Ketika Soekarno Mengutuk Agresi Belanda

Melalui pidatonya, Sukarno mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk tidak menyerah pada provokasi Belanda.

Presiden Soekarno di podium menyampaikan pidato.

Yogyakarta, 21 Juli 1947. Empat pesawat tempur Belanda mengelilingi kota Yogyakarta pagi itu. Mereka bermanuver secara rendah selama kurang 15 menit. Sebuah ancaman singkat yang sukses menebar teror di langit ibukota Republik Indonesia. Ancaman tersebut juga praktis membuat masyarakat. Hampir tidak ada seorang pun yang berani untuk keluar rumah mereka.

Sekira pukul 7, pesawat tempur Belanda menjatuhkan bom di lapangan terbang Maguwo. Mereka juga menyasar lapangan-lapangan terbang lain, serta tangsi-tangsi militer Republik di sekitar Yogyakarta. Siangnya, lapangan Maguwo kembali mendapat gempuran. Kali ini mereka berhasil menjatuhkan delapan bom. Tidak cukup sampai di situ, pasukan infanteri Belanda mulai bergerak, menyasar pertahanan kaum Republik di dalam kota.

Aksi militer Belanda itu merupakan buntut dari gagalnya pihak Republik dan Belanda mencapai kesepakatan. Bagi pihak Belanda, kaum Republik telah melanggar Perjanjian Linggarjati, dan menolak nota Belanda 27 Mei 1947 yang meminta aksi tembak-menembak dihentikan. Pihak Republik juga dinilai masih terus melakukan perusakan-penusakan terhadap aset Belanda. sikap tersebut, Perdana Menteri Belanda Louis Beel memberi titah kepada Gubernur Jenderal Van Mook untuk melaksanakan aksi polisionil, dengan Yogyakarta sebagai target utamanya.

Malam hari, sekitar jam 7, setelah Belanda membombardir Maguwo dan kepanikan yang terjadi di seluruh pelosok negeri, Presiden Sukarno memberikan ucapan yang ditujukan kepada seluruh bangsa Indonesia, dan dunia umumnya. Dalam pembukaannya Soekarno mengatakan:

“Pada awal bulan suci ini, apa yang telah lama dan selalu kita khawatirkan, sekarang sudah terjadi. Pihak Belanda, dengan perantaraan Perdana Menterinya Beel serta wakilnya di sini Dr. van Mook, tampaknya telah memungkiri serta perjanjiannya dengan Republik Indonesia atas maunya sendiri. mengungkapkan pula sebelum pernyataan pemungkirannya sampai kita, pihak Belanda telah memulai gerakan permusuhan terhadap kita. Republik kita, realisasi cita-cita serta perjuangan rakyat Indonesia, sekarang telah terang-terangan tentang senjata, dari darat dan udara,” ujar Bung Karno.

Dalam bicara, yang tertulis dalam Daerah Istimewa Yogyakarta terbitan Departemen Penerangan RI, Sukarno juga mengatakan bahwa masuknya Belanda ke Yogyakarta seolah mengulang kembali kejadian yang sedih dan keji di dalam sejarah kemanusiaan. Semua itu terjadi karena tindakan sewenang-wenang yang dianggap oleh nafsu akan penjajahan.

Akan tetapi Sukarno yakin tidak ada satu pun pihak yang mendukung tindakan untuk melawan itu. Setiap orang yang masih memiliki rasa keadilan di dalam dirinya akan menyadari bahwa kekerasan yang dilakukan Belanda tidak dapat dibenarkan apapun tentu saja.

Sementara Belanda sendiri, sebagai sebuah negara, tidak memiliki rasa keadilan tersebut. Sebab tidak mungkin negara yang adil akan berbuat di negara yang baru saja mengikrarkan kemerdekaannya. Secara terang-terangan mereka melakukan kurungan militer, politik, hingga ekonomi, hingga sosial tanpa nasib rakyat yang berada di dalamnya.

“Mustahil! Mustahil bagi tiap orang yang masih mengandung perasaan keadilan serta kebenaran! Oleh karena itu, maka pemungkiran pihak Belanda pada perjanjiannya dengan kita adalah pemungkiran penghargaannya pada kemerdekaan, keadilan, serta kebenaran. Dan kekerasan yang dilakukan pada kita adalah perkosaan pada kemerdekaan, keadilan, kebenaran, kemanusiaan,” tegas Sukarno.

Sukarno meminta rakyat untuk tidak menyerah. Dia sadar bahwa sejak tahun-tahun sebelumnya rakyat sudah dilanda derita. Harta benda, kebebasan, perasaan, serta kehormatan, semua yang telah diberikan untuk kemerdekaan dan menyelamatkan Republik. Dengan Kembalinya Pendudukan, mereka harus menelan derita untuk kedua kalinya. Meski begitu Bung Karno meminta semuanya bertahan dan tetap berjuang. Dia dan pemerintah Republik menghargai kebebasan yang sempurna bagi rakyat Indonesia.

Presiden juga mengajak seluruh rakyat untuk bersama-sama berdoa agar bangsa Indonesia terhindar dari segala macam bencana, terutama dari para penjahat yang sedang dan akan mereka hadapi. Apalagi ketika berbicara diudara, seluruh rakyat Indonesia sedang melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan.

Yakinlah bahwa Allah Yang Maha Kuasa, Adil, serta Benar, terlebih-lebih di dalam Bulan Suci ini, tak akan meninggalkan kita, selama kita tetap di jalan keadilan, kebenaran, serta kemanusiaan Ia akan menambah segala yang masih perlu kita adakan pada diri kita. Ia pula yang akan menuntun kita, melalui bencana ini, keselamatan, serta kemenangan kemerdekaan,” kata Bung Karno.

Pidato Sukarno malam itu ditutup dengan seruan kepada seluruh rakyat Indonesia di Sumatra, Borneo (Kalimantan), Sulawesi, Maluku, Kepulauan Sunda Kecil, hingga Papua, agar secara bersamaan menggabungkan kekuatan untuk menolak “perkosaan” Belanda terhadap kemerdekaan Republik —lambang kemerdekaan, lambang kebenaran, lambang keadilan, dan lambang kesucian.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama