Awal Invasi Narkoba ke Indonesia

Zat candu berbahaya yang kerap menjerat anak muda dan tokoh masyarakat. Sejak itu hingga kini terus menyebar seperti pandemi corona.

Pemuda dekat Festival Woodstock, Agustus 1969, yang mempopulerkan budaya hippie.

Baru-baru ini, musisi papan atas Erdian Anji Prihartanto yang dikenal dengan "Anji" oleh pihak berwajib karena kepemilikan benda terlarang Ganja. Pria yang akrab dipanggil Anji itu terciduk setelah polisi menemukan beberapa linting ganja dikediamannya. Nama Anji menambah daftar panjang selebritis tanah air yang terjerat kasus narkoba.

Selebritis dan kehidupan bebas seperti satu paket. Salah satu rupa gaya hidup bebas itu mewujud dalam pemakaian narkoba. Dari masa ke masa, cukup banyak seniman maupun artis yang dikenal sebagai pemakai Narkotika. Tidak sedikit pula yang meninggal karena overdosis. Zat berbahaya ini terdiri dari narkoba, psikotropika, dan obat-obatan terlarang Di luar kebutuhan medis, narkotika adalah barang haram. Namun, sejak kapan mulai marak di Indonesia?

“Masuknya narkoba modern ke Indonesia itu mulai awal tahun 70-an,” ujar Tama Bara Sakti, arsiparis di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Generasi Bunga

Situation global pada 1970-an melahirkan yang disebut kaum hippies. Mereka dikenal sebagai generasi antikemapanan yang menolak nilai-nilai penghargaan Amerika. Gelombang protes terhadap keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam pada 1960-an jadi momentum kemunculan hippies. Simbol mereka adalah bunga sehingga kerap disebut sebagai generasi bunga.

Kaum hippies identik dengan gaya hidup bebas, seperti aktivitas seks bebas dan konsumsi obat-obatan terlarang. Love, Peace, and Freedom (Cinta, Perdamaian, dan Kebebasan) adalah semboyan hippies yang terkenal. Grup band pop Inggris The Beatles dan gitaris rock kesohor Amerika Jimi Hendrix adalah musisi yang mendukung dan berpenampilan ala hippies. Jimmi Hendrix bahkan meninggal akibat overdosis obat penenang jenis barbiturat pada 1970.

Budaya hippies lalu mengular ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Anak-anak muda, yang mengalami depolitisasi sejak awal Orde Baru, menyerap mentah-mentah budaya hippies kendati hanya kulitnya. Penetrasi kultur pop ini terutama menyasar kaum muda di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung.

Menurut Ekspres, 7 Juni 1971, mulanya anak-anak muda di negeri ini meniru hanya terbatas mode. Lama-lama mereka menyaplok habis budaya dan kehidupan hippies, seperti rambut gondrong, dandanan eksentrik, suka pesta, dansa telanjang, dan seks bebas. Yang paling membuat keadaan menggawat adalah penggunaan narkotika, ganja, dan morfin.

Kepala kepolisian RI, Jenderal Hoegeng Iman Santoso turut menyaksikan anak-anak muda yang terjerumus dalam Narkotika. Hoegeng mengakui invasi Narkotika di Indonesia bersumber dari situasi global yang menyerang kalangan muda. Selain itu, menurut Hoegeng ancaman Narkotika tidak luput dari masalah domestik.

“Banyak anak-anak orang kaya yang mengalami broken home dicobai dari kepahitan hidup dengan jalan menjadi pecandu ganja, heroin, dan narkoba,” ujar Hoegeng kepada Abrar Yusra dalam otobiografi Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan yang disusun Ramadhan K.H.

Lahirnya Undang-Undang Narkotika

Menurut Hoegeng terhadap ancaman narkoba cukup beralasan. Apalagi letak geografis Indonesia tidak jauh dari kawasan penghasil narkotika alami jenis ganja. Kawasan yang dimaksud Hoegeng adalah Indocina yang disebut-sebut sebagai segitiga emas daerah ganja. Lagi pula, Asia Tenggara merupakan daerah tropis dimana Narkotika alami seperti ganja bisa tumbuh di pinggiran kota.

Selain itu, pemasokan narkoba dilakukan lewat cara penyelundupan. “Mobilitas transportasi yang kian berkembang, memudahkan narkoba masuk ke Indonesia,” kata Tama, “bisa dilihat dari kasus-kasus tahun 70-an yang melibatkan pemalsuan paspor.”

Peredaran Narkotika ditengah masyarakat generasi muda meluas dengan cepat. Tempat hiburan seperti klub jadi tempat rujukan transaksi Narkotika meskipun ada juga pedagang rokok jalanan menyambi jualan ganja kecil-kecilan. Dari kota besar ke kota kecil. Dari kalangan menegah ke atas, lantas golongan ekonomi lemah pun jadi ikut-ikutan mencicip barang terlarang itu. semuanya berawal dari rasa penasaran, coba-coba, lalu terjerumus pergaulan.

Menurut berita Kompas, 10 Juli 1975, pecandu narkoba di Indonesia mencapai 5000 orang. Para pecandu itu harga uang sebesar 10,8 milyar rupiah untuk memuaskan candu mereka terhadap berbagai jenis narkoba. Karena kelangkaannya menjadi barang yang mahal. Pada masa itu 1 kilogram morfin, narkotika semisintesis yang lebih dikenal dengan nama putaw dihargai sebesar 15 juta rupiah. Nilai yang cukup fantastis untuk menebus candu. Sebagai bandingan, harga sekilogram beras pada tahun 1975 senilai 45 rupiah.

Memasuki tahun 1976, kepolisian menggelar operasi besar-besaran untuk menyita Narkoba. Langkah awal dilakukan lewat “Operasi Gurita” pada 21 April–3 Juni. Namun, upaya itu masih belum cukup menekan laju peredaran narkoba. Hingga pertengahan 1976, jumlah korban narkoba di Jakarta saja mencapai 10.000 orang.

Sayangnya, belum ada pisau hukum yang cukup tajam untuk menguliti kasus-kasus kasus Narkotika. Hal inilah yang kemudian mendorong pemerintah meregulasi Narkotika ke dalam undang-undang. Maka pada 26 Juli 1976, pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika.

Dengan adanya undang-undang itu, pemerintah memberikan wewenang untuk mengolah narkoba hanya kepada otoritas kesehatan dan medis. Menteri kesehatan, misalnya dapat memberikan izin khusus kepada apotek, dokter, rumahsakit, maupun lembaga ilmu pengetahun dan pendidikan yang memerlukan bahan narkotika untuk kepentingan pengobatan. Sementara itu bagi mereka yang tidak ada, penyalahgunaan narkotika dapat dipidana bahkan dengan ancaman hukuman mati.

“Penegakan hukum (kasus penyalagunaan narkoba) bisa dilakukan jika ada dasarnya. Dengan adanya Undang-Undang Narkotika itu, aparat hukum dengan leluasa melakukan penindakan,” pungkas Tama.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama