Perjuangan Pemuda Etnis Tionghoa

Setelah proklamasi, semangat kemerdekaan memenuhi setiap dada sebagian besar rakyat Indonesia. Termasuk para pemuda dari etnis Tionghoa.

Dua anggota BPRT pro-Republik di Surakarta.


Saat menghubungkan era perjuangan kemerdekaan dengan etnis Tionghoa, seringkali orang hanya mengingat Pao An Tui (Badan Perlindungan Keamanan). Organ keamanan masyarakat Tionghoa yang dibentuk pada 28 Agustus 1947 memilih jalan yang berlawanan dengan pemerintah Republik dan secara tegas memihak Belanda.

“Orang Tionghoa yang menjadi korban “masa persiapan” membentuk Pao An Tui dengan dalih membela diri dari gangguan kaum Republikan,” kata Sulardi, penulis buku Pao An Tui 1947-1949, The Jakarta Chinese Army.

Namun tidak semua orang Tionghoa mengikuti jalan Pao An Tui. Di Surakarta, sekelompok pemuda Tionghoa mendirikan organ perjuangan pro-Republik yang disebut BPRT (Barisan Pemberontak Tionghoa Rakyat) pada 4 Januari 1946. Pada saat yang sama di Pemalang, pemuda Tionghoa membentuk LTI (Lasjkar Tionghoa Indonesia).

“Di Kudus orang Tionghoa bersatu dengan orang Jawa dalam suatu pasukan yang disebut Matjan Poetih…” kata Iwan Santosa, penulis buku Chinese in Military History: From the Archipelago to Indonesia.

Peran bangsa Tionghoa dalam perjuangan kemerdekaan, kini seolah terabaikan. Meski seperti pemuda dari suku bangsa lain di Indonesia, mereka juga memiliki andil dalam menjaga Indonesia merdeka.

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga di Desa Rawagede, Karawang. Di antara ratusan nisan korban Insiden Rawagede 1947, ada satu nama Tionghoa yang terselip di sana. Namanya: Tongwan. Siapa dia? Tidak ada yang tahu siapa dia sekarang kecuali dua mantan anggota Lasykar Hizbullah Rawagede bernama Telan (92) dan Kastal (93).

Menurut Telan, Tongwan adalah seorang pemuda Tionghoa yang tergabung dalam TRI (Tentara Republik Indonesia). “Ayahnya dikenal sebagai pedagang sukses di Rawagede. Namanya Babah Engkim," kata salah satu saksi peristiwa Rawagede 1947.

Berbeda dengan ayahnya yang memilih "menutup mata" terhadap revolusi yang sedang mengalir saat ini, Tongwan memutuskan untuk berpihak pada Republik dengan tegas. Artinya ia tidak menjalankan pilihannya sebagai mata-mata atau simpatisan belaka, melainkan langsung lengser sebagai pion revolusi di warung-warung sekitar Karawang. Telan mengingat Tongwan sebagai pemuda yang ceria dan ramah. Kepada siapa dia selalu berusaha bersikap ramah.

“Tidak seperti orang Tionghoa pada umumnya, dia bergaul dengan baik dengan masyarakat,” kata Telan.

Desember 1947 pada hari ke-9, dini hari militer Belanda menyerbu Rawagede. Kastal ingat bagaimana dia melihat Tongwan, yang agak pendek tapi kokoh, meninggalkan Markas Besar TRI dengan tergesa-gesa sambil memiringkan karabin Jepangnya. Niatnya untuk menyambut kedatangan pasukan Belanda, namun tiba-tiba sebuah peluru menembus dadanya. Tongwan jatuh di tepi sungai dengan darah di sekujur tubuhnya.

Beberapa tentara mendekatinya, lalu menendangnya sebelum melepaskan tembakan lagi ke tubuh Tongwan. "Dia adalah salah satu pejuang Rawagede yang hendak melakukan perlawanan, meski akhirnya dibunuh oleh Belanda," kata Kastal.

Tongwan tentu bukan satu-satunya pemuda Tionghoa yang gugur di era perjuangan kemerdekaan. Ada banyak kuburan mereka di seluruh Indonesia yang menjadi saksi bisu bahwa gerakan pembebasan bukan tentang suku, agama atau warna kulit tetapi tentang keyakinan akan kemerdekaan yang diinginkan setiap manusia di mana-mana.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama