Makanan Favorit Der Führer

Penggemar daging dan hidangan tradisional Austria, Hitler menjadi vegetarian sebelum perang.

Adolf Hitler disajikan buah segar saat makan siang bersama para perwiranya di Sudetenland pada pertengahan 1938.

Ruangan makan tertutup di Führerbunker pada siang 30 April 1945 begitu hening. Hanya bunyi dentingan piring makan siang yang meramaikan suasana makan di masa mencekam itu. Diktator Jerman-Nazi Adolf Hitler (diperankan Bruno Ganz) menyantap pasta ravioli dengan saus tomat di hadapannya dengan lahap.

Beberapa jam setelah pernikahannya dengan Eva Braun itu, Hitler makan siang ditemani koki pribadinya, Constanze Manziarly, yang duduk di hadapannya. Dua sekretaris Hitler, Traudl Junge dan Gerda Christian, turut menemani di samping Manziarly.

Setelah satu kepingan ravioli terakhirnya, Hitler memecah keheningan dengan memuji Manziarly. “Terima kasih, makanan ini enak, Nyonya Manziarly,” ujar Hitler. Setelah menghargai dengan lap makan, Hitler pun bangkit dari kursi danmi ketiganya untuk memberi salam perpisahan.

Adegan di akhir film biopik Downfall (2004) itu menggambarkan saat-saat Hitler jelang bunuh diri bersama istri yang baru dinikahinya beberapa jam setelah makan siang itu.

“Eva Braun tidak ikut (makan siang), kemungkinan dia sudah tak punya selera makan. Spaghetti dengan saus (tomat) ringan jadi hidangan terakhir Hitler yang dimakan dalam suasana sunyi. Setelah makan makanannya ia melihat pada sang koki dan berbicara dengan suara yang terdengar: ‘waktunya telah tiba; semua sudah usai,” tulis David McCormack dalam Year Zero: Berlin 1945.

Terlepas dari perbedaan fakta dan penggambaran film itu –di mana hidangan terakhir Hitler ukanlah pasta ravioli, melainkan spaghetti–,

Adegan itu turut menggambarkan bahwa Hitler tetap seorang vegetarian sampai akhir hayatnya. Padahal, di masa muda hingga menjelang Perang Dunia II, Hitler gemar melahap beragam olahan daging.

Hitler dikenal sebagai sosok yang punya gaya hidup sehat. bukan perokok dan pecandu minuman keras. Hanya sampanye, minuman berkadar alkohol rendah, yang suka minum di acara-acara khusus. Itu pun tak pernah sampai habis.

Dalam momen-momen sarapan, makan siang, dan makan malam, Hitler memilih air putih di gelasnya selain anggur atau miras. Itu melihat sejak Hitler masih jadi pemakan daging.

Kala masih mendaki kariernya, Hitler masih menggemari kuliner seperti kaviar, burung dara muda, dan aneka jenis sosis khas Bavaria. Namun di antara beragam kuliner, favoritnya tetaplah makanan yang berasal dari negeri kelahirannya, Austria, yakni leberknödel atau leberklösse dalam dialek Jerman, yakni hidangan berupa pangsit isi hati sapi.

Thomas Fuchs dalam A Concise Biography of Hitler mengungkapkan, pasca-kematian pertama kekasihnya, Geli Raubal, pada 18 September 1931, Hitler membantu mencegah beragam olahan daging. Pengecualian hanya leberknödel itu.

“Di awal kariernya di (partai) Nazi, ia sering terlihat lahap mengunyah sosis dan berlembar-lembar roti yang selalu ia bawa di sakunya. Tiba-tiba pada September 1931, ia menyatakan kebenciannya terhadap daging: ‘Itu seperti Anda memakan mayat!’ Kebenciannya pada daging terjadi tak lama setelah keponakannya menjadi cinta pertama, Geli Raubal, tewas bunuh diri. Kedukaan itu pasti masa makanan dagingnya dengan beberapa berita,” tulis Fuchs.

Menjadi vegetarian, Hitler masih bisa menikmati banyak produk turunan dari hewan seperti susu, telur, dan keju.

“Sarapan, makan siang, dan santap malam biasa tidak jauh berbeda. Konsumsi hariannya termasuk aneka olahan telur, spageti, kentang panggang dengan keju, oatmeal, buah-buahan yang disajikan, dan puding sayur. Daging tak sepenuhnya menghilang. Hitler tetap senang menikmati hidangan favoritnya, leberklösse,” sambung Fuchs.

Leberknödel, sebagai Jeremy MacVeigh dalam International Cuisine, adalah salah satu makanan tradisional Austria yang berasal dari keluarga Dinasti Hapsburg di abad pertengahan dan penerusnya, Austria-Hungaria (meliputi Austria, Jerman, Bavaria, Bohemia [kini Ceko], dan Hungaria). Di Austria disebut leberknödel, di Bavaria leberklösse, sementara di kawasan Rhine lewwerknepp.

“Makanan seperti sauerkraut (acar kol), pangsit, dan sosis menyebar ke timur seiring dengan itu memerangi Kesultanan Utsmaniyah. Hidangan semacam leberknödel, speckknödeln (pangsit bacon), dan teknik-teknik membuat sosis tersebar lewat pengaruh Dinasti Hapsburg,” urai MacVeigh.

Di Austria dan Bavaria biasanya leberknödel dihidangkan dalam bentuk sup berkaldu bening. Di kawasan Rhine, leberknödel atau lewwerknepp isiannya diganti dengan hati babi dan dihidangkan dengan sauerkraut tanpa kuah kaldu.

Seiring waktu, bahan baku pangsit dari adonan tepung sebagai asupan karbohidrat kentang dan hati sapi untuk asupan protein alternatif sosis mulai populer di rumah-rumah kelas menengah dan bawah di Austria. Termasuk di rumah orangtua Hitler. Menu itu hasil masakan ibunya, Klara Hitler, yang mantan asisten rumah tangga dan juru masak di rumah keluarga Yahudi.

Setelah ibunya tiada, Hitler hanya mau dibikinkan leberknödel oleh kakak tirinya, Angela Raubal, baik saat sudah tinggal di Berlin kala mendaki tangga politik maupun di vila peristirahatan sang kanselir di Obersalzberg.

“Sejak kematian Geli Raubal dia tak mau lagi makan daging. Pangsit hati (leberknödel) satu-satunya acara sukses dalam dietnya dan kakaknya Angela Raubal yang paling bisa memasaknya dengan baik selama di Obersalzberg,” singkap Wulf Schwarzwäller dalam The Unknown Hitler: His Private Life & Fortune.

Hitler baru total jadi vegetarian dan merelakan santapan favoritnya itu kala Perang Dunia II sudah bergolak. Menteri Propaganda Joseph Goebbels dengan lantang mempropagandakan Hitler sebagai vegetarian untuk menginspirasi generasi muda Jerman di masa mendatang agar meneladani gaya hidup sehatnya.

“Jika dia (Hitler) tidak makan daging, minum alkohol, atau merokok, itu bukan karena dia harus meningkatkan kesehatannya. Dia tidak mengonsumsi itu karena mengikuti contoh Richard Wagner, atau karena dia sudah tahu bahwa menghindari makan daging justru bisa meningkatkan energi dan daya tahannya pada titik tertentu, di mana kemudian dirinya sendiri menjadi penyebab terkait munculnya Jerman baru,” ungkap psikolog Walter C. Langer dalam The Mind of Adolf Hitler: The Secret Wartime Report.

Seiring jadi vegetarian, Hitler semakin menumbuhkan kecintaannya pada binatang. Hitler mengaku melihat melihat hewan-hewan ternak yang akan dijadikan makanan olahan. Hal ini untuk menyatakan Hitler pada para jenderal dan politik politik saat acara-acara jamuan agar mereka juga jijik makan.

Namun, Hitler tidak memperhatikan rakyat apalagi serdadunya untuk mengikuti disiplin diet vegetarian. Untuk ransum serdadunya, mengutip Handbook on German Military Forces: Supply, Evacuations, and Movements keluaran Departemen Perang Amerika, Hitler menetapkan empat verpflegungssatz (golongan ransum). Golongan I dan II dengan penempatan di garis depan dan daerah pendudukan, diberi jatah lebih dari 100 gram daging. Sedangkan golongan III dan IV yang penempatannya ada di dalam negeri dan para pekerja garis belakang, hanya diberi kurang dari 90 gram daging.

Selain mendapat daging, garam, sayuran dan buah-buahan, serta gula dan kopi, para serdadu Hitler di empat golongan umumnya menyajikan jatah roti tawar dan kentang lebih banyak. Keempat golongan itu sama rata diberi jatah 700 gram roti tawar dan 320 gram kentang. Hitler punya alasan di balik pemberian itu, ketika ditanya Menteri Propaganda Joseph Goebbels tentang perbandingan masing-masing pon kentang dan daging.

“Seperti yang kita tahu, prajurit Romawi Kuno biasanya membawa ransum buah dan sereal. Daging menjadi hal yang horor bagi mereka. Pengecualian daging jika hanya kesulitan mendapatkan suplai ransum. Fakta menarik lainnya di antara keluarga negro yang vegetarian punya kehidupan yang lebih harmonis. Di sisi lain singa yang karnivora hidupnya lebih pendek dari pada yang herbivora. Ini menyimpulkan bahwa sayuran punya nilai nutrisi paling tinggi. Hal lainnya juga menyatakan diet kentang mentah dengan kulitnya bisa menyembuhkan beri-beri dalam waktu seminggu,” ujar Hitler yang dikutip dalam buku Hitler's Table Talk 1941-1944: His Private Conversations.

Sebagai diktator yang banyak musuh, Hitler juga punya paranoid akibat upaya pembunuhan terhadapnya lewat racun di makanan. Maka ia memilih 15 staf pencicip makanan yang digilir setiap sarapan, makan siang, dan makan malam. Hitler baru akan mulai makan jika tak mengetahui dari mereka tewas dalam 45 menit setelah usai mencoba makanannya terlebih dahulu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama