Sajak Pukulan Rotan

Hukuman bagi pelanggar peraturan kamp Digul sangat keras. Seorang tahanan politik diikat ke sebuah tiang kemudian dicambuk sampai berlumuran darah.

Potret Jef Last dalam poster karya P. A. Begeer pada tahun 1929.

Suatu hari di tahun 1933. Chalid Salim sedang bertugas memeriksa selokan dengan seorang dokter ketika seorang kopral mendatangi mereka. Atas perintah komandan kamp, ​​kopral meminta dokter untuk menyaksikan eksekusi pemukulan rotan tahanan politik. Chalid dan dokter segera pergi ke tempat eksekusi.

Di sana, seorang tahanan politik ditelanjangi dengan tangan dan kaki diikat ke tiang. Hanya secarik karung goni yang menutupi kemaluannya. Namanya Idris.

"Sungguh pemandangan yang keji melihat rekan senegaranya diperlakukan begitu memalukan," kenang Chalid Salam dalam Lima Belas Tahun Digul.

Tidak jelas mengapa para tapol harus dihukum. Namun, disebutkan bahwa tapol telah melanggar aturan dan harus dihukum dengan 15 pukulan rotan.

Sang dokter kemudian mengajukan protes terhadap hukuman tersebut, yang menyerupai pertunjukan bergaya abad pertengahan. Namun, aturan tetaplah aturan. Algojo yang bertugas memberikan hukuman adalah seorang sersan Indo-Belanda yang kekar. Menurut Chalid, sersan itu tampaknya secara sukarela melakukan tugas kejam ini. Ia juga menyiapkan cambuk rotan yang kental.

“Jadi sebelum kami menyadarinya, rotan itu telah berayun, dan dengan keras ditampar pantat telanjang tahanan. Karena sersan sengaja mencabut rotannya, kulit korban sobek di sana-sini. Dan meskipun korban membungkuk kesakitan, dia tidak pernah berteriak atau mengerang," tulis Chalid.

Para tapol yang berlumuran darah itu kemudian dibawa ke rumah sakit. Luka tersebut kemudian dibalut dengan salep. Dia diberi sebungkus rokok meskipun ini melanggar aturan. Oleh dokter, ia diberi surat istirahat selama seminggu dan diberi rokok setiap hari.

Kekejaman kamp Digul sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Bahkan, laporan dari Digul sudah sampai ke Belanda. Penyair Belanda Jef Last (1898-1972) adalah salah satu penyair yang sering memprotes keberadaan kubu ini dalam puisi-puisinya.

Menurut Harry A. Poeze dalam "Jef Last dan puisi revolusionernya tentang Indonesia" yang dimuat dalam Pramoedya Ananta Toer 70 Tahun, puisi-puisi Last tidak terbit lagi selama bertahun-tahun karena tersingkir dari sejarah sastra Belanda. Poeze kemudian mengkompilasi ulang puisi Last dan menerbitkannya pada tahun 1994 dengan judul Liedjes op de aat van de rottan (Lagu dengan pukulan rotan).

Hukuman pemukulan rotan bagi tapol Digul sepertinya sudah diterapkan sejak awal. Liedjes op de aat van de rottan ditulis oleh Last pada tahun 1928. Last juga menerbitkan beberapa buku puisi, antara lain Partai Komoenis Indonesia, Digoel-Wilhelmus, dan De poenale sanctie.

“Setiap buklet dijual hanya sepuluh sen, 'agar orang miskin bisa membelinya',” tulis Rudolf Mrazek dalam Sjahrir, Politics and Exile in Indonesia.

Saat itu Last adalah anggota Sociaal Demokratische Arbeiders Partij (SDAP) atau Partai Sosial Demokrat Belanda. Ia berteman dengan Henriette Roland Holst, Mohammad Hatta, Sjahrir hingga Maria Ullfah. Last tertarik menulis tentang Partai Komunis Indonesia, pengasingan Boven Digul, dan eksploitasi kuli di perkebunan di Sumatera.

Di Digul, para tapol diwajibkan menyanyikan lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus” pada hari ulang tahun ratu. Namun, beberapa tapol menolak. Akibatnya, mereka kemudian diasingkan ke kamp yang lebih “berat” di Tanah Tinggi.

“Peristiwa ini mendorong Last untuk menulis apa yang disebut Wilhelmus versi Digoel,” tulis Gerard A. Persoon dalam Reflecting on Echoes: The Indonesian-Dutch Musical Encounter.

Menurut Chalid, Last juga salah satu aktivis yang juga mengkritik rekan-rekan aktivis Belanda yang tidak mengambil tindakan nyata untuk membubarkan kubu Digul. Tindakan nyata yang dimaksud Chalid adalah demonstrasi, pemogokan, atau menduduki perusahaan-perusahaan penting.

“Jika ada tindakan seperti itu, kamp penjara kami akan segera dibubarkan. Tapi mereka… tidak melakukan apa-apa!” tulis Chalid.

Berangkat dari fakta itu, Last kemudian membuat puisi berjudul Digoel-Digoel. Berikut tiga bait pertama puisi Last yang diterjemahkan oleh Chalid Salim.

Mengapa saya menulis tentang Indonesia,

dan bukan tentang tanah air itu sendiri?

Di sana mayat teman dibuat menjadi bulan

untuk senjata di tangan penjajah.

Di sana mengayunkan tongkat rotan, sel penjara penuh sesak

karena mereka mengibarkan Bendera Merah.

Kami kagum dan kami memuji dengan bangga,

tapi apa yang kita lakukan?

Apa peduli jika mereka mati?

di neraka celaka kamp Digoel?

Jika pemerintahan Ratu genap tiga dekade,

Keadaan dunia dikatakan normal.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama