Peradaban Alat Tulis

Perjalanan alat tulis menulis kata demi kata dari waktu ke waktu.

Novelis Charles Dickens menulis menggunakan pena bulu.

Pada 5000 SM, manusia mulai mengenal huruf-huruf dalam sistem tulisan. Sejak itulah berbagai media yang digunakan untuk mengekspresikan pikiran. Di atas berbagai perabot rumah, tanah liat, batu, piramida, cangkang kerang, dan logam, manusia akhir tahun lalu menuangkan segala ide dan kisahnya dengan menggunakan alat tulis.

Pada 4000 SM, alat tulis mulanya adalah hardware sederhana yang runcing di bagian ujung. Terbuat dari batu, kayu, atau tulang hewan. Teknologi masa kini memanjakan manusia dengan komputer atau tablet yang mampu membantu proses menulis. Inilah perkembangan alat yang dipakai manusia untuk menggoreskan kata demi kata, dari masa ke masa.

Batu Runcing

Goresan pertama manusia pada masa prasejarah berada di dinding-dinding gua, tempat mereka tinggal. Asal goresan tersebut diperkirakan sejak akhir masa Plestosen. Alat untuk menggores dinding goa tersebut adalah batu runcing (gurdi). Gurdi ini berupa kepingan batu yang dihaluskan, yang biasanya dapat pula untuk melubangi kulit binatang.

Pena Bulu

Pada 3000 SM penduduk Mesir menggunakan buluh tebal atau bambu kecil sebagai pena. Buluh tersebut diruncingkan ujungnya agar dapat digunakan menggores lempengan tanah liat. Dengan pena buluh ini, masyarakat Mesir mengembangkan aksara Hieroglif. Pena buluh ini digunakan pula masyarakat Arab kuno untuk menulis perkamen.

Kuas

Alat berupa kuas mulai digunakan sebagai peranti menulis sejak 3000 SM. Orang-orang dari peradaban Mesir Kuno digunakan untuk menulis di atas papirus. Kuas terbuat dari helai rambut, menjadi satu, disertai tangkai. Sementara tintanya terbuat dari campuran arang pinus, minyak lampu, dan gelatin dari kulit binatang.

Sejak 1200-an SM, Asia terutama Tiongkok, telah mengenal teknik sapuan kuas dalam menulis. Di berbagai peradaban dunia sapuan kuas dalam menulis juga menjadi seni yang indah.

Pena Alang Alang

Masyarakat Mesir pun tercatat menggunakan pena alang-alang untuk menulis di daun papirus. Tak sembarang alang-alang. Batang alang-alang yang kecil dan kuat justru menjadi pilihan. Batang alang-alang tersebut kemudian disimpan di bawah timbunan pupuk kandang hingga berubah warna hitam bercampur kuning serta menjadi keras dengan permukaan.

Bulu Ayam

Quill atau alat tulis dari bulu, umumnya bulu angsa atau bulu ayam, yang dikenal sejak masa Mesir Kuno. Seorang juru tulis kerajaan di Mesir sekira tahun 3000 SM menggunakan bulu yang dikunyah ujungnya agar membentuk filamen penahan sebagai tinta.

Di Eropa, pena bulu yang digunakan sejak abad ke-6 pertama kali muncul di Sevilla, Spanyol. Dengan adanya quill, orang-orang Eropa mengubah gaya tulisan jadi lebih kecil. Meski tak praktis karena harus dicelup berkali-kali ke dalam tinta. Alat tulis ini masih dipakai hingga abad ke-19.

Stilus

Adalah bangsa Romawi yang kali pertama menggunakan stylus, peranti menulis dari logam, pada 1300 SM. Stylus yang digunakan sebagai alat tulis pada media tablet kayu yang dilapisi lilin tipis. Stylus tidak menggunakan tinta karena tajamnya ujung stylus mampu membentuk tulisan pada lilin. Ujung atas stylus biasanya lebih lebar karena digunakan untuk menggosok lilin yang dipakai untuk menghapus tulisan. Serupa stylus tradisional, teknologi terkini menggunakannya sebagai alat bantu pada alat bantu layar sentuh.

Pensil

Pada 1564 seorang tak dikenal menemukan potongan-potongan hitam mengkilap di sekitar akar pohon yang tumbang di Borrowdale, Inggris. Potongan hitam yang kemudian dikenal sebagai grafiti bikin gempar karena ternyata dapat digunakan untuk menulis dan menggambar. Mulanya grafiti hanya dilekatkan pada sebilah kayu seukuran alat tulis.

Pada 1795, seorang ahli kimia Prancis, Nicholas Conte, mematenkan temuannya untuk pembuatan pensil. Dia mencampur grafit dan tanah liat lalu membakarnya sebelum dislipkan di antara potongan kayu bercelah. Setelah itu, muncul berbagai inovasi, dari pengaturan ketebalan hasil tulisan hingga pensil warna.

Meski pensil kayu masih bertahan hingga kini, namun telah pensil bentuk lain, yakni pensil mekanik yang mulai populer pada abad ke-19. Pemilik paten pensil mekanik adalah Sampson Mordan dan John Isaac Hawkins. Lantaran pensil ini selalu tajam tanpa harus diraut, maka banyak orang beralih menggunakan pensil mekanik.

Pena

Mulanya pena modern adalah semacam pena tajam yang ujungnya diganti logam. Ujung pena masih harus dicelupkan ke dalam tinta sebelum ditulis. Kemudian pena pada 1702 yang mampu menyimpan tinta dan dapat diisi ulang tapi desainnya tidak praktis.

Lewis Waterman, seorang pialang asuransi, pada 1884, menciptakan pena dengan saluran yang mendukung udara dan tinta bergerak secara simultan. Kemudian beberapa tahun setelahnya ditemukan konsep ballpoint yang hanya mampu menciptakan pena dengan tinta yang keluar saat ditekankan untuk menulis. Pada 1940-an Lazlo dan Biro menyempurnakan prinsip ballpoint. Sekitar 1980-an diciptakan roller ball pen yang menggunakan tinta lebih cair dibandingkan ballpoint biasa sehingga mengharuskan penggunaan tutup pada pena.

Spidol

Spidol dikenal sebagai alat tulis dengan beragam aplikasi. Spidol digunakan, misalnya untuk menulis di papan tulis atau penulisan yang umumnya menginginkan beragam warna. Sementara anak-anak kerap menggunakan spidol sebagai alat distribusi. Spidol dengan ujung lebih tebal yang sering digunakan sebagai penanda. Adalah Lee Newman yang kali pertama mematenkan spidol pada 1910. Alat tulis ini memiliki resapan tinta dan ujung pena dari serat.

Sabak dan Grip

Orang berumur 70-an mungkin tak heran dengan keberadaan PC tablet. Sebab, dalam ingatan masa kecil mereka saat sekolah, ada alat tulis yang menyerupai tablet PC, yaitu sabak dan grip. Sabak adalah media untuk menulis, sedangkan grip adalah alat tulisnya. Inilah asal-muasal kata doosgrip, tempat pensil.

Kelebihan pengguna sabak dan grip adalah kemampuan daya ingat penggunanya. Bagaimana tidak, setelah sabak penuh tulisan maka harus dihapus. Hal yang lebih menarik adalah cara membuktikan seorang murid mendapatkan nilai. Setelah hasil ulangan di sabak diberi nilai oleh guru, biasanya dengan kapur tulis, nilai itu kemudian ditempelkan di pipi kanan atau kiri. Bekas nilai yang menempel di pipi itu kemudian diperlihatkan kepada orang tua di rumah. Beruntunglah jika nilainya bagus, namun jika jelek?

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama