Kiprah Dokter di Dunia Pergerakan

Kisah lima dokter pribumi yang mengukir namanya dalam sejarah Indonesia.

Sekolah Kedokteran Jawa di Batavia.

Benar-benar terasa jika saat ini semua orang berpikir bahwa para tenaga medis adalah pahlawan. Peran mereka begitu penting dalam menghadapi pandemi virus Covid-19 yang penyebarannya semakin hari mengkhawatirkan. Dilansir kompas.com, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto juga memberi apresiasi atas kinerja mereka. Dia menyebut tenaga medis sebagai pejuang di garis depan, seperti tentara di masa lalu.

“Kalau dulu dalam perang terbuka, mungkin tentara di garis depan, sekarang dokter. Pahlawan bangsa. Jadi kami sangat menghormati mereka,” kata Prabowo.

Jangan lupa Prabowo memberikan ucapan terima kasih kepada para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang telah merawat dan mengobati para pasien Covid-19. Perjuangan tak kenal lelah para dokter yang berusaha menekan angka kematian di masyarakat seolah kembali menegaskan peran tenaga medis ini dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Dari sekian banyak dokter yang sudah lahir di negeri ini, Historia mencoba menelusuri perjalanan hidup lima orang dari mereka yang perjuangannya membawa perubahan bagi Indonesia. Berikut kisahnya.

Politik Soetomo

Tidak hanya mengabdikan diri di dunia kedokteran, Soetomo pun aktif berjuang dalam dunia politik semasa pergerakan nasional di awal abad ke-20. Dilahirkan pada 30 Juli 1888 di Nganjuk, Jawa Timur, Soetomo menempuh pendidikan di Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen/Sekolah dokter bagi bumiputera) pada 1903. Di sekolah itulah dia terkenal aktif menyuarakan pendapatnya.

Pada akhir tahun 1907, Soetomo kedatangan tamu seorang dokter Jawa dari kalangan priayi rendahan, Wahidin Soedirohoesodo. Soetomo mengundangnya berceramah di Stovia mengenai pentingnya pendidikan sebagai kunci kemajuan. Wahidin sendiri memang sedang melakukan kampanye pencarian beasiswa bagi anak-anak muda bumiputera yang pandai.

Akira Nagazumi dalam Bangkitnya Nasionalisme Indonesia Budi Utomo 1908-1918, menyebut Soetomo dan kawannya, Soeradji, lebih terkesan oleh perangai, pikiran, dan semangat pengabdian Wahid dibandingkan rencana-rencananya.

“Barangkali ia pun tidak berbicara tentang beasiswa sama sekali, tetapi kata-katanya tergores mendalam di lubuk hati dua anak muda itu,” ungkap Nagazumi. “Sekali dirasuki oleh gagasan Wahidin, Soetomo segera larut dalam kegiatan suatu perkumpulan di dalam Stovia.”

Pada 20 Mei 1908, puluhan anak muda berkumpul di aula Stovia. Turut hadir siswa-siswa dari sekolah pertanian (landbouw school) dan kehewanan (veeartsnij school) di Bogor; sekolah pamongpraja (Osvia) di Magelang dan Probolinggo; sekolah menengah petang di Surabaya; serta sekolah pendidikan guru bumiputra (normalschool) di Bandung, Yogyakarta, dan Probolinggo.

Dalam pertemuan para pemuda inisiasi sebuah organisasi. Namanya Boedi Oetomo –dikutip oleh Soeradji dari ucapan Soetomo kepada Wahidin: “Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami (Ini merupakan perbuatan baik serta mencerminkan keluhuran budi)”. Demi mewujudkan organisasi Boedi Oetomo ini, Soetomo dibantu rekan-rekannya: Soeradji, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewarno, Goembrek, Mohammad Saleh, dan Soelaeman.

Tak lama setelah berdiri, para siswa Stovia berusaha menarik hati rekan-rekan dari sekolah lanjutan lainnya untuk bergabung dengan Boedi Oetomo. Dengan cepat cabang organisasi ini berdiri di tiga daerah: Magelang, Yogyakarta, dan Surabaya. Hingga Juli 1908, jumlah anggota Boedi Oetomo mencapai 650 orang.

“Kendati demikian selama tahun-tahun pertama Stovia tetap merupakan pusat kegiatan Budi Utomo,” tulis Nagazumi.

Sadar akan peran kaum priayi yang besar di kalangan bumiputera, para pendiri Boedi Oetomo mulai melakukan pendekatan. Bupati Tuban, Temanggung, Jepara, Demak, Karanganyar, Kutoarjo, Serang, dan Pakualaman, menunjukkan minat membantu para pemuda ini. Maka memutuskan Boedi Oetomo akan melaksanakan kongres pertama pada 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta.

Dari kongres tersebut muncul beberapa resolusi: perbaikan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi dengan tanggungan beasiswa, terbatas pada terbatasnya gerak pada penduduk Jawa dan Madura, melibatkan diri dalam kegiatan politik, dan tidak akan menyimpang dari ketentuan hukum adat. Selain itu, Tirtokoesoemo (bupati Karanganyar) dipilih sebagai ketua Boedi Oetomo, didampingi Wahidin di kursi wakil. Sementara Tjipto masuk dalam susunan pengurus sebagai komisaris.

Dengan komposisi kepengurusan seperti itu, para siswa Stovia yang menahkodai lahirnya Boedi Oetomo tidak dapat menentukan arah kemudi organisasi. Mereka harus rela menyerahkan kepemimpinan Boedi Oetomo, “kepada anggota-anggota yang lebih dewasa”. Golongan muda juga tidak mengambil keputusan untuk menentukan arah dalam kongres kedua tahun 1909. Tjipto, Goenawan, dan Soetomo tidak bersuara. Pemain utama dipegang oleh Dwidjosewojo, Mohammad Tahir, dan Sastrowidjojo.

Setelah melepaskan perhatiannya dari Boedi Oetomo, Soetomo fokus terhadap profesinya sebagai dokter. Ia lulus dari Stovia pada 1911, dan bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Tahun 1919, dia berkesempatan melanjutkan studi spesialis di Universitas Amsterdam, Belanda. Soetomo juga sempat menjadi pengajar di Nederlandsch Artsen School.

Sikap Seorang Tjipto

Di era zaman bergerak, kiprah Tjipto Mangoenkoesoemo terbilang sangat aktif. Sama halnya dengan Soetomo, Tjipto berprofesi sebagai dokter sebelum akhirnya lebih memilih aktif di dunia politik. Dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah pada 1886, ketika usia 13 tahun Tjipto mendaftarkan diri ke sekolah dokter Jawa.

Setelah lulus tahun 1905, dia menjadi dokter pemerintah. Salah satu prestasi Tjipto sebagai dokter adalah berhasil mengatasi penyakit pes di Malang, Jawa Timur. Berkat jasanya, pemerintah Belanda memberinya penghargaan Willem Klas 3, namun ditolak. Dia memang dikenal keras dalam praktik kolonialisme.

Tjipto lalu mundur sebagai dokter pemerintah dan terjun berpolitik. Bersama Soetomo dan adiknya, Goenawan Mangoenkoesoemo, dia segera mengajak Boedi Oetomo. Dalam kongres Boedi Oetomo di Yogyakarta, Tjipto gigih mengusulkan agar organisasi itu menjadi organisasi yang memperjuangkan keadilan, hanya mengurusi masalah-masalah yang dianut oleh istana dan terlalu sering dikerjakan oleh rakyat. Namun usulannya ditolak.

“Dari kebangsaan-kebangsaan, Dokter Cipto menuju ke arah kebangsaan yang lebih besar, yakni kebangsaan Hindia,” tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional.

Setelah meletakkan jabatannya sebagai komisaris Boedi Oetomo, pada 1912 Tjipto mendirikan Indishce Partij. Di sini Tjipto berjuang bersama Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat. Sebagai pemimpin surat kabar De Express di Bandung, dia menerbitkan tulisan kawannya Soewardi: “Als Ik Een Nederlander was” (Andai saya orang Belanda). Kritik terhadap Kerajaan Belanda itu mengundang petaka. Trio Indische Partij dibuang ke Belanda.

Meski kolonialisme Belanda, Tjipto lebih khawatir terhadap fasisme. Ketika Jerman menduduki Belanda pada 1940, dia berbalik menunjukkan simpati Belanda. Begitu juga ketika Jepang masuk Hindia Belanda. Tjipto mengimbau agar rakyat membantu pemerintah Belanda melawan para fasis tersebut. Komitmen yang ditunjukkan Tjipto dalam memerangi fasisme Jepang adalah pembentukan Gerakan Anti Fasis (Geraf) pada Mei 1940, pimpinan Amir Sjarifuddin.

Pada 8 Maret 1943, Tjipto menghembuskan nafas terakhirnya karena kesehatannya memburuk. Dengan demikian, dia sama sekali tidak pernah merasakan kekejaman fasisme Jepang dan menyaksikan kekalahannya ideologi politik di akhir Perang Dunia ke-2.

Teladan Wahidin Soedirohoesodo

Perjuangan kebangsaannya menginspirasi Soetomo membentuk organisasi Boedi Oetomo. Adalah Wahidin Soedirohoesodo, dokter dari kalangan priayi Jawa yang menjadi teladan bagi para juniornya di Stovia. Wahidin lahir pada 7 Januari 1852 di Sleman, Yogyakarta. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan lanjutan di Yogyakarta, Wahidin memilih jalur kesehatan di sekolah dokter Jawa.

Dalam biografi Dr. Wahidin Sudirohusodo terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, diberitahukan Wahidin pernah diasuh seorang petinggi perkebunan milik pemerintah bernama Frits Kohle. Di sana dia mempelajari banyak hal, terutama bahasa Belanda. Namun di sisi lain dia sadar bahwa jurang pemisah antara orang Barat dengan bumiputera telalu lebar.

Lulus dari sekolah dokter Jawa, Wahidin segera ditugaskan oleh pemerintah Belanda menanggulangi wabah cacar di pelosok-pelosok pulau Jawa. Dia dan lulusan dokter Jawa lainnya memang khusus ditempatkan dekat dengan masyarakat bumiputera, karena kebanyakan dokter Eropa hanya menerima pasien sesamanya saja.

Kesadaran memajukan bangsanya sendiri di tengah-tengah kalangan Eropa semakin besar tumbuh di dalam diri Wahidin. Dia pun rela tidak dibayar sepeser pun oleh rakyat yang tidak memiliki uang untuk berobat. Aksi Wahidin semakin nyata tatkala dirinya mulai melakukan aksi penggalangan dana bagi biaya pendidikan pemuda-pemuda bumiputera.

Wahidin mulai berkeliling Jawa pada tahun 1906. Aski nyatanya disambut oleh bangsawan yang menyatakan kesediaannya membantu Wahidin, termasuk dari kalangan Kesultanan Ngayogyakarta. Sebagai seorang dokter, Wahidin tidak pernah lepas dari kegiatan praktik kesehatan, meski sibuk mengurusi berbagai masalah kemajuan pendidikan yang menjadi tujuan.

Reputasi Wahidin sampai juga di telinga Soetomo dan pemuda Stovia lainnya. Saat berada di Batavia, dia diundang untuk memberi ceramah di hadapan Soetomo dan kawan-kawannya. Wahidin jugalah yang kemudian memicu Soetomo untuk ikut berjuang dalam memajukan bangsa, sehingga lahirlah Boedi Oetomo.

A. Mochtar Sang Martir

Achmad Mochtar adalah direktur bumiputera pertama di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Pada 3 Juli 1945, dia dieksekusi mati oleh Jepang atas tuduhan sabotase vaksin buatan lembaganya, TCD (Typhus Cholera Dysentery), yang mengakibatkan ratusan orang romusha (pekerja paksa) tewas. Mochtar dan lembaga pimpinannya menjadi tertuduh atas kasus-kasus tersebut.

Naas bermula ketika Juli 1944 ratusan romusha di Klender, Jakarta terkena wabah penyakit. Dokter-dokter Jepang berusaha menyembuhkannya dengan menyuntikkan vaksin tipes, kolera, dan disentri. Alih-alih sembuh, kira-kira 900 orang tewas. Pemerintah pendudukan Jepang langsung mencurigai para peneliti di Eijkman. Pemeriksaan Kenpetai (polisi Jepang) menunjukkan lembaga Eijkman memasukkan racun ke dalam vaksinnya.

Pemeriksaan Kenpetai berubah tragis ketika para dokter-peneliti, termasuk Mochtar, ditangkap dan disiksa pada Oktober 1944. Ada yang dipukuli, disetrum, sampai dibakar-hidup. Achmad Mochtar tidak bersalah sebagai pelaku utama. Demi menyelamatkan kolega-koleganya di Lembaga Eijkman, dia mengaku.

Pada Januari 1945, Jepang mengangkat staf-staf Eijkman dalam keadaan-keadaan yang salah. Dua dokter, Marah Achmad Arif dan Soeleiman Siregar, meninggal dunia dalam hukuman akibat siksaan. Sementara Achmad Mochtar dijatuhi hukuman mati. Menurut Moh. Ali Hanafiah, asisten dr Mochtar, dalam Drama Kedokteran Terbesar, Achmad Mochtar terpaksa mengaku mengotori vaksin yang menyebabkan kematian banyak orang itu. Dia tidak bersalah memasukkan bakteri tetanus ke dalam vaksin yang digunakan dokter Jepang.

Pada Juli 1945, Achmad Mochtar dieksekusi tanpa pengadilan dengan cara dipancung. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman massal Ancol. Peristiwa tersebut menimbulkan tanda tanya besar dan menjadi tragedi yang memilukan dalam dunia kedokteran Indonesia. JK Baird, Direktur Clinical Research Unit Oxford University, kemudian melakukan penelitian atas kasus tersebut.

Menurut Bird, dikutip theguardian.com, kematian romusha disebabkan eksperimen dokter Jepang yang membuat vaksin tetanus untuk kebutuhan tentara dan penerbangan Jepang. Para romusha itu menjadi kelinci percobaannya. Untuk menutupi hal ini, Lembaga Eijkman difitnah. Sebagai kepala lembaga Achmad Mochar menjadi kambing hitam untuk menyelamatkan koleganya.

“Kisah tentang Prof. Achmad Mochtar merupakan drama kemanusiaan yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat bersejarah untuk Indonesia, dan dari berbagai peristiwa militer dan politik pada periode 1942-1945,” ucap Sangkot Marzuki, penulis War Crime in Japan-Occupied Indonesia: A Kasus oleh Kedokteran.

Pergerakan Bahder Djohan

Bahder Djo hadir ketika para pemuda sebayanya menyuarakan aksi kebangsaan di suatu kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928. Tanpa melupakan sebagai murid di sekolah dokter, Bahder berjuang mencari keindonesiaan di tengah kepungan para kolonialis yang terus memperkuat pengaruhnya terhadap Bumiputra.

Bahder Djohan dilahirkan di Lubuk Begalung, Padang, Sumatera Barat pada 30 Juli 1902. Sebagai sesama putra Minangkabau, Bahder bersahabat karib dengan Hatta. Kedua, bersama pemudaangkabu lainnya, Memperkuat hubungan di Jong Sumatranen Bond (JS). Organisasi ini merupakan wadah perjuangan semasa pergerakan nasional.

Menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah (HIS) dan sekolah lanjutan (MULO) di Padang, pada 1919 Bahder memilih merantau ke Batavia untuk mendaftar sekolah dokter Stovia. Dikisahkan Mardanas Safwan dalam Prof. Dr. Bahder Djohan: Karya dan Pengabdiannya, Bahder semakin aktif di JSB ketika di perantauannya ini. Dia menjadi perwakilan JSB di Kongres Pemuda I pada 30 April 1926, dan Kongres Pemuda II pada 1928.

Lulus dari Stovia pada1927, Bahder bekerja di Centrale Burgerlijke Zienkenhuis (CBZ), kini RS Cipto Mangunkusumo. Meski ada di lingkungan para kolonialis, dia tidak melupakan hakikatnya sebagai pejuang pergerakan. Di bidang kedokteran, Bahder berusaha meningkatkan derajat dokter bumiputera agar dapat sejajar dengan dokter Eropa.

Dia juga ikut menyuarakan ketidakadilan dalam akses informasi kesehatan yang diterima dokter bumiputera oleh pemerintah Belanda. Akses majalah Genuskundig Tijdschrift van Nederlandsh Indie (GTNI) ini baginya sangat penting untuk pembelajaran para dokter. Maka Bahder merasa perlu memperjuangkannya. Akibatnya kebijakan akses itu dihapuskan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama