Orang Asing Yang Membantu Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Atas nama antikolonialisme, orang asing dari berbagai negara ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kiri-kanan (atas): Joseph Benedict Chifley, Dmitri Manuilsky, Tadashi Maeda. Kiri-kanan (bawah): Bobby Earl Freeberg, Muriel Stuart Walker, Yang Chill Sung.

Selama masa revolusi, bangsa Indonesia tidak berjuang sendiri. Sejarah mencatat, orang-orang asing dari berbagai negara juga turut mendukung, baik secara militer dan politik. Berikut ini orang-orang asing yang membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Jerman

Pasca berakhirnya Perang Dunia II, setidaknya ada dua prajurit Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) dari Kapal Selam U-219 yang bergabung dengan gerilyawan Indonesia: Warner dan Losche. Kedua lolos dari kamp konsentrasi Sekutu di Pulau Onrust (masuk wilayah Kepulauan Seribu). Mereka kemudian menjadi pelatih militer pada sebuah kesatuan tentara Indonesia di pulau Jawa, tepatnya di perkebunan kopi di Ambarawa. Losche malah gugur dalam suatu kecelakan saat melatih para gerilyawan Republik membuat sejenis pelontar api.

Ukraina

Ukraina, negara pertama yang mengusulkan soal Indonesia dibahas di Dewan Keamanan PBB. Adalah Dmitri Manuilsky, Ketua utusan Republik Sosialis Ukraina di PBB yang memulai pembicaraan mengenai pertikaian Indonesia dan Belanda pada 1946. Dalam setiap sidang, Manuilsky bersikukuh bahwa Indonesia dalam keadaan bahaya. Berkat proposal Manuilsky, sengketa Indonesia-Belanda menjadi sengketa internasional sepenuhnya.

Amerika Serikat

Bobby Earl Freeberg, mantan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia. Salah satu misi penting yang pernah dilakukan Bob adalah mengirimkan pasukan penerjun ke Kalimantan yang menantang NICA. Pesawat yang dikemudikan Bob diregistrasi dengan kode RI-002. Bob gugur setelah pesawatnya ditembak pesawat tempur Belanda pada 1 Oktober 1948 di Sumatra Selatan. Misinya saat itu sejumlah uang dan emas untuk membantu gerilya di Sumatra.

Selain Bob, ada seorang ahli matematika dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Dirk Jan Struik. Dia adalah pemimpin Komite Amerika untuk Indonesia Merdeka. Di negaranya, Dirk menjadi aktivis antikolonialisme yang berpengaruh. Organisasinya mendorong aksi unjuk rasa yang mengecam militer Belanda terhadap Indonesia pada 1947.

Australia

Perdana Menteri Joseph Benedict Chifley (menjabat 1945-1949) adalah salah satu tokoh politik Australia yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Ini ditunjukkan dengan dukungan agresi boikot serikat buruh pelabuhan Australia terhadap kapal-kapal Belanda yang membawa senjata ke Indonesia pasca militer pertama. Menteri Luar Negeri Australia HV. Evatt, mendukung dukungan serupa. Evatt diam-diam membiarkan pemboikotan meskipun melanggar undang-undang yang pernah dilaksanakannya Jaksa Agung.

Di PBB, upaya diplomasi Indonesia didukung Thomas Kingston Critchley. Setelah Belanda menyerang militer kedua, diplomat Australia melaporkan PBB bahwa Republik Indonesia masih bertahan dan sanggup melawan. Atas jasanya, Critchley menerima anugrah Bintang Dharma Putra dari pemerintah Indonesia pada 1992.

Jepang

Berpangkat laksamana, Tadashi Maeda menjadi tokoh militer tertinggi Jepang yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Peran terpentingnya ketika mempersilakan dan menjamin keamanan para pemimpin Indonesia merumuskan teks proklamasi di rumahnya. Rumah Maeda yang terletak di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, kini menjadi Museum Naskah Proklamasi.

Shigeru Ono, salah satu tentara Jepang yang memilih bertahan di Indonesia setelah Jepang menyerah terhadap sekutu. Ono bergerilya dari satu tempat ke tempat lain. Salah satunya, menyerang markas KNIL di Mojokerto pada Juni 1947.

Ichiki Tatsuo alias Abdul Rachman. Nama Abdul Rachman diberikan oleh Haji Agus Salim ketika Tatsuo menjadi Divisi Pendidikan Pembela Tanah Air (Peta), sebagai bentuk penghargaan kepadanya. Pada masa perang kemerdekaan, dia memimpin Pasukan Gerilya Istimewa di Semeru, Jawa Timur. Dia gugur di desa Dampit dekat Malang, Jawa Timur, 9 Januari 1949, setelah serangan desing peluru tentara Belanda untuk mendorong pasukan Indonesia agar menyerang.

Seorang perwira intel Jepang, Tomegoro Yoshizumi, turut melibatkan diri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia yang dikenal dekat dengan Tan Malaka. Yoshizumi gugur pada 10 Agustus 1948 di Blitar, Jawa Timur saat bergerilya.

India

Tentara India Muslim dalam pasukan Sekutu simpan di Jepang. Namun, mereka membelot dan berjuang di pihak Indonesia karena mengetahui mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim. Umumnya, para tentara pembelot ini ditampung dalam satuan pasukan TNI di Jawa dan Sumatera. Usai revolusi sebagian dari mereka memilih pulang ke India dan sisanya menetap di Indonesia berdinas di kepolisian atau kepolisian.

Korea

Yang Chill Sung, tentara Korea yang direkrut militer Jepang sebagai gunsok (tentara pembantu) dalam Perang Asia Timur Raya. Dia memeluk agama Islam tatkala tertawan Pasukan Pangeran Papak (PPP) Walikota pimpinan Garut Saoed Moestafa Kosasih pada Maret 1946. Dinyanyikan kemudian berganti nama: Komarrudin. Sebagai ahli ledakan, dia berperan dalam operasi Jembatan Cimanuk pada 1947 yang menggagalkan upaya Belanda menguasai wilayah Wanaraja. Pada 9 Agustus 1948, Sung alias Komarrudin diringkus dan dieksekusi pasukan buru sergap Belanda. Sebelum peluru menembus kepalanya, dia masih sempat meneriakan pekik “merdeka”.

Skotlandia

Muriel Stuart Walker, wanita kebangsaan Skotlandia yang dikenal dengan nama Ktut Tantri. Dia merupakan penyiar Radio Pemberontakan yang dipimpin Bung Tomo. Pada saat terjadi serangan Inggris dia berada di palagan. Dari medan perang itu, dia menyiarkan perang ke seluruh Eropa melalui radio tersebut. Simpati dari negara asing pun berdatangan terhadap perjuangan rakyat Surabaya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama