Awal Mula Ibadah Haji di Nusantara

Penduduk nusantara pergi ke Makkah dengan misi sultan, berdagang, menimba ilmu, serta menunaikan ibadah haji.

Umat Muslim mengelilingi Ka'bah selama ibadah haji di Mekah, Arab Saudi.

Ludovico di Varthema, orang Romawi pertama yang mengunjungi Mekah dan menuliskan kesan-kesannya. Menyamar sebagai seorang Muslim, ia bergabung dengan karavan Mamluk besar dari Damaskus. Mereka tiba di Mekah pada 18 Mei 1503. Varthema melihat peziarah dari Nusantara, yang disebutnya “India Timur Kecil”, sebuah catatan awal keberadaan peziarah dari Nusantara.

“Kami tidak memiliki bukti kehadiran jemaah haji Nusantara sebelum Varthema di Makkah,” tulis Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara pada abad XVII dan XVIII.

Menurut M. Shaleh Putuhena, Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan UIN Alauddin Makassar, masyarakat Nusantara mungkin yang pertama kali menunaikan ibadah haji.

“Namun, mereka bukanlah jamaah haji yang sengaja berangkat dari Nusantara untuk menunaikan ibadah haji. Mereka adalah para pedagang, utusan sultan, dan pelaut yang berlabuh di Jeddah dan berkesempatan mengunjungi Mekkah,” tulis Salih dalam Historiografi Bahasa Indonesia. haji.

Daya tarik Mekkah begitu kuat bagi setiap umat Islam, karena selain menjadi tujuan menunaikan rukun Islam yang kelima, kota ini juga memiliki sejarah yang panjang. Mekah disebut "kota para nabi". Adam adalah nabi pertama yang menginjakkan kaki di Mekah.

“Dia menunaikan haji di kota itu dan mendoakan keturunannya agar diampuni dosa-dosanya,” kata Zuhairi Misrawi, intelektual Nahdlatul Ulama dan penulis buku tentang Mekah. Beberapa nabi yang meninggal di Mekah antara lain Nuh, Hud, Shua'ib, dan Shalih.

Nabi yang memiliki jasa dan sejarah yang monumental di Mekkah adalah Ibrahim. Dia dan putranya, Ismail, membangun Ka'bah atau rumah Tuhan (Baitullah). Setelah Ibrahim, Mekah dikuasai oleh suku Jurhum dari Yaman, kemudian digantikan oleh suku Khuza'a. Penggantinya yang paling lama memerintah adalah suku Quraisy yang dipimpin oleh Qushay, nenek moyang Nabi Muhammad. “Nabi yang melanjutkan jejak Ibrahim adalah Muhammad,” kata Zuhairi.

Di Mekah, Muhammad lahir, menerima wahyu, membebaskan Mekah, dan melakukan haji wada' (ziarah perpisahan), yang segera meninggal di Madinah. Setelah Nabi, Mekah tetap berada di bawah kendali para pemimpin Quraisy. “Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa pemimpin Mekah harus memiliki garis keturunan dari klan Quraisy,” kata Zuhairi.

Tragisnya, Mekkah kemudian diperebutkan oleh dinasti Islam hingga jatuh ke tangan Muhammad bin Saud yang memimpin gerakan Wahhabisme. Dan keluarga Saudlah yang memerintah Mekah hingga hari ini.

Mencari Legitimasi dan Berdagang

Makkah juga disebut Ummul Qura, ibu dari segala tempat di muka bumi. Berziarah ke Makkah berarti mengenang asal-muasal alam semesta. “Karena Makkah tempat pertama yang diciptakan untuk manusia, setiap orang akan tertarik untuk sampai ke kota itu. Ia menjadi kiblat bagi setiap manusia, terutama umat Islam,” ujar Zuhairi.

Selain itu, Makkah adalah sumbu bumi. Sejarawan Belanda, Martin van Bruinessen, dalam “Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji,” Ulumul Qur’an Vol. II No. 5 tahun 1990, disebut pusat kosmis, titik temu antara dunia fana dan alam supranatural.

Di Jawa, lanjut Van Bruinessen, masa pra-Islam, pusat-pusat kosmis memainkan peranan sentral. Kuburan para leluhur, gunung, gua dan hutan tertentu, serta tempat-tempat "angker" lainnya tak hanya diziarahi tapi juga dikunjungi untuk mencari ilmu (ngelmu) alias kesaktian dan wahyu (legitimasi kekuasaan).

"Setelah orang Jawa mulai masuk Islam, Makkahlah yang, tentu saja, dianggap sebagai pusat kosmis utama," tulis Van Bruinessen.

Makkah juga merupakan kiblat bagi umat Islam dan pusat keilmuan Islam. Umat ​​Islam Nusantara yang pertama datang ke Makkah bertujuan mencari legitimasi politik, berniaga, dan menimba ilmu. Menjelang pertengahan abad ke-17, raja-raja Jawa mulai mencari legitimasi politik dari Makkah.

Peran haji sebagai legitimasi politik tampak jelas dalam Sajarah Banten. Menurut babad yang dikarang pada paro kedua abad ke-17 ini, penegak dinasti Banten, Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, naik haji bersama anaknya kemudian melahirkannya, Hasanuddin, setelah mereka bertapa di berbagai gunung di Jawa Barat. Haji mereka bukan perjalanan biasa. “Mereka sebagai wali mencapai Makkah dengan cara lain, yang tak patut,” kata Van Bruinessen.

Perjalanan haji ini digambarkan lebih lanjut dalam Hikayat Hasanuddin. Pada karya berbahasa Melayu yang ditulis sekira tahun 1700 ini, Sunan Gunung Jati mengajak anaknya: “‘Hai anakku ki mas, marilah kita pergi haji, karena sekarang orang naik haji…!’ berkata, dia berjalan dengan anaknya yang dibungkus dengan syal. Tiada berapa lama, dia sampai di Makkah. Sampai di Masjidil Haram, anaknya dikeluarkan dari dalam bingkisan,…”

Menurut Shaleh, Sunan Gunung Jati berangkat ke Makkah setelah kota kelahirannya, Samudera Pasai, ditundukkan Portugis pada 1521. Dia berada di Kota Suci selama tiga tahun dan melaksanakan haji. “Keberangkatan Nurullah ke Makkah sebagai diplomat untuk meminta bantuan Turki Utsmani yang menguasai Makkah agar mengusir Portugis dari Pasai,” tulis Shaleh.

Penguasati Utsmani bergelar khalifah dan Khadim al-Haramayn (Pelayan Tanah Suci) mengambil langkah-langkah khusus untuk menjamin keamanan jalur perjalanan haji. “Hal ini berdampak bagi hubungan yang kondusif bagi Timur Tengah dan dunia Islam lainnya, termasuk Nusantara,” ujar Dadi Darmadi, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jaminan itu mendorong kerajaan-kerajaan muslim di Nusantara berperan aktif dalam pelayaran. “Bagi para pedagang muslim, Makkah adalah tempat perahu dan berziarah, menyempurnakan kesalehannya tanpa kehilangan usaha dan perniagaannya,” kata Dadi.

Pada 1565 dan 1566 lima kapal besar Kerajaan Aceh, setelah lolos dari hadangan Portugis, berlabuh di Jedah yang masa itu lebih bekerja sebagai pelabuhan niaga. “Tidak ada kemungkinan pedagang dan pelayar dari lima kapal itu berkesempatan melaksanakan haji,” kata Shaleh.

Dengan demikian, haji Nusantara telah dimulai abad ke-16 oleh para pedagang dan diplomat. “Mereka ini kemudian dianggap sebagai angkatan perintis haji Indonesia,” kata Shaleh.

Menurut Van Bruinessen, tujuan diplomat atau utusan-kerajaan Islam Nusantara itu untuk mencari legitimasi politik dari Makkah, selain menunaikan haji. Pada 1630-an, raja Banten dan raja Mataram bersaing mengirim utusan ke Makkah untuk mencari pengakuan dan meminta gelar Sultan. Penguasa Banten Abdul Qadir mendapat gelar Sultan dari Syarif Makkah setelah mengirim misi khusus ke Makkah. Pangeran Rangsang juga mendapat gelar Sultan, sehingga kemudian dikenal sebagai Sultan Agung, penguasa Mataram terbesar.

Menimba Ilmu

Selain untuk mencari legitimasi, tulis Van Bruinessen, naik haji juga untuk mencari ilmu (ngelmu). Penyair sufi pengamat, Hamzah Fansuri yang wafat pada 1527, dalam salah satu syairnya membicarakan haji. “Hamzah sendiri telah naik haji, dan dengan menunaikan kewajiban ini dia berharap ‘menemukan Tuhan’,” tulis Van Bruinessen.

Syekh Yusuf Makassar, ulama tarekat asal Makassar, berangkat ke tanah Arab pada 1644 dan kembali ke Nusantara sekira tahun 1670. Dia lalu menjadi Sultan Ageng Tirtayasa di Banten. “Ketika kompeni Belanda membantu Sultan Haji ayahnya, Sultan Ageng, Yusuf mengikuti pengikutnya ke gunung dan memimpin gerilya melawan Belanda,” tulis Van Bruinessen. Setelah hampir dua tahun bergerilya, dia ditangkap dan dibuang ke Srilanka, lalu ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, tempat dia wafat pada 1693 di usia 68 tahun.

Sultan Haji atau Abdul Qahhar juga salah seorang murid Syekh Yusuf. “Atas rekomendasinya, Abdul Qahhar melanjutkan studinya di Makkah meski hanya sesaat dan berkesempatan untuk melaksanakan haji. Sekembalinya dari Timur Tengah, Abdul Qahhar mendapat julukan Sultan Haji karena dialah sultan pertama yang menunaikan haji," tulis Shaleh.

Ulama lain yang juga lama menetap dan memperdalam ilmu-ilmu agama di Makkah dan Madinah sambil melaksanakan haji adalah Abdurrauf Singkel, yang kemudian mencapai kedudukan tinggi di Aceh. Selain Yusuf Makassar dan Abdurrauf Singkel, pada abad ke-17 tercatat beberapa peziarah datang ke Haramain untuk menuntut ilmu sambil menunaikan ibadah haji. “Pada umumnya mereka adalah murid dan pengikut kedua ulama tersebut,” tulis Shaleh.

Sejak abad ke-17, jaringan ulama-ulama Nusantara tersambung dengan dunia intelektual muslim di Timur Tengah, khususnya di Makkah dan Madinah. Hal itu berpengaruh terhadap kemunculan gerakan Islam di Nusantara. “Ibadah haji telah menjadi salah satu medium di mana kesalehan dan ilmu pencarian bertemu, menjadi ciri khas kaum muslim yang tercerahkan kala itu,” ujar Dadi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama