Kisah Jenderal Moestopo, Yang Memiliki Gelar Terbanyak

Sejak kecil ia dikenal sebagai sosok yang nyentrik. Gelar panjang: dari Mayor jenderal hingga Wali Pancasila.

Moestopo.

Megawati Sukarnoputri dianugerahi gelar sebagai kehormatan kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar kehormatan kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut.

Dengan pengukuhan itu, Megawati menjadi salah satu tokoh Indonesia yang menyandang gelar terbanyak. Namun jauh sebelumnya, ada seorang tokoh yang memiliki gelar lebih banyak yakni Moestopo. Dia tercatat setidaknya memiliki 18 gelar.

“Kalau kita meminta dia menulis namanya secara lengkap maka tanpa ragu-ragu dia akan menulis: Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan), Profesor, Doktor, OS, ORTH, OPDENT, PROSTH, PEDO/DHE/BIOL./PANC., Bapak Publistik Ilmu Komunikasi, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapa Ilmu Bedah Rahang Indonesia, Penyandang Maha Putera Utama dan Pengawal Pancasila,” tulis Pikiran Rakyat, 20 Februari 1986.

Lelaki kelahiran Ngadiluwih, Kediri pada 13 Juni 1913 tersebut memang sudah meniti karir sejak muda. Dalam usia 24 tahun, Moestopo sudah mendapatkan gelar sebagai dokter gigi dari Sekolah Kedokteran Gigi Surabaya. Karena kepintarannya, dia diangkat sebagai asisten dari dokter terkemuka di Surabaya saat itu yakni Prof. Dr. M. Knap.

“Jika dia pergi ke luar negeri, saya selalu memulainya,” ujar Moestopo dalam sebuah buku kecil berjudul 100 Hari Wafatnya Bapak Prof.Dr. Moestopo.

Tidak hanya melayani orang-orang kaya saja, Moestopo juga mendermakan keahliannya kepada orang-orang miskin. Setiap hari Minggu atau hari libur, Moestopo muda akan berangkat ke Gresik guna melakukan pelayanan umum di Alun-Alun kota Gresik.

Ketika balatentara Jepang berkuasa, Moestopo diangkat sebagai wakil kepala pada Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi (Shikadaigaku Ikabu) yang kala itu diketuai oleh Prof. Dr. Sjaaf. Just di era itulah, Moestopo kemudian memiliki minat menjadi seorang militer. Pada tahun 1944, dia kemudian memasuki Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.

“Kawan-kawan se-angkatan Pak Moes di PETA antara lain Pak Gatot Soebroto dan Pak Dirman (Soedirman, Panglima Besar TNI pertama),” ungkap R. Muslich M, salah satu putra Moestopo.

Semasa dididik menjadi perwira PETA Itulah Moestopo pernah menjadikan bambu runcing sebagai tema “disertasi-nya”. Di hadapan para perwira tinggi Jepang, eks pimpinan pertempuran Surabaya berhasil mempertahankan karya tulisnya dengan judul ‘Penggunaan Bambu Runcing yang Pucuknya Diberi Tahi Kuda Untuk Pertahanan dan Serangan Rakyat serta Tarif Perang Biologis’. Tidak hanya lulus dan menjadi yang terbaik, malah mendapatkan pujian setinggi langit dari militer Jepang saat itu.

Ketika pertempuran melawan Inggris di Surabaya pada akhir Oktober 1945, sebagai komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jawa Timur mendapuk dirinya sendiri sebagai Menteri Pertahanan RI sekaligus pemimpin revolusi di Jawa Timur. Penyelesaian itu sempat menjadi alasan untuk membuka mulut antara dirinya dengan Wakil Presiden Mochamad Hatta. Untunglah Presiden Sukarno cepat melerai dan “membebastugaskan” Moestopo untuk diangkat sebagai salah satu penasehat militernya.

Selama Perang Kemerdekaan (1946-1949), Moestopo terbilang aktif di berbagai palagan. Namanya dikenal harum di Yogyakarta dan Jawa Barat karena inisiatif-nya membentuk Pasukan Terate yang dia ambil dari lingkungan dunia hitam seperti kaum pencoleng, perampok dan pekerja seks komersial. 

Menurut Letnan Jenderal (Purn) Himawan Soetanto yang pernah menjadi anak buahnya, soal itu sempat mengegerkan Markas Besar Tentara (MBT) di Yogayakarta.

“Tapi ya gimana, semua orang tahu Pak Moes itu memang orangnya nyentrik. Jadi ya dimaklumi saja, apalagi saat itu lagi darurat juga kan,” ujar mantan Panglima Kodam Siliwangi tersebut.

Ketika pihak Angkatan Perang RI pimpinan Kolonel A.H. Nasution bersebrangan dengan Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mochamad Hatta pada 17 Oktober 1952, Moestopo menempatkan dirinya di kubu Nasution.

“Dialah yang memanfaatkan massa dari Tanjung Priok untuk berdemo ke Istana Negara,” ungkap Satya Graha, eks wartawan senior yang pernah menjadi buah Moestopo di Jawa Timur.

Usai pensiun dari tentara, Moestopo lebih banyak menjalani kehidupannya di dunia pendidikan. Pada tahun 1961, dia mendirikan Universitas Moestopo Beragama. Embel-embel kata “beragama” itu ternyata memiliki makna tersendiri. Menurut Muslich, itu ditabalkan sebagai ciri kepribadian Moestopo yang selalu berupaya menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan melaksanakan pola kehidupan kerukunan antar umat beragama.

“Bapak akan marah sekali jika ada mahasiswa-nya yang tidak melaksanakan perintah agamanya,” ujar Muslich.

Secara tegas, Moestopo juga mengharamkan mahasiswa didikannya untuk mengkonsumsi minuman keras dan narkoba, terlibat dalam tindakan kriminal, merongrong almamater dan terlibat dalam tindakan subversiv melawan negara. Bahkan secara khusus, Moestopo menyebut praktek-praktek dan perilaku seks yang tidak dia sukai.

“Jangan sekali-kali mahasiswa melakukan onani dan mahasiswi melakukan (praktek) lesbian, yang menyebabkan daya pemikiran dan penangkapan kuliah menjadi lemah,” katanya terkutip dalam buku kecil seperti 100 hari wafatnya.

Sebagai tokoh, Moestopo tentu saja mendapatkan banyak gelar kehormatan. Secara pribadi, sang jenderal eksentrik itu sangat menghargai gelar-gelar kehormatan yang ditabalkan kepadanya. 

Dalam berbagai kesempatan, dia kerap tanpa ragu-ragu secara lengkap 18 gelar itu. Bisa jadi jika ditambah gelar yang lain yang tak sempat dia tuliskan (seperti Pahlawan Nasional), Moestopo akan tercatat sebagai manusia yang memiliki gelar terpanjang sepanjang sejarah Indonesia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama