Saat Hoegeng dan Teuku Markam Bertarung

Kapolri yang paling jujur sempat bertengkar dengan seorang pengusaha kaya yang meminta dibuatkan paspor diplomatik. Jangan ragu untuk bersikap tegar meski di hadapan Presiden Sukarno.

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso dan Haji teuku Markam.

Ada candaan lucu dari Gus Dur tentang polisi. Dia mengatakan hanya ada tiga polisi yang jujur ​​di Indonesia. Pertama, speed bump. Kedua, patung polisi. Dan ketiga, Jenderal Hoegeng. Dari ketiganya, hanya Hoegeng yang berwujud manusia. Hoegeng menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dari tahun 1968 hingga 1971.

Kejujuran Hoegeng bukan isapan jempol belaka. Reputasinya melekat pada citra polisi anti-suap. Selama bertugas di kepolisian, Hoegeng berulang kali menghadapi orang-orang berkuasa yang mencoba menyuapnya.

Pada pertengahan 1950-an, Hoegeng ditempatkan di Medan sebagai kepala investigasi kriminal. Belum sempat menempati rumah dinas, Hoegeng ditawari sebuah mobil dan rumah oleh seorang pengusaha Cina sebagai gratifikasi. Hoegeng tahu dia berurusan dengan seorang pengusaha yang terlibat dalam bisnis gelap penyelundupan. Dia dengan tegas menolak tawaran itu. Hoegeng bahkan mengembalikan barang-barang furnitur mewah yang dikirim oleh pengusaha itu.

Pengalaman di Medan membuat Hoegeng tak segan-segan menangkap penjahat kelas kakap. Hoegeng telah mengungkap tak terhitung banyaknya kasus penyelundupan dan perjudian. Pada tahun 1961, Hoegeng diangkat menjadi kepala kantor imigrasi di Jakarta. Lagi-lagi, Hoegeng punya kasus dengan seorang pria bertubuh besar yang tertarik dengan layanan keimigrasian.

Hoegeng dalam autobiografinya Police: Dreams and Reality bercerita tentang seorang pengusaha asal Aceh yang bertemu langsung dengannya di kantor imigrasi. Hoegeng mendapat kesan arogan karena pengusaha itu mengaku dekat dengan Presiden Sukarno. Selidiki sebuah hitung-hitungan, pengusaha itu pernah menyumbang 50 juta rupiah saat Bung Karno menggelar kampanye penggalangan dana untuk kampanye melawan Malaysia. Dan untuk mencari dana tersebut, ia meminta berbagai kemudahan kepada Bung Karno, termasuk monopoli perdagangan karet di Sumatera.

“Nama pengusaha itu cepat melejit karena langsung menjadi kaya karena memonopoli berbagai bahan baku di Sumatera, termasuk karet. Pergaulannya cepat beredar di kalangan menteri karena memang dianggap sangat dekat dengan Bung Karno," kata Hoegeng.

Dalam otobiografinya, Hoegeng tidak menyebut nama pengusaha itu. Namun, dalam memoar Abdul Karim Oey Melayani Agama, Nusa dan Bangsa: Sahabat Bung Karno, diceritakan tentang seorang saudagar kaya bernama Teuku Markam, yang menyumbang 50 juta rupiah ketika Sukarno mengadakan penggalangan dana untuk mendukung operasi Dwikora pada 9 Juli. , 1964. Saat itu, Markam sudah cukup terkenal. sebagai pengusaha pabrik kulit yang diberi nama PT Karkam – singkatan dari Leather Aceh Raya Captain Markam,

“Dasaad donasi Rp 100 juta, Yusuf Muda Dalam Rp 100 juta, Karkam Rp 50 juta, dan masih banyak lagi,” kata Oey.

Markam adalah seorang pengusaha kerajaan. Namanya disebut-sebut sebagai penyumbang 28 kg emas 38 kg untuk monumen nasional. Karena sumbangannya, tak heran jika Markam bisa lebih dekat dengan kalangan elit seperti presiden dan menteri. Markam adalah salah satu dari delapan pengusaha nasional yang disebut-sebut sebagai penasihat Sukarno. Tapi tetap saja jika dia berurusan dengan Hoegeng maka dia akan menemukan kesulitan.

Kepada Hoegeng, pengusaha itu meminta diberikan paspor diplomatik. Paspor semacam itu memiliki kekebalan hukum tertentu di bawah hukum internasional. Karena pemohon bukan diplomat, Hoegeng menegaskan Markam tidak berhak memiliki paspor diplomatik. Apalagi paspor diplomatik harus diminta melalui rekomendasi Kementerian Luar Negeri, dan tidak langsung ke kantor imigrasi.

Markam rupanya membutuhkan paspor diplomatik agar bisa bebas bepergian ke luar negeri. Markam melobi sambil menawarkan iming-iming uang untuk membiayai kebutuhan rumah tangga Hoegeng setiap bulan. Sadar telah disuap, Hoegeng langsung berang.

"Kau lihat itu pintunya!" Bentak Hoegeng sambil menunjuk, “Jadi kamu tinggal memilih: keluar dengan baik atau aku akan menendangmu keluar pintu! Persetan dengan uangmu.” Diperlakukan seperti ini, Markam hanya bisa tergagap. Dia lalu membuang muka dan meninggalkan kantor imigrasi.

Beberapa hari kemudian, Hoegeng dan Markam sama-sama memiliki urusan untuk menemui Presiden Sukarno di Istana. Mark diterima terlebih dahulu. Hoegeng melihat kedekatan di antara mereka. Alih-alih merasa canggung, Hoegeng justru "memukul" Markam dengan kata-katanya yang tajam.

"Nah, ini pengusaha putra emasmu, tahu?" kata Hoeng.

"Terus?" Bung Karno mengiyakan sambil tertawa.

"Sebagai informasi," keluh Hoegeng, "ia mencoba menyuap atau membelikan saya paspor diplomatik."

Selama beberapa detik, ada keheningan. Bung Karno kemudian membenarkan aduan Hoegeng kepada Markam, "Hei kamu ya?!" tanya Bung Karno setengah menegur. Markam bingung dengan wajah tertunduk.

Meski sempat bentrok di masa Sukarno, Markam dan Hoegeng sama-sama sengsara di era Orde Baru. Pada tahun 1966, Markam dipenjara selama sembilan tahun. Perusahaan diambil h oleh negara. Kedekatan dengan Sukarno Markam pada tuduhan sebagai koruptor dan antek PKI. Dalam kebanyakan kasus, hukuman tersebut tidak pernah terbukti karena hukuman terhadap Markam tidak melalui proses pengadilan.

Pada tahun 1975, Markam Bebas dari tahanan. Dia kemudian membangun kembali bisnisnya dengan mendirikan PT Marjaya (Markam Jaya). Menurut Apa dan Siapa Jumlah Orang Indonesia 1983—1984, Markam menjadi pemborong pembuatan jalan. Beberapa di antaranya adalah pembangunan jalan sepanjang 35 km di Lhoukseumawe, Aceh Utara dan 136 km di Cileungsi, Jawa Barat.

Sementara itu, Hoegeng setelah Kapolri dipensiunkan dengan alasan yang tidak jelas. Hoegeng kemudian dicekal oleh pemerintah karena terlibat dalam Petisi 50. “Gara-gara saya mengundang Petisi 50 juga maka siaran musik Hawaiian kami lewat Radio Elshinta dihentikan,” kenang Hoegeng. Pencekalan itu lebih karena sikap kritis Hoegeng terhadap pemerintahan rezim Soeharto.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama