Phoa Beng Gan, Si Jago Pengairan Tionghoa di Batavia

Tidak kaya dan makmur seperti Souw Beng Kong, Phoa adalah kapten Batavia Cina yang murah hati dan dihormati oleh VOC dan warga Batavia.

Molenvliet, kanal Phoa Beng Gan, adalah kanal terpenting di Batavia selama lebih dari tiga abad.

Musim kemarau panjang melanda Batavia. Saluran air di Batavia mengering. Sampan-sampan kecil tak bisa memindahkan barang kebutuhan pokok penduduk. Kala itu, 1648, saluran air menjadi urat nadi transportasi Batavia dan sampan adalah alat utamanya. Karena sampan tak bisa digunakan lagi, pemilik sampan menjualnya.

Kemarau juga bikin pusing gubernur dan pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Batavia. Suplai obat-obatan dari negeri Belanda yang terputus akibat perang Belanda-Inggris. Untuk menyediakan obat, VOC harus membangun pabrik sendiri. Itu perlu suplai udara yang cukup. Selama musim kemarau, air mengalir sangat kecil sehingga pabrik obat tak dapat berjalan.

Seorang Tionghoa bernama Phoa Beng Gan (disebut juga Phoa Bingham) mendapat cara jitu untuk membuat suplai udara kembali normal menghadapi musim kemarau. Dia adalah Kapitan Tionghoa ketiga di Batavia setelah Souw Beng Kong. Berbeda dari Souw yang pandai dan lihai dalam urusan niaga, Phoa lebih jago dalam teknik pengairan.

Kapitan adalah jabatan tertinggi seseorang dari suatu komunitas masyarakat berdasarkan asal daerahnya pada masa VOC. Kapitan juga mengurus administrasi kependudukan masyarakatnya. Jabatan ini juga menghubungkan komunitas tersebut dengan kebijakan VOC. Misalnya ketika terjadi musim kemarau panjang, seorang kapitan harus pula memikirkan langkah penanganannya.

“Gubernur Belanda meminta bantuan Phoa Beng Gan untuk mencari jalan mengatasinya,” kata Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik. Phoa mengusulkan saluran air baru untuk menghubungkan wilayah utara ke selatan kota.

Kala itu, kota Batavia memiliki puluhan saluran atau kanal yang membentang dari barat ke timur. Tapi hampir semuanya berada di sekitar tembok kota atau wilayah yang ditemukan oleh orang-orang VOC. Kanal yang melewati tembok kota dan menjulur ke selatan dibuat untuk menggiatkan daerah penanaman tebu di luar tembok kota (ommelanden).

Tapi pembangunan kanal di luar tembok kota masih kurang. Phoa ingin kanal utara-selatan ditambah. Penambahan kanal akan memecah aliran Kali Ciliwung dari timur ke barat, lalu mengalir ke utara melewati tembok kota. Phoa menghitung, kanal baru juga akan membuat banjir dan wilayah rawa-rawa di Batavia berkurang pada musim hujan. Sementara pada musim kemarau, kanal baru akan menambah debit air.

VOC menyetujui proposal itu. Begitu pula dengan masyarakat Tionghoa. “Ahli pengairan yang dapat dipercaya,” begitu orang Tionghoa dan VOC menggelari Phoa, seperti diungkapkan Tim Reporter penulis buku Sedjarahnya Souw Beng Kong, Phoa Beng Gan, Oey Tambah Sia.

Untuk membangun kanal baru itu, Phoa meminta masyarakat Tionghoa ikut serta. Sebab mereka pula yang akan menikmati hasilnya kelak. Phoa merencanakan kanal itu berfungsi pula sebagai lalu-lintas sampan.

“Biayanya dipikul oleh masyarakat sendiri karena pemerintah waktu itu hanya berani membiayai dengan jumlah yang tidak berarti,” ungkap Tim Reporter.
 
Sumbangan dari mengucur orang Tionghoa. Tak hanya berbentuk dana, tetapi juga tenaga kasar. Mereka jadi penyumbang dana sekaligus buruhnya. VOC ikut membantu pengongkosannya. Tiap melihat kemajuan pembangunan kanal baru tersebut, VOC menambah pengongkonya.

Phoa turun langsung membuat tahapan pembangunan kanal. Dia terjun ke lapangan mencari aliran Kali Ciliwung. Dia membabat hutan lebat di luar tembok kota dan sempat bertemu beberapa binatang buas. Dia tidak lupa membuat peta hasil penelusurannya sehingga memudahkan pekerjaan pembuatan kanal baru.

Phoa menyelesaikan semua pekerjaan dalam waktu relatif singkat. Tapi hasilnya sangat manjur. “Air-air yang menggenangi rawa-rawa, sekarang ini mulai turun... Lalu-lintas air itu menambah membangun bisnis,” lanjut Tim Reporter.

Orang Tionghoa menyebut kanal tersebut “Binghamvart”, merujuk pada nama Phoa Bingham atau Beng Gan. Tapi orang VOC mengubahnya menjadi Molenvliet pada 1661. “Saluran ini menjadi jalur yang paling diminati penduduk,” kata Restu Gunawan dalam “Kala Air Tak Lagi Sahabat: Banjir dan Pengendaliannya di Jakarta tahun 1911–1985”, disertasi di Universitas Indonesia.

Terkesan dengan hasil kerja Phoa, VOC menghadiahinya sebidang tanah di luar tembok kota (sekarang terletak di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat). Phoa menanam tebu di atas tanah itu.

Penanaman tebu untuk pertumbuhan daerah sekitarnya. Rumah-rumah buruh tebu pun bermunculan. Mereka membangun rumahnya dengan batu-bata dan kapur. Karena itu, pabrik batu-bata dan kapur bersitumbuh pula.

VOC turut serta meramaikan wilayah itu dengan membangun pabrik penggilingan obat. Dari situlah Phoa mengusulkan lagi penambahan kanal untuk menghubungkan wilayahnya di selatan ke pusat kota utara. Sekali lagi, Phoa berhasil melakukannya.

Tapi petaka kemudian datang. Batavia yang sempat sohor sebagai Venezia dari Timur karena kanal-kanalnya itu, berubah menjadi sarang penyakit secara bertahap. Wabah malaria melanda kota, menyerang setiap penduduk tanpa pandang bulu. Orang Tionghoa terkapar tak berdaya. Beberapa mendatangi Phoa untuk meminta bantuan.

Phoa membuka tangan dan pikirannya. Meski tak sekaya seperti Souw Beng Kong, dia menganggap uang masyarakat untuk pendirian rumah sakit Tionghoa. Ide ini pun berasal dari pikirannya. Phoa mengusulkan sekaligus mampu mewujudkannya.

Usia Phoa menua seiring waktu, kesehatannya pun menurun. Dia merasa sudah saatnya untuk mundur sebagai Kapitan. “Sudah tentu hal ini sangat menyesal, bukan saja oleh bangsanya sendiri, bahkan oleh seluruh masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jakarta Raya,” terang Tim Reporter.

Gajah mati meninggalkan gading. Phoa mati meninggalkan udara dan rumah sakit.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama