Mengapa Baret Marinir Berwarna Ungu?

Bagi Korps Marinir TNI AL, ungu merupakan warna yang penuh makna dan sakral.

Korps Marinir TNI AL.

Steven masih ingat apa yang terjadi pagi itu. Saat kerusuhan melanda Jakarta pada 14 Mei 1998, ia ditangkap di tengah massa yang melakukan kekerasan di kawasan Jalan Hayam Wuruk. Ketika pria Tionghoa itu kebingungan, tiba-tiba sekelompok orang mengerumuninya dan melemparkan berbagai pukulan.

“Untungnya, dalam kondisi kritis, dua tentara berjas ungu menembakkan senjata mereka ke udara, menyebabkan kerumunan melarikan diri. Mereka kemudian menahan saya,” kenang pedagang berusia 45 tahun itu.

Kedua prajurit baret ungu itu tak lain adalah anggota Korps Marinir, satuan elite TNI Angkatan Laut. Lahir dari rahim revolusi Indonesia pada tanggal 15 November 1945, Korps Marinir dalam perkembangannya selalu terlibat dalam berbagai operasi tempur dan operasi kemanusiaan yang diadakan oleh TNI Angkatan Laut.

“Seperti satuan elit lainnya, sejarah kita adalah sejarah pengabdian tanpa pamrih kepada negara ini…” kata Krisna Rubowo, pensiunan marinir berpangkat kolonel.

Tapi tahukah Anda mengapa salah satu unit elit tertua di Indonesia ini memilih warna ungu sebagai warna baret?

Menurut buku Korps Komando Angkatan Laut dari Tahun ke Tahun, warna ungu dipilih karena dua alasan. Pertama, ungu adalah salah satu warna selendang Nyai Roro Kidul yang dalam mitologi Jawa adalah penguasa lautan Indonesia. Selendang ungu milik Ratu Pantai Selatan dipercaya sangat ampuh dalam memberikan perlindungan dan keamanan.

Kedua, warna ungu baret Korps Marinir juga terinspirasi dari warna bunga Bougenville yang gugur sebelum layu. “Ini juga melambangkan dedikasi seorang prajurit Korps Marinir dalam menjaga dan memelihara keutuhan negara,” tulis karya yang dibuat oleh Bagian Sejarah KKO-AL (mantan nama Korps Marinir).

Sejarah juga mencatat bahwa warna ungu pertama kali digunakan oleh Korps Marinir (saat itu masih bernama KKO AL) dalam bentuk pita sebagai kode keamanan pada tahun 1958. Saat itu, pasukan Korps Marinir terlibat dalam Operasi 17 Agustus, aksi militer untuk menumpas pembangkangan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). di Sumatera Barat. Baru pada tahun 1961 Korps Marinir mengabadikan warna ungu untuk baretnya, seperti halnya Batalyon I KKO AL yang terlibat dalam Operasi Alugoro di Aceh.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama