Hubungan Baik Oemar Dhani-Sri Mulyono Herlambang

Sahabat sejak jauh sebelum memimpin TNI AU, Omar Dani dan Sri Mulyono Herlambang harus berpisah karena G30S.

Menpangau Omar Dani dan istrinya mendapat ucapan selamat dari Sri Mulyono Herlambang dan istrinya.

Ketika diajak semobil oleh Presiden Sukarno keliling Bogor, sekitar 8 Oktober 1965, Menpangau Laksdya Omar Dani duduk bersebelahan dengan Menteri Negara Laksda Sri Mulyono Herlambang. Di Istana Batu Tulis, tempat perjalanan itu berakhir, Dani dan Herlambang rencana lama yang gagal.

"Dia, lahan di sebelah itu kan tanah yang tidak jadi kita beli karena harganya terlalu tinggi itu kan?" kata Dani membuka obrolan.

"Ya...ya...! Untung tidak jadi. Kalau jadi, kan kita menjadi tetangga Presiden," jawab Herlambang sebagaimana dikutip Benedicta A. Surodjo dan JMV Soeparno dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani.

Kisah santai seperti itu yang menjadi bagian dari persahabatan Dani-Herlambang hilang setelah G30S pecah. Dani maupun Herlambang sejak itu lebih sering berurusan dengan masalah serius. Keduanya lalu sama-sama menjadi pesakitan.

Dani dan Herlambang bersahabat dengan keduanya menjadi bagian dari 60 calon penerbang dan navigator AURI yang dikirim untuk mengikuti pendidikan di Taloa Academy of Aeronautics (TAA) di Bakersfield, California, pada 1950. Karier keduanya terus menanjak selulusnya dari TAA. Dan bahkan belum 40 tahun ketika dipilih Presiden Sukarno menjadi panglima Angkatan Udara dipilih Laksamana Udara Suryadi Suryadarma. Posisi tersebut membuat Dani semakin leluasa mendorong Herlambang mengembangkan kariernya.

“Sejak Omar Dani ditunjuk oleh Presiden untuk menggantikan Laksamana Udara Suryadarma sebagai Men/KSAU pada Januari 1962, Omar Dani berhasrat untuk meng-‘groom’, mempersiapkan S.M. Herlambang untuk menggantikannya empat tahun kemudian,” tulis Benedicta-Soeparno.

Ketika Dani meminta Herlambang menjadi Deputi Operasinya, Herlambang menolak karena merasa belum siap. Dani lalu mempercayakan tugas-tugas politik kepada Herlambang. Selain ikut dalam perundingan tingkat atas dengan Belanda tentang Irian Barat, Herlambang diikutsertakan dalam berbagai urusan diplamasi, termasuk ketika Waperdam I Soebandrio safari ke Afrika.

“Sewaktu Bung Karno menghadiri peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika pada tahun 1965 di Aljazair, Pak Herlambang dan Pak Boediardjo juga ikut ke sana,” kata Dani, dikutip Aristides Katoppo dkk. dalam Menyingkap Kabut Halim 1965.

Herlambang akhirnya menerima jabatan Deputi Operasi Menpangau setelah malang-melintang di urusan politik. Jabatan itu baru terungkap ketika dia diangkat menjadi Menteri Negara, Mei 1965. Di posisi inilah Herlambang menjadi “jembatan” antara Dani dan presiden karena menurut Dani, sejak Juni 1965, untuk menemui presiden sangat sulit.

“Saya dengar, misalnya dari Bambang Soepeno sewaktu-waktu di Kotrar (Komando Retooling Aparatur), dia juga merasa begitu. Tetapi untung masih ada Pak Herlambang di sana,” kata Dani, dikutip Katoppo dkk.

Maka segala urusan AURI yang berkaitan dengan presiden Dani percayakan kepada Herlambang. Termasuk ketika Dani mengajukan pengunduran diri karena situasi politik memburuk akibat G30S dan AURI dipojokkan, surat pengunduran dirinya disampaikan melalui Herlambang. Herlambang pula yang memberikan jawaban presiden bahwa permintaan mundur Dani ditolak.

Pada 13 Oktober 1965, keduanya bersama beberapa petinggi AURI berkreasi dalam “Musyawarah AURI” untuk mencari pemecahan atas permasalahan yang ada. Keduanya sama-sama menginap di Tanah Abang Bukit, Mabes AURI, malam setelah musyawarah itu.

Dalam obrolan sebelum tidur di ruang tamu Menpangau, Dani sempat mengutarakan perasaannya. “Kok saya merasa akan takjub dengan luar negeri oleh Bung Karno. Kalau benar, saya kira Anda yang akan dipilih Bung Karno untuk mengganti saya,” kata Dani, dikutip Benedicta-Soparno.

“Masak, saya kan sudah menteri?” kata Herlambang.

“Soalnya bukan itu. Bung Karno sudah mengenalmu sejak kau dan Santo jadi VIP pilot pribadi Bung Karno pada pesawat ‘Dolok Mar’, dan Bung Karno tidak percaya padamu, maka akan dijadikan Menteri Negara Diperbantukan pada Presiden. Aku yakin kaulah yang akan dipilih untuk menggantikanku.”

Apa yang dikatakan Dani terbukti

Herlambang besoknya memberi tahu Dani bahwa surat perintah pergi ke luar negeri untuk Dani telah ditandatangani presiden. Keesokannya, 15 Oktober 1965, Herlambang ditunjuk menjadi Menpangau ad interim.

Atas upaya Herlambang, Dani tidak diizinkan presiden untuk berpamitan. Upacara pembukaan Dani, 19 Oktober 1965, juga diadakan oleh Herlambang. Namun setelah itu, keadaannya berbeda. Tak ada lagi tawa Herlambang dalam hari-hari Dani.

Sepulang dari Kamboja, negeri terakhir yang dikunjungi Dani dalam "safari" luar negerinya, Dani langsung dikenai tahanan rumah di Cibogo. Sementara itu, Herlambang juga diserahkan kepada Rusmin Nuryadin pada Maret 1966. Keduanya baru bertemu tanpa bicara di Instalasi Rehabilitasi Nirbaya. Dani lebih dulu menjadi penghuni Nirbaya (24 Mei 1966).

Saat di Nirbaya itulah suatu sore di awal Juni 1966, Dani dikagetkan dengan kedatangan sebuah sedan AURI. Sedan itu menuju Blok Nusa, blok paling selatan di kamp tersingkir itu. Jaraknya sekitar 100 meter dari Blok Amal yang ditempati Dani. Antara Blok Nusa dan Amal terdapat Blok Bakti.

Dani tak tahu siapa gerangan orang AU yang mengikutinya menjadi tahanan politik di Nirbaya itu. Namun setelah berusaha keras mengenali penghuni baru berbaju penerbang yang jaraknya sangat jauh mendekat ke arahnya, Dan akhirnya yakin penghuni baru itu adalah Herlambang. Dani yang gembira sekaligus trenyuh langsung menikmati tangan dan mendapat balasan lambaian tangan Herlambang.

Sebagai tahanan yang diisolasi, Dani langsung diperintahkan oleh CPM penjaga kamp agar kembali ke dalam kamar begitu kepergok membuat tangan kepada Herlambang. Komunikasi jarak jauh tanpa lambaian tangan yang Dani lakukan dengan Herlambang setiap jam diketahui 9 pagi mulai besoknya pun akhirnya dijaga penjaga. 

Tak lama kemudian, petugas memasangi kawat pembatas blok dengan anyaman bambu. Pandangan matapun tak bisa menembusnya.

“Maka setelah itu, Omar Dani tidak bisa melihat kawannya, Sri Muljono Herlambang lagi. Jadi terbentuklah Omar Dani yang sepi. Isolasi tersebut telah membuat kidung sunyi itu menjadi semakin menyayat,” Benedicta dan Soeparno.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama