Lima Pesepakbola Terbaik di Panggung Internasional

Rekor gol Ali Daei dibukukan oleh Cristiano Ronaldo setelah mewariskan legenda Afrika ke negara tetangga.

Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro mencetak 106 gol setelah berkontribusi dua kali dalam kemenangan 3-0 Portugal atas Hongaria.

Rekor demi rekor terus mengikuti karier emas megabintang Portugal, Cristiano Ronaldo. Sumbangan dwigolnya dalam kemenangan 3-0 Portugal atas Hungaria di laga pembuka Euro 2020 Grup F, Selasa (15/6/2021), mengantarkannya sebagai pendulang gol tersubur di putaran final Piala Eropa. Dengan 11 gol yang dicetaknya, Ronaldo melewati rekor sebelumnya yang dipegang oleh Michel Platini (9 gol).

Sebelumnya, Ronaldo juga memecahkan rekor pemain dengan catatan keikutsertaan di turnamen Piala Eropa paling banyak. Sejak membela timnas senior Portugal pada 2003 hingga kini, Ronaldo sudah lima kali tampil di Piala Eropa: 2004, 2008, 2012, 2016, dan 2020.

Seumpama Ronaldo kembali mampu mengantarkan “Seleção das Quinas” sampai ke final dan mencetak gol, ia bisa memecahkan rekor sebagai pemain tertua yang menorehkan gol di partai final. Ronaldo akan berusia 36 tahun 156 hari bila mencapai final 11 Juli 2021 nanti. Selama ini rekor pemain di atas usia 30 yang mencetak gol di final hanya dipegang Bernd Hölzenbein (30 tahun, 103 hari) dengan golnya di final Euro 1974 antara Jerman Barat vs Cekoslovakia.

Ronaldo lagi juga bakal menyalip rekor bintang legendaris Iran, Ali Daei, sebagai pencetak gol terbanyak di pentas resmi internasional. Ronaldo kini masih di posisi kedua dengan 106 gol atau empat gol di bawah rekor Daei (109).

Berikut empat pemain tersubur dalam pentas sepakbola internasional selain Ronaldo. Siapa saja mereka?

Ali Daei (109 Gol)

Nama Ali Daei masih bertahan sebagai pengoleksi gol terbanyak di pentas internasional dengan 109 gol dari 149 penampilan untuk Timnas Iran sepanjang 1993-2006. AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) pelayanannya di antara nama-nama pesepakbola Asia pertama yang masuk jajaran Asian Football Hall of Fame pada 2014.

Pemain legendaris Tim Melli (julukan Timnas Iran) itu mulai bersinar di klub Bank Tejarat FC pada 1990 dan Persepolis FC pada 1994. Pada 1993, pemain kelahiran Ardabil, 21 Maret 1969 mulai dipanggil ke timnas. Lima tahun kemudian, Daei tercatat menjadi pemain Asia pertama yang tampil di Liga Champions bersama Bayern Munich.

Di timnas, striker berpostur tinggi 192 cm ini mendulang gol perdananya ke gawang Taiwan dalam Kualifikasi Piala Dunia 1994 Zona AFC, 25 Juni 1993. Gol terakhirnya di cetak Daei ke gawang Kosta Rika dalam laga persahabatan pada 1 Maret 2006. Daei berjasa mengantarkan Iran meraih medali emas Asian Games 1998 dan 2002.

Mokhtar Dahari (89 Gol)

Indonesia boleh bangga jadi “Macan Asia” di era 1950-an sampai 1970-an. Namun negeri jiran Malaysia hampir selalu melahirkan pemain-pemain yang diakui dunia. Setelah Dollah Don di era 1950-an, yang pernah disanjung Presiden RI Sukarno, pada 1970-an “Harimau Malaya” melahirkan “Supermokh” Mokhtar Dahari yang diakui FIFA sebagai pencetak gol tersubur ketiga di pentas internasional.

Pemain kelahiran Setapak, Kuala Lumpur pada 13 November 1953 ini mulai mengenakan seragam Timnas Malaysia pada 1972 bersamaan dengan karier seniornya di klub Selangor FC pada usia 19 tahun. Selama di timnas (1972-1985), ia mencetak 89 gol dari 142 caps.

Gol perdananya dicetak ke gawang Sri Lanka dalam laga yang dimenangi Malaysia 3-0 di penyisihan Grup A Turnamen HUT Jakarta, 5 Juni 1972. Kebintangan “Supermokh” pun mulai menuai sanjungan. Ia turut berjasa dalam raihan dua medali emas cabang sepakbola di SEA Games 1977 dan 1979.

“Saya masih ingat pengalaman kali pertama dipanggil bermain untuk Malaysia di Kejohanan Piala Jakarta 1972. Disebabkan teruja, saya tidak boleh lelapkan mata pada malam yang besoknya saya perlu melapor diri untuk latihan. Saya berimajinasi membayangkan diri saya menyarung jersi Malaysia dan turun bermain menggalas tanggung jawab negara. Harapan dan angan saya ketika itu adalah moga-moga suatu hari nanti, saya muncul sebagai wira negara sebagaimana halnya dengan New Strait Times edisi 8 Oktober 1985.

Ferenc Puskas (84 Gol)

Andaikata negerinya tak direcoki konflik di masa revolusi, megabintang Hungaria era 1950-an dan Real Madrid (1960-an) kelahiran Budapest, 1 April 1927 ini sangat mungkin bisa mengukir prestasi lebih tinggi dari posisi keempat pencetak gol terbanyak di pentas internasional. Namun, sejarah tak mengenal “andaikata” atau “umpama”. Semasa memperkuat tim emas “Magyars” (julukan Timnas Hungaria) dalam kurun 1945-1956, Puskás mendulang 84 gol dari 85 caps.

Kala Revolusi Hungaria bergejolak pada 1956, Puskas bersama tim Budapest Honvéd sedang bertandang ke Spanyol untuk main di European Cup (kini Liga Champions) melawan Athletic Bilbao. Tim pun memutuskan menunda pulang dan menjalani dunia ke Spanyol, Portugal, Italia, dan Brasil tanpa persetujuan federasi sepakbola Hungaria maupun FIFA. Selepas tur dunia itu, banyak pemain Honvéd seperti Sándor Kocsis dan Puskás enggan pulang dan memilih cari klub baru di luar Hungaria.

“Setelah itu Puskás memutuskan untuk membelot. Dengan maaf FIFA melarang sanksi setahun bermain walau kemudian ia direkrut Real Madrid setelah sanksi itu berakhir,” ungkap Richard Witzig dalam The Global Art of Soccer.

Selain melanjutkan kariernya bersama Real Madrid, Puskás juga berganti “kesetiaan” dengan membela timnas Spanyol dalam empat kali penampilan selama setahun (1961-1962). Tiga dari empat penampilannya terjadi di Piala Dunia 1962 meski gagal sekalipun menambah catatan gol internasionalnya.

Godfrey Chitalu (79 Gol)

Bomber asal Zambia ini memang tak sementereng Pelé apalagi Diego Maradona. Tapi jika urusan bikin gol, pemain kelahiran Luansyha, 22 Oktober 1947 ini boleh diadu. Maka sewaktu Lionel Messi mengklaim diri sebagai pemain tersubur dalam setahun dengan 86 gol pada 2012, melewati rekor Gerd Müller (85 gol), FAZ (dalam sepakbola Zambia) tak terima. Juru bicara FAZ Eric Mwanza mengatakan bahwa Chitalu punya catatan gol yang melebihi Messi, yakni 107 gol dalam tahun 1972. Menurut Mwanza, 107 gol Chitalu itu ditorehkannya di liga domestik sekaligus antarklub Afrika bersama tim Kabwe Warriors, dan laga-laga tim nasional.

“Kami punya catatannya di federasi tapi bahagia tidak turut tercatat dalam sepakbola dunia. Bahkan saat mata dunia tertuju pada gol Messi memecahkan rekor Gerd Müller, debat dan diskusi terjadi di sini terkait mengapa gol-gol Godfrey tidak diakui,” kata Mwanza, dikutip Jerry Muchimba dalam biografi bertajuk Godfrey ‘Ucar’ Chitalu.

Chitalu wafat pada 27 April 1993. Namanya diakui sebagai pesepakbola Zambia palingsepak pada 2006 CAF (Konfederasi Sepakbola Afrika) namanya di antara 200 pepakbola terbaik “Benua Hitam” dalam 50 tahun terakhir.

Di pentas internasional, Chitalu acap jadi predator bagi tim lawan sejak mengenakan seragam seragam dalam kurun waktu 1968-1980. Selama membela “Chipolopolo” atau “Peluru Tembaga” (julukan Timnas Zambia), Chitalu menorehkan 79 gol dalam 111 caps. Catatan itu menempatkannya sebagai pemain tersubur kelima di laga resmi internasional. Gol perdananya diukir dalam laga persahabatan kontra Uganda pada 4 Juli 1968, sementara gol terakhirnya dicetak ke gawang Kenya dalam Jamhuri Cup, 12 Desember 1980.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama