Tragedi Pesawat TNI AU Di Mata Utami Suryadarma

Peran TNI Angkatan Udara di masa kisruh dalam ingatan seorang wanita.

Utami dan Suryadarma saat bertunangan, 2 Februari 1938.

Sebagai bagian dari upaya pemerintah mengatasi pandemi corona atau Covid-19, TNI Angkatan Udara (AU) ikut serta dengan pesawat angkutnya ke RRC. “TNI Udara memberangkatkan pesawat angkut berat C 130 Hercules ke Shanghai, China untuk mengangkut transportasi kesehatan penanganan virus Corona (COVID-19) di Indonesia,” demikian detik.com, 22 Maret 2020.

Menkopolhukam Mahfud MD menyebut tugas yang dijalankan TNI AU itu amat mengharukan. “Menurutnya, di saat rakyat Indonesia diminta pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah, sedangkan personel TNI diminta pergi jauh dari rumah untuk mencari obat Corona.”

Apa yang dilakukan para personel TNI AU itu seolah melanjutkan perjuangan para perwira muda AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, nama sebelum TNI AU) yang menjalankan tugas-tugas pengobatan pada 1947 yang kemudian dijadikan Hari Bakti AU. 

Kejadian itu selalu diingat Utami Suryadarma, istri KSAU Komodor Suryadarma, yang kemudian ditulisnya dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi, dan Tanah Air. Utami ingat betul suatu hari di pengujung Juli tahun 1947 ketika kediamannya di Yogyakarta didatangi Adisujipto dan “dokter karbol” Abdulrachman Saleh. Kedua pemuda-perwira yang bersama Suryadarma ikut merintis AURI itu datang untuk berpamitan.

Adisutjipto dan dokter karbol –julukan yang melekat pada Abdulrahman Saleh karena kebiasaannya semasa sekolah kedokteran di Batavia mengepel asrama menggunakan karbol– akan berangkat ke Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Mereka akan terbang menggunakan pesawat DC-3 Dakota bernomor Registrasi VT-CLA.

Pertemuan berjalan akrab seperti ketika kedua bawahan Suryadarma membahas masalah AURI dan perjuangan dengan sang KSAU. Ketika kunjungan selesai, kedua perwira muda AURI itu berpamitan seperti biasa mereka bertemu sebelumnya.

Semua berjalan seperti biasa setelah itu. Adisutjipto dan dokter kadet berangkat ke Singapura, sementara Suryadarma mengurusi AURI dan Utami bersumbangsih dengan membantu perjuangan di garis belakang bersama gerakan perempuan.

Namun, pada 29 Juli 1947 Utami mendapatigalan di atas langit Yogyakarta. “Kita semua mendengar bunyi deruman sebuah pesawat Dakota. Suamiku heran karena biasanya pesawat kita yang datang dari luar negeri, mendarat di Yogyakarta pada malam hari kalau hari sudah sungguh-sungguh gelap. Saat itu sakit hari yang masih terang-benderang,” ujarnya.

Kejanggalan yang membuat Suryadarma, kata Utami, segera berlari ke mobilnya menuju Lanud Maguwo (kini Lanud Adisucipto) yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman KSAU. Kedua anak Suryadarma-Utami, yakni Priyanti dan Erlangga, ikut dengan ayah mereka.

Utami menunggu di rumah dengan hati cemas. Kecemasannya berubah menjadi waktu ketika suami bersama kedua anaknya tiba dari Maguwo petang itu.

Suryadarma mengabarkan bahwa pesawat Dakota yang suaranya mereka dengar itu ternyata Dakota yang –disewa AURI dari Kalingga Air milik Bidju Patnaik, pengusaha India yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia– ditumpangi Adisutjipto dan dokter karbol dan pesawat itu baru saja jatuh ditembak pesawat Belanda.

“Dakota VT-CLA mengeluarkan secepatnya; baling-baling sebelah kanan patah. Pesawat kehilangan keseimbangan dan masih memotret dilancarkan. Ketika menukik tajam, dari pintu pesawat tampak beberapa sosok tubuh terlempar ke luar. Pesawat miring hingga sayap kirinya melanggar pucuk pohon, kemudian jatuh jatuh tanggul sawah,” kata saksi bernama Soma Pawiro sebagaimana dikutip Irna Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950.

“Hatiku tersayat-sayat rasanya,” kata Utami mengingat keadaan saat dia mendengar kabar pilu itu. “Untuk petama kali saya menyaksikan suamiku menangis sekembalinya dari Maguwo.”

Malam itu juga Suryadarma –yang sebelum pulang ikut membawa jenazah korban Dakota ke rumahsakit– dan Utami ke Rumahsakit Bethesda, tempat para jenazah disemayamkan. Presiden Soekarno, Wapres Moh. Hatta, dan Pangsar Jenderal Soedirman sudah ada di rumahsakit ketika mereka tiba.

Suryadarma amat dahsyat oleh kejadian itu, kata Utami. Selain kehilangan sahabat sekaligus bawahan-bawahan yang cakap, dia sebagai pemimpin AURI yang masih kehilangan kehilangan pencetak-pencetak kader penerbang-penerbang baru. Praktis hanya tinggal Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi yang dapat diandalkan untuk terus menjalankan roda kehidupan AURI.

Sama dengan suaminya, Utami juga dahsyat oleh kejadian tersebut. “Sebelumnya saya merasa ngeri melihat janazah para korban, tetapi rasa itu hilang ketika saya melihat wajah Adisoetjipto dan dr Karbol.

Wajah mereka sepenuhnya utuh, meskipun ada sedikit luka bakar. Namun saya tidak dapat menahan airmata yang bercucuran. Baru beberapa hari lalu mereka berdua datang berpamitan ke rumah, karena akan berangkat ke Singapura untuk tugas penting ini. Sekarang mereka sudah kembali dari menjalankan tugas, tetapi mereka telah tidak bernyawa. Bagaimana saya tidak sedih dan bagaimana saya dapat menahan airmata mengingat itu semua,” kata Utami.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama