Adanya Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi

Dia meninggal di kamp konsentrasi Nazi yang paling ditakuti.

Heinrich Himmler, kepala SS, memeriksa Kamp Konsentrasi Dachau pada 8 Mei 1936.

Pada tanggal 22 Maret 1933 Kamp Konsentrasi Dachau dibuka. Ini adalah kamp konsentrasi pertama yang dibangun Nazi-Jerman. Kamp ini juga beroperasi paling lama hingga 29 April 1945. Jumlah tahanan diperkirakan mencapai 188.000 orang. Korban tewas yang tercatat adalah 32.000, tetapi ribuan lainnya tidak tercatat. Sekitar 10.000 dari 30.000 tahanan sakit pada saat dibebaskan. Salah satu korban yang meninggal berasal dari Indonesia: R.M. Sidartawan.

Sidartawan, mahasiswa hukum di Universitas Leiden sejak 1929. Ia adalah sekretaris Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Ia juga merupakan anggota Klub Studi Bond van Sociaal-Democratische (Persatuan Klub Studi Sosial Demokrat).

Menurut sejarawan Harry A. Poeze dalam In the Colonial Land, banyak orang Indonesia, terutama di Leiden, menjadi anggota serikat pekerja. Serikat pekerja tersebut terkait erat dengan SDAP (Sociaal Demokratische Arbeiders Partij atau Partai Buruh Sosial Demokrat), tetapi tidak memiliki hubungan organisasional.

"Bahkan, Sidartawan adalah editor majalah serikat klub studi sekitar tahun 1935," tulis Poeze.

Ketika Nazi-Jerman menduduki Belanda pada 10 Mei 1940, Sidartawan dan anggota Perhimpunan Indonesia ikut serta dalam verzet atau perlawanan. Mereka juga menjadi sasaran Nazi-Jerman.

Pada pagi hari tanggal 25 Juni 1941, polisi politik Nazi-Jerman, Sicherhetisdienst, menggeledah kediaman mahasiswa Indonesia di Leiden. Mereka mencari empat pimpinan Persatuan Indonesia. Dua di antaranya berhasil ditangkap, yakni Sidartawan dan Parlindoengan Loebis, sedangkan Setiadjit dan Ilderem berhasil kabur.

Sidartawan dan Loebis dipindahkan ke kamp konsentrasi. Loebis ditempatkan di empat kamp konsentrasi: Schoorl dan Amersfoort di Belanda, kemudian Buchenwald dan Sachenhausen di Jerman.

“Di kamp Buchenwald saya juga cukup beruntung. Pekerjaan saya tidak terlalu berat. Selama sekitar enam minggu saya menjadi Stubendienst, kemudian selama sekitar dua bulan saya menjadi komando Schreiber (panitera),” kata Loebis dalam otobiografinya, Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi.

Loebis selamat dan kembali ke Indonesia. Ia meninggal pada 1994. Sementara itu, Sidartawan menjadi anggota pertama Perhimpunan Korban Nazi-Jerman Indonesia.

Loebis mendapat kabar dari seorang Belanda yang baru saja dibebaskan dari kamp bahwa Sidartawan akan dipindahkan lagi ke kamp Dachau untuk Erholung yang berarti istirahat agar kekuatannya pulih.

"Namun, Camp Dachau sudah dikenal sebagai Vernichtungslager, artinya kamp di mana tahanan dibunuh ketika tampaknya dia tidak lagi memiliki energi untuk bekerja," kata Loebis.

Nama Dachau menjadi begitu terkenal dan ditakuti sehingga ada slogan di Jerman ketika seseorang ditangkap dan dijebloskan ke kamp konsentrasi, orang selalu mengatakan "dia adalah Dachau-kan".

"Sampai akhir perang," kata Loebis, "saya sama sekali tidak tahu di mana dan kapan Sidartawan meninggal. Tidak ada yang mendengarnya."

Dalam memo yang dimuat dalam majalah Indonesia, 21 Juli 1945, disebutkan bahwa Sidartawan berturut-turut menduduki kamp konsentrasi di Scheveningen, Schoorl, Amersfoort, Hamburg, Neuengamme, dan Dachau.

Inmemoriam itu menulis “orang-orang yang selamat dari kamp konsentrasi yang mengerikan sekarang mengalir ke negara mereka masing-masing, membawa sukacita bagi keluarga mereka. Tetapi berapa banyak keluarga yang tenggelam dalam kesedihan yang mendalam, karena salah satu anggota keluarganya telah menyerah pada kehidupan yang sulit di kamp. Sidartawan termasuk yang tidak akan kembali. Sidartawan adalah salah satu orang Indonesia yang menjadi korban institusi Nazi yang buruk itu.”

Sidartawan meninggal karena sakit dan disiksa di Kamp Konsentrasi Dachau pada November 1942.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama