Hadiah Patung Kartini dari Jepang

Seniman Jepang mengagumi Kartini. Menjadikan patungnya sebagai simbol persahabatan Indonesia-Jepang.

Patung Kartini karya seniman Jepang ini diresmikan pada 19 Agustus 1963.

Patung Kartini di Monumen Nasional itu cukup unik. Ada aksara kanji di bagian dasar patung. Dulu orang sempat mengira tulisan di dasar patung itu huruf Tionghoa dan berkaitan dengan Pahlawan Nasional. Tapi sesungguhnya, patung itu merupakan persembahan dan pengembangan pemerintah Jepang kepada Indonesia pada April 1963.

Pembuat patung itu adalah Prof. Kato Kensei dari Akademi Kesenian Jepang. Dia tertarik membuat patung itu karena kekagumannya pada perempuan Indonesia. “Tertarik akan wanita-wanita Indonesia yang tanpa meninggalkan unsur-unsur keindahan, unsur-unsur kepribadian, telah maju pesat,” ungkap Djaja, 27 April 1963.

Kato pun berkunjung ke Indonesia pada 1961. Dia bertemu dengan Presiden Sukarno dan mengungkapkan keinginannya membuat patung yang saya miliki di Indonesia. Sukarno menerima baik keinginan Kato. Dari sini sosok Kartini diusulkan untuk model patung Kato. Dia pun segera mempelajari Kartini, pelanggaran terpikat, dan setuju sosok Kartini menjadi model patungnya.

Kemasyhuran Kartini telah melewati batas negara. “Semua pimpinan Gabungan Wanita Demokratis Sedunia mendapat perhatian yang penuh, hingga disetujui bahwa Kartini adalah sejajar dengan perintis-perintis besar dari negeri lain,” tulis Api Kartini, No. 4, April 1960.

Ketika Sukarno berkunjung ke Jepang, Kato menemuinya lagi untuk meminta pertimbangan bentuk patung tersebut. Dia mendapat gambaran lebih jelas tentang bentuk patung tersebut. Nantinya patung Kartini akan diapit oleh dua patung perempuan. Patung itu akan diletakkan di gedung Dewan Perancang Nasional (Depernas) di Jalan Diponegoro, Jakarta.

Kato menargetkan patung itu selesai pada April 1962. Tapi penyelesaiannya ternyata molor setahun. Peletakan batu pertama patung itu baru berlangsung pada 22 April 1963. Ini bertepatan dengan penyelenggaraan Konferensi Wartawan Asia Afrika (KWAA) di Jakarta. Delegasi-delegasi tersebut turut menghadiri peletakan patung Kartini dengan pakaian khas negaranya masing-masing.

“Tampak hadir tokoh-tokoh wanita di ibu kota, Gubernur Soemarno, Wakil Gubernur Henk Ngantung, dan sejumlah peserta KWAA, antara lain dari RRT, Sri Lanka, Kamboja, Vietnam, Korea, Mali, Guinea, Nepal, Filipina, Afrika Barat, dan dari Jepang,” kata Djaja. Selain itu, ada pula tokoh perempuan nasional seperti Maria Ullfah Santoso dan Hurustiati Subandrio.

Dalam sambutannya, Gubernur Soemarno menguraikan kisah pembuatan patung Kartini. Semula patung itu justru akan diletakkan di Kebayoran, tapi kemudian diganti ke Taman Suropati yang tenang agar menggambarkan kepribadian perempuan Indonesia. “Ketenangan daripada sifat dan kebiasaan wanita di dalam mengendalikan kehendak-kehendak pria pada umumnya,” kata Soemarno.

Tapi tempat pilihan itu pun belum final. Pada akhirnya, pilihan jatuh ke gedung taman Depernas yang ramai. “Oleh tempat ini dianggap cocok dan lebih mencerminkan gerak dinamik dari revolusi. Itulah sebabnya maka patung-patung tersebut diletakkan di tengah kegiatan sehari-hari sehingga keseluruhannya akan memberikan kesan yang lebih tepat mengenai suasana sekarang,” tambah Soemarno.

Pembangunan patung Kartini selesai seluruhnya pada Juli 1963. Kemudian peresmiannya dilakukan pada 19 Agustus 1963. Selubungnya dibuka setelah Soemarno dan Katsushi Terazono, perwakilan pemerintah Jepang yang menyerahkan patung itu dari lembaga National Movement for Asian Good-Neighborhood kepada pemerintah Indonesia, piagam serah terima .

Tampaklah jelas wujud tiga patung dari perunggu berwarna hitam. Patung Kartini setinggi dua meter dan menghadap ke arah Hotel Indonesia. Bentuknya seperti sedang berjalan dengan tangan kiri memegang dada dan tangan kanan memandu. Dua patung lainnya menggambarkan ibu yang sedang menyusui anak dan menari.

“Ibu Kartini sendiri wisata dalam keadaan membimbing; dan dengan meletakkan tangan kiri ke dada seolah ditujukan kehadirat Tuhan agar sepak terjang wanita Indonesia selalu diridhoi oleh-Nya,” kata Hurutiati Subandrio mengomentari peresmian karya Kartini dalam Djaja, 24 Agustus 1963.

Hurutiati juga menyatakan penempatan patung di depan gedung Depernas sangat tepat. “Dapat diartikan bahwa terkandunglah harapan agar kaum wanita sungguh ikut serta dalam pembangunan,” tambah Hurutiati.

Terazono mengatakan mempersembahkan patung Kartini bertujuan mempererat hubungan antara Jepang dengan bangsa-bangsa Asia lainnya. Tanpa memandang perbedaan bangsa, bahasa, agama, cara hidup atau tingkat kemajuan ekonomi, kata Terazono dalam Djaja.

Sementara itu, Gubernur Soemarno berpendapat patung Kartini menjadi bukti bangsa Indonesia mampu bergaul dengan bangsa lain secara damai. Dia juga menyampaikan pesan Presiden Sukarno: “Bangsa Indonesia dan Jepang sebaiknya ada hubungan yang erat untuk kepentingan keduanya.”

Beberapa tahun setelahnya, makna tiga patung itu memudar. Ali Sadikin, Gubernur Jakarta 1966–1977, menuturkan dia pernah menemukan gelandangan tua, mengunjungi, dan sakit di sekitar orang tua patung itu. 

Mulanya dia kira patung bertambah satu. Tapi setelah dia mendekatinya, ternyata ada gelandangan malang sedang tidur di antara patung itu.

“Heran juga saya, mengapa orang lain seperti tidak memperhatikannya,” kata Ali Sadikin dalam Bang Ali Demi Jakarta 1966–1977. Ali menyuruh polisi membawakan tadi ke rumah sakit.

Sikap abai dalam patung tersebut juga tampak dari patung piagam serah terima kasih tersebut. “Patung Kartini dari Jepang, data-data yang menyertainya belum dapat kami temukan,” sebut tim Dinas Museum dan Sejarah dalam Sejarah Singkat Patung-Patung dan Monumen di Jakarta, terbitan 1992.

Patung Kartini dan dua perempuan itu membuat kehilangan makna ketika Sutiyoso memindahkannya ke Monas 2005. Sutiyoso beralasan patung itu ditempatkan secara asal-asalan. Tidak sesuai nama jalan. Bekas tempat patung Kartini diisi oleh patung Pangeran Diponegoro sumbangan Ciputra, pengusaha properti.

Pada tahun 2017, muncullah forum diskusi di Facebook tentang patung Kartini. Dikatakan patung itu menggunakan aksara Tionghoa sebagai bentuk melawan Pahlawan Nasional. Tapi melalui bukti sejarah, pendapat warganet dan Gubernur Sutiyoso terlihat tak berdasar sama sekali.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama