusia. Saya merasa bangga negeri saya menjadi tuan rumah bagi tuan-tuan,” katanya. “Pada hemat saya kita berkumpul di sini pada hari ini karena akibat dari pengorbanan. Pengorbanan yang dibuat oleh nenek moyang kita dan oleh rakyat dari generasi kita serta generasi yang lebih muda.”

Menurut Sukarno berkumpulnya para wakilan negara Asia dan Afrika di Bandung pada hari itu merupakan akibat dari krisis dunia selama berlangsungnya Perang Dingin. Dunia menjadi terpecah, jurang-jurang menganga di antara bangsa-bangsa, dan solusi di seluruh dunia menjadi terancam. Kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan dibiarkan. Perubahan perlu dilakukan melalui bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.

Sukarno juga menyaksikan kolonialisme yang tidak pernah ada matinya di dunia. Masih banyak negeri di Asia dan Afrika yang terkurung oleh bencana itu. Mereka bahkan bertransformasi dari bentuk-bentuk, menuju bentuk kolonialisme baru yang lebih modern. Namun kolonialisme jugalah yang menjadi alasan mereka berkumpul di sana, duduk bersama pada konferensi akbar.

“Kita semua, saya yakin, disatukan oleh hal-hal yang lebih penting dari hal-hal yang superfisial memisahkan kita. Kita bersatu, misalnya, oleh sikap yang sama dalam kebencian kolonialisme dalam apa saja yang muncul. Kita bersatu oleh sikap yang sama dalam hal kebencian rasionalisme. Dan kita bersatu karena ketetapan hati yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia,” papar Sukarno.

Di akhir pembicaraannya, Sukarno mengajak negara-negara peserta KAA untuk membentuk front antikolonialisme, dengan membangun dan memupuk solidaritas Asia-Afrika. Dia yang mendominasi dunia mengambil langkah positif dalam mempengaruhi politik internasional. Bukan dengan membangun blok yang sudah ada, tetapi berupaya mencari jalan keluar dari hasil akibat Perang. Sukarno juga berharap KAA tidak hanya membawa perdamaian di Asia dan Afrika, tetapi seluruh dunia.

“Pidato pembukaan presiden tersebut telah mengikat dan mengikat delegasi negara-negara peserta, dan telah mengikat dan mengikat perasaan siapa saja yang bercita-citakan suatu kemegahan dan kemuliaan Asia-Afrika,” tulis Kamarsjah Bandaro dalam Asia-Afrika antara Dua Pertentangan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama