Soekarno Berkunjung ke Bali

Soekarno bertemu dengan para pemimpin Bali dan komandan Jepang yang mendukung Indonesia merdeka.

Presiden Soekarno menerima patung kecil mantan pejuang kemerdekaan Bali di Istana, 25 Desember 1951.

Suatu hari, Soekarno meminta Suharto, dokter pribadinya, untuk bersiap-siap karena sewaktu-waktu akan membawanya ke Bali. Jadwal penerbangan belum ditentukan karena harus memilih waktu yang tepat agar tidak disergap oleh pesawat Sekutu.

Ketika waktu keberangkatan ditetapkan, ternyata Soekarno didampingi oleh Mohammad Hatta dan Ahmad Subardjo. Laksamana Tadashi Maeda, kepala Kaigun Bukafu atau kantor penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta, mengawal mereka ke tangga penerbangan.

“Tujuan perjalanan ke Bali adalah untuk bertemu Laksamana Yaichiro Shibata, Panglima Kaigun (Angkatan Laut) Jepang yang membidangi nusantara, kecuali Sumatera dan Jawa,” kata Suharto dalam memoarnya, Witness to History.

Shibata sebenarnya berbasis di Ujung Pandang. Karena kota itu menjadi sasaran pengeboman Sekutu, ia sementara bermarkas di Singaraja.

Penerbangan ke Denpasar tidak mengalami kendala apapun. Sesampainya disana, mereka naik mobil menuju penginapan di Kintamani.

Sejarawan Geoffrey Robinson dalam The Dark Side of the Island of the Gods: A History of Political Violence menyebutkan, pada akhir Juni 1945, Soekarno, pemimpin pejuang Republik Indonesia yang kemudian menjadi presiden, diundang ke Bali untuk menghadiri pertemuan jenderal. bertemu dan bertemu dengan para pemimpin Bali.

“Soekarno berkunjung ke Singaraja pada 24 dan 25 Juni 1945,” tulis Robinson. “Dalam buku hariannya, raja Buleleng hanya mencatat detail kunjungan ini.”

Soekarno diterima di kantor Keresidenan oleh para pemimpin penting Jepang dan Bali pada 24 Juni 1945.

Keesokan harinya, 25 Juni 1945 pukul 14.30, Soekarno menghadiri pertemuan para pemimpin Bali di gedung Sjukai (Dewan Kediaman) di Singaraja. Pukul 17.00 ia menyampaikan pidatonya pada rapat umum di halaman depan kantor polisi, dan pada malam harinya ia bergabung dengan tamu-tamu terhormat untuk menyaksikan pertunjukan tari Bali.

"Sayangnya, raja [Buleleng] tidak mengatakan apa-apa tentang isi pidato publik Soekarno," tulis Robinson.

Suharto mengatakan bahwa niat Soekarno untuk pergi ke Bali adalah untuk bertemu Shibata. Percakapan mereka terjadi di kediaman Shibata di Singaraja. Pembicaraan berlangsung beberapa kali dan Soekarno selalu didampingi oleh Hatta dan Subardjo.

Subardjo mengatakan kepada Suharto bahwa Shibata bersimpati pada perjuangan untuk Indonesia merdeka, dan akan memberikan semua bantuan yang bisa dia berikan.

"Janji itu benar-benar terpenuhi," kata Suharto. “Beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan, Shibata yang saat itu berada di Surabaya banyak menyerahkan senjata kepada pemuda kita.”

Setelah menyelesaikan bisnisnya dengan Shibata, Soekarno mengunjungi sebuah kuil, tempat ayahnya, R. Soekemi Sosrodihardjo, pertama kali bertemu ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai pada tahun 1890-an.

Sebagai pecinta seni, Soekarno kemudian mengunjungi rumah-rumah seniman termasuk pelukis Jerman Walter Spies, yang terletak di sebuah lembah di tepi jalan menuju Wisma Kintamani.

"Di rumah seniman itulah saya mengetahui bahwa Pak Bardjo juga seorang seniman," kata Suharto. "Dia memainkan biola Walter Spies dan memainkan serenade yang sangat disukai Bung Karno."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama