Jayakatwang Mengakhiri Hegemoni Singhasari

Keberhasilan Jayakatwang menumbangkan Kertanagara membuatnya menjadi pengkhianat sekaligus pahlawan.

Candi Singhasari di Malang, peninggalan Kerajaan Singhasari.

Jayakatwang bimbang ketika menerima surat dari Arya Wiraraja. Di sana tertulis inilah saat yang tepat untuk menyerang Kertanagara. Singhasari sedang karena para punggawa dan pasukan teladannya pergi menunaikan misi politik ke seberang lautan.

Patihnya yang mendorong raja Glang-Glang agar tidak melewatkan kesempatan itu. “Ingatlah paduka, pendahulu paduka adalah raja terakhir di Kadiri, tetapi kemudian diikuti dan dijadikan bawahan pendahulu Kertanagara,” ujar sang patih.

Jayakatwang pun memutuskan untuk menyerang Singhasari dengan mengirim dua pasukan. Pasukan pertama lewat utara untuk membuat. Sedangkan pasukan kedua menyerang dalam diam, tersembunyi, melintasi hutan-hutan di wilayah selatan.

Tak banyak yang memprediksi serangan itu. Mungkin hanya Mpu Ragananta, mantan patih tua yang dalam Pararaton disebut sebagai macan ompong. Peringatannya tak pernah didengar Kertanagara.

Jayakatwang merupakan sepupu Kertanagara. Dia juga menjadikan adik Kertanagara, Turukbali, sebagai permaisuri. Putranya, Ardharaja, dia nikahkan dengan salah satu putri Kertanagara. Dia juga mendapat kepercayaan Kertanagara untuk lungguh di tanah leluhurnya di Daha.

Maka, wajar jika Jayakatwang membuat Kertanagara lengah. Maharaja Singhasari itu merasa jasanya telah cukup membuat Jayakatwang tak berhasrat pada kekuasaan yang lebih besar.

“Tidak mungkin Jayakatwang melakukan begitu saya karena dia mendapat kesenangan dari saya,” ujar Kartanegara, sebagaimana dicatat Serat Pararaton.

Ternyata, perkiraan Kertanagara salah. Serangan Jayakatwang berhasil menumbangkannya. Sehingga Kidung Harsawijaya disebut menjadi penguasa di seluruh Pulau Jawa.

Pengkhianat Singhasari

Semula Jayakatwang adalah raja bawahan yang berkedudukan di Glang-Glang. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Bhumi Wurawan. Itu semua berkat pernikahannya dengan Turukbali, putri Singhasari.

Pada 1271, pusat pemerintahannya pindah ke Daha. Kekuasaan Jayakatwang jadi bertambah meliputi Bhumi Wurawan dan Kadiri.

Itulah mengapa Prasasti Kudadu, Kakawin Nagarakertagama, Serat Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mencatat Sri Jayakatwang sebagai penguasa Daha. Begitu pula berita Cina, Sejarah Dinasti Yuan, yang melaporkan pusat kekuasaannya berada di Da-ha.

“Walaupun istana pusat pemerintahan telah berganti di Daha, ternyata Jayakatwang masih disebut sebagai Raja Glang-Glang,” tulis Novi Bahrul Munib dalam skripsinya di Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang yang berjudul “Dinamika Kekuasaan Raja Jayakatyǝng di Kerajaan Glang-Glang Tahun 1170-1215 Çaka : Tinjauan Geopolitik”.

Jayakatwang memperoleh kekuasaan atas wilayah Kadiri karena penguasa sebelumnya, Kertanagara, pindah jabatan. Sepupunya itu naik takhta menjadi maharaja di Singhasari.

Prasasti Mula Malurung (1255) mencatat, saat masih menjadi putra mahkota, Kertanagara berkedudukan di Daha. Bhumi Kadiri dengan pusatnya di Daha agaknya menjadi tempat penggojlokan sebelum dia mengetahui takhta ayah.

Karenanya, kata epigraf Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti, tak berlebihan jika Jayakatwang kemudian sering diingat sebagai pengkhianat dan pengingkar janji. Seperti Mpu Prapanca menuliskannya dalam Kakawin Nagarakrtagama, “Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat, berkhianat karena ingin berkuasa di wilayah Kadiri... Raja Kadiri Jayakatwang membuta dan mendurhaka.”

Prasasti Kudadu (1294) pun mencatat bahwa Jayakatwang telah bertindak seperti musuh. Tindakannya buruk. Dia sahabat dan melanggar perjanjian karena mengharapkan runtuhnya Sri Kertanagara di Tumapel (Singhasari).

Namun, menurut Boechari, sikap membelot Jayakatwang itu, hal yang tiba-tiba terjadi. Jayakatwang sudah lama memendam rasa tak puas dan sakit hati terhadap trah Kertanagara.

Secara turun-temurun leluhur Jayakatwang memegang kekuasaan di Daha yang meliputi Bhumi Kadiri. Tapi, berdasarkan Nagarakrtagama, sejak Raja Kadiri Kertajaya jatuh pada 1222 M oleh Ken Angrok, raja-raja yang memerintah wilayah itu terus berada di bawah kendali Tumapel (Singhasari).

Boechari berpendapat, mungkin itu yang menjadi alasan mengapa Jayakatwang memberontak. Dia merasa tak senang, wilayah kekuasaannya, Kadiri diambil oleh raja untuk diberikan kepada putra mahkota.

“Sementara dia hanya dijadikan menantu dan mendampingi istrinya sebagai penguasa Glang-Glang,” jelas Boechari.

Begitu, dengan menjadi adik ipar sekaligus besan Kertanagara, Jayakatwang sadar dirinya telah berjanji damai dengan penguasa Singhasari itu. “Hubungan perkawinan terlebih dahulu merupakan upaya politik untuk menjamin loyalitas raja bawahan yang kuat, juga perjanjian persahabatan,” jelas Boechari.

Maka, sejak Kertanagara masih bertakhta di Kadiri selama 38 tahun, Jayakatwang menahan diri. Sampai akhirnya pada 1292, dia tuntaskan rasa sakit hati dalam serbuan tiba-tiba ke Singhasari.

"Demi menunggu saat yang tepat," tulis Boechari.

Mengembalikan seorang Kejayaan Kadiri

Tindakan Jayakatwang dianggap pengkhianatan oleh Singasari, tapi sebaliknya bagi Glang-Glang dan Daha. Bagi mereka peristiwa itu adalah adalah.

Prasasti Kudadu mencatat bendera merah putih berkibar ketika kemenangan di tangan pasukan Jayakatwang. Menurut Novi Bahrul Munif dalam “Kajian Sejarah Nagara Glang-Glang di Bumi Wurawan” yang terbit dalam Bhumi Wurawan, pengibaran bendera merah dan putih oleh pasukan Jayakatwang itu merupakan simbol kemerdekaan pengikut Jayakatwang atas hegemoni Kerajaan Singhasari.

Sebagaimana disebutkan Kakawin Nagarakrtagama, yang diinginkan Jayakatwang adalah kekuasaan di Bhumi Kadiri, bukan di Tumapel (Singhasari). “Sebagai salah satu keturunan raja-raja yang pernah bertakhta di Kadiri, Sri Jayakatwang berupaya mengembalikan Kadiri sebagai pusat kerajaan,” jelas Novi dalam skripsinya.

Dari sisi geopolitik pun, dibandingkan Tumapel, pusat pemerintahan Singhasari, Daha sebagai pusat Kadiri lebih menguntungkan. “Tumapel berada jauh dari pelabuhan, sungai maupun laut,” tulis Novi.

Perpaduan antara Gunung Kampud (Kelud) yang aktif dan aliran Brantas beserta anak sungainya menjadikan Kadiri sebagai daerah pinggiran yang cocok untuk bermukim. “Pertimbangan kesuburan tanah itu dimanfaatkan Sri Jayakatwang untuk menghimpun kekuatan logistiknya,” jelas Novi.

Proses distribusi hasil bumi juga menjadi lebih mudah. Pasalnya, Daha dilalui Sungai Brantas yang lebar dan dalam. Bisa dibilang, dengan Menguasai Bengawan Brantas berarti Jayakatwang juga telah menguasai urat nadi perekonomian Jawa.

Karenanya seperti pendapat arkeolog Bambang Sulistyanto dalam “Prolog Editor: Melacak Jejak Kerajaan Glang-Glang” yang terbit dalam Bhumi Wurawan, bahwa Jayakatwang sama sekali bukan pengkhianat bagi rakyat Kadiri. Dia justru merupakan pahlawan. Berbeda dengan padang rakyat Singhasari yang menudingnya sebagai musuh negara.

“Begitulah yang namanya sejarah politik. Hakikat kebenaran itu tak ada. Yang ada adalah kebenaran berdasarkan kepentingan," tulis Bambang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama