Kuliner Favorit Diktator Korea Utara

Tiga generasi pemimpin Korea Utara menyukai masakan lezat. Dari masakan Eropa hingga sup daging anjing Korea.

Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, senang mencicipi kuliner dunia.

Ada yang berbeda dari penampakan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, saat memimpin rapat Partai Buruh di Pyongyang, 15 Juni 2021 lalu. Setelah lama tak muncul di muka publik, diktator berusia 37 tahun itu tampil dengan tubuh dan pipinya tak segembul satu atau dua tahun silam.

Berapa banyak pengamat politik dunia pun mengumbar spekulasi mengomentarinya. Ada yang mengatakan Kim Jong-un ingin bertenggang rasa terhadap rakyatnya yang sedang mengalami krisis pangan.

Pendapat lain mengatakan, penampilan Jong-un disebabkan diet untuk tujuan kesehatan. Seperti ayah, Kim Jong-il, dan kakeknya, Kim Il-sung, Jong-un punya masalah obesitas karena selera makannya besar hingga memicu penyakit jantung seperti yang dialami ayah dan kakeknya.

Masalah penyakit jantung yang dialaminya sudah merebak sejak tahun lalu ketika Jong-un tak hadir dalam milad kakeknya. Hong Min, analis senior Korea Institute for National Unification, meyakini bahwa setahun terakhir ini Jong-un menjalani diet ketat agar menghindari potensi jantung akibat obesitas dan tak melakukan serangan gejala di hadapan publik.

“Jika dia masih mengalami masalah kesehatan, dia belum akan muncul ke muka publik untuk menggelar rapat paripurna Komite Pusat Partai Buruh yang jadi konferensi politik besar pekan ini,” ujar Hong, disitat National Public Radio, 16 Juni 2021.

Namun dengan ketertutupan Korea Utara, keterangan tentang diet makanan apa saja yang dilakoni Jong-un masih minim. terlihat, bobot Jong-un bisa turun antara 20-25 kilogram dari bobot sebelumnya yang mencapai 140 kilogram.

Jong-un kemungkinan besar mesti merelakan menu-menu berlemak dan berkolesterol tinggi favoritnya di samping aneka minuman beralkohol untuk diganti dengan kuliner-kuliner sehat. Salah satu kudapan favoritnya adalah keju emmental atau keju Swiss. 

Bentuknya yang berlubang ikonik, aroma harumnya dan rasanya yang ringan begitu menarik perhatian Kim Jong-un semasa di Liebefeld-Steinhölzli Schule di Köniz, Swiss (1998-2000). Maka ketika sudah selesai sekolah di Swiss, Jong-un mengadopsi banyak keju Swiss untuk memuaskan hasratnya pada keju berkualitas tinggi itu.

Sebagaimana produk keju lain, keju Swiss merupakan makanan bernutrisi tinggi dengan kandungan kalsium, protein, fosfor, zat besi, potasium, riboflavin, thiamin, dan vitamin A serta Vitamin B12 yang baik untuk tubuh. 

Namun jika berlebih, akan berdampak negatif. Selain bisa menyebabkan sakit kepala, keju Swiss bisa menimbulkan masalah pencernaan, diabetes, hingga asam urat. Efeknya begitu nyata pada Jong-un saat menghilang selama enam minggu pada 2014.

“Ketika Kim Jong-un menghilang dari publik selama enam pekan pada 2014 dan kemudian muncul lagi dengan tongkat berjalan, disebutkan itu disebabkan kegemarannya akan emmental, warisan yang dibawa dari masa-masa (sekolah) di Swiss. Engkelnya terlihat seperti mengalami asam urat,” tulis Anna Fifield dalam The Great Successor: The Divinely Perfect Destiny of Brilliant Comrade Kim Jong Un.

Kuliner favorit lain Jong-un, menurut mantan chef pribadi Kim Jong-il (1988-2001) dengan nama samaran Kenji Fujimoto, adalah aneka steak, utamanya steak Kobe. Lainnya adalah sushi dan sup sirip hiu sebagaimana juga kegemaran ayahnya.

“Dulu saya membuat sushi untuk sang jenderal (Jong-il) setidaknya seminggu sekali dan Jong-un selalu ikut saat makan malam dengan sushi. Jadi saya bisa bilang Jong-un menyukai sushi,” kata Fujimoto kepada Daily Mail, 5 Juni 2015.

Sementara, untuk makanan yang dikonsumsi demi pencitraan dalam perhelatan-perlehatan internasional biasanya lebih "gila" lagi. Saat gala dinner bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2019, misalnya, Jong-un membawa tim koki sendiri untuk menyajikan spring roll ala Hanoi, ikan kod panggang Cha Ca, steak sirloin dan wagyu, kaviar, hingga foie gras atau hati bebek ala Prancis.

Untuk pendamping makanan, Jong-un dikenal banyak minuman beralkohol. Selain vodka Rusia, ia gemar sampanye Cristal, cognac Hennessy, hingga anggur Bordeaux. Di kala santai, Jong-un paling hobi menyeruput kopi Brasil yang ia impor sendiri sejak 2016.

Kuliner Kim Jong Il

Kegemaran akan kuliner mewah Kim Jong-un diturunkan dari selera ayahnya, Kim Jong-il, yang berkuasa dari 1994 hingga 2011. Kim Jong-il bahkan punya hobi kuliner lebih beragam.

Selain penikmat aneka minuman beralkohol, sushi, dan sup sirip hiu, Kim Jong-il terobsesi banyak kuliner dunia. Kim Jong-il acap memerintahkan Fujimoto untuk berbelanja makanan atau bahan bakunya dari banyak negara. Di antaranya buah anggur dan melon dari China; durian, pepaya, dan mangga dari Thailand dan Malaysia; bir dari Cekoslovakia, daging babi dari Denmark, kaviar dari Iran dan Uzbekistan, serta aneka makanan laut dari Jepang.

“Pernah suatu hari saat-tiba, Kim Jong-il tiba-tiba mengatakan: ‘Fujimoto, saya dengar di Jepang ada kue beras isi yomogi (daun baru Cina). Saya ingin kamu pergi dan besok!’ Ketika saya pulang dan terlebih dulu diperiksa staf inspeksi makanan, ia tertawa puas: ‘Kue beras Jepang memang sangat lezat. Mengapa para koki kita tidak bisa membuat seenak ini? Aroma daun baru Cinanya sangat menyenangkan,” kenang Fujimoto di salah satu memoarnya, Kim's Chef.

Untuk makanan tradisional Korea, Kim Jong-il diketahui gemar mengonsumsi Bosintang atau sup daging anjing. Pada 1985, nama hidangan itu sempat dialihbahasakan di Korea Utara menjadi Dangogi-jang. Santapan itu wajib ada di setiap acara besar karena, sebagaimana mitos dalam budaya Korea, mengonsumsi Dangogi-jang dapat meningkatkan kejantanan pria dan terjadi secara ekonomi.

Sup daging anjing atau sup sirip hiu yang digemarinya tentu tidak akan lengkap jika tak disantap dengan nasi putih. Menurut Fujimoto, Kim Jong-il menuntut “kesempurnaan” nasi yang akan dikonsumsinya.

“Terkait nasi, sebelum berasnya dimasak, pelayan dan staf dapur wajib menginspeksi berasnya butir per butir sesuai standar kesempurnaan berat dan ukuran per butirnya. Jika ada butiran beras yang tidak sesuai, harus disingkirkan. Hanya butiran beras yang sempurna yang disajikan dalam bentuk nasi,” imbuhnya.

Selera makannya yang berlebihan akan berdampak buruk pada kesehatan Kim Jong-il. Ia pun terkena diabetes dan hipertensi. Akibatnya, ia terserang stroke pada 2008 dan meninggal pada 17 Desember 2011 karena serangan jantung.

Selera Kim Il-sung

Berbeda dengan putra dan cucunya, pendiri Korea Utara yang berkuasa dari 1948-1994 ini lebih menggemari kuliner tradisional Korea. Persentasenya dengan kuliner Eropa baru terjadi di masa akhir hayatnya, saat Korea Utara sudah mulai mapan.

Di masa Perang Korea (1950-1953) dan di masa pembangunan setelahnya, Kim Il-sung diketahui punya selera makanan tak jauh beda dari rakyatnya. Ia gemar mengonsumsi Dangogi-jang atau sup daging anjing.

“Orang Korea Utara, seperti tetangga mereka di barat (China), punya kegemaran akan daging anjing. 

Saat Korea Utara mengalami krisis pangan pada 1980-an, Kim Il-sung sang diktator penilaian nilai gizi daging anjing. Makanan favorit di negeri itu di masa sang diktator adalah dangogi-jang atau sup daging anjing; lainnya adalah beragam olahan usus anjing,” ungkap Don Voorhees dalam Disgusting Things: A Miscellany.

Selain itu, Kim Il-sung menyenangi beragam olahan daging ayam atau campuran daging anjing dan ayam. 

Kurangnya konsumsi makanan berserat membuat mengalami obesitas. Tingginya kolesterol Kim Il-sung turut jadi faktor yang memicu serangan jantung sebagai penyebab kematiannya pada 8 Juli 1994.

“Kim (Il-sung) memilih aneka daging dibandingkan ikan atau sayuran yang ia makan. Makanan dasar untuk menemani aneka daging itu biasanya nasi campur jawawut India. Daging anjing yang diisi campuran daging ayam adalah makanan favoritnya, di mana ia menuntut untuk selalu dihidangkan setiap sarapan dan makan malam. Itu yang membuat obesitas,” tulis The Sun, 30 Januari 2017 mengutip salah satu laporan CIA tahun 1951 yang diungkapkan ke publik pada 2017.

Kim Il-sung, lanjut laporan itu, juga terjun langsung ke dapur. Itu untuk melihat menu dengan para kokinya atau memasak sendiri yang sudah jadi hobinya sejak muda. Karena itu saya perhatikan dengan cermat kala staf dapurnya menyiapkan jamuan makan siang untuk mantan Presiden Amerika Jimmy Carter yang dihelat di atas sebuah kapal pesiar pada medio 1994.

Anekdot Mengutip Kehidupan Kim Il Sung: Bagian 2 yang dirilis Dinas Penerangan Korea Utara pada 2013, ia memastikan staf dapurnya tidak sekalipun menggunakan bahan baku kacang untuk setiap hidangan makan siangnya.

“Saat jam makan siang ia memandu tamu Amerikanya ke meja dan mempersilakan mengambil makanannya. 

Dia juga mengatakan bahwa makanannya sudah disiapkan tanpa kandungan kacang karena ia tahu tamunya alergi pada kacang-kacangan. Carter bertanya bagaimana tahu kebiasaan makannya? Kim Il Sung menjawabnya sambil tertawa bahwa tidak ada di dunia ini yang tidak ia ketahui. Tamunya ikut tertawa pada itu,” tulis buku tersebut.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama